Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com

Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com (http://www.kners.com/index.php)
-   Cerpen (http://www.kners.com/forumdisplay.php?f=9)
-   -   Pembahasan Cerpen Bulan Agustus (http://www.kners.com/showthread.php?t=135)

just_hammam 08-06-2009 12:10 AM

Pembahasan Cerpen Bulan Agustus
 
Karena Panah Hujan tidak mulai-mulai pembahasan cerpen, kita ambil salah astu cerpennya untuk dibahas bulan ini.
Pembahasana boleh dari sisi apa saja dengan memperhatikan kesantunan.
Aku ambil cerpennya : Kehilangan Kartini Padamu
link : http://www.kemudian.com/node/230876

21/04/2009 12:23:31

dunia dengan dua sisi
Kau tatap Ia dari pikir-Mu
kadang nyata kadang maya
mendua pada Satu

dan pada-Nya
Kita bergenggaman
Kita berjalan berputar
pada Ia yang menyata Satu
pada bumi yang melingkar mentari

lihat perjalanan Kita kini
adakah Kita
mengiyakan tiada
mengenggankan nyata
seperti halnya Ia meloncatkan Satu ke dua

menjadi setan dan malaikat
Ia menjadi tanah dan langit
menjadi Aku dan Kamu
nyatakah pada-Mu
senyata pada-Ku
bahwa Kita Satu

bahwa Kita adalah Ia
seperti Ia adalah Kita
seperti Aku adalah Kamu

nyatakah pada-Mu
Kita adalah Satu

bahkan pada maya
bahkan pada tiada

karena Kita

: menyatu Alam Semesta

Rohnya berjalan di kegelapan. Gelap yang menjelaskan gelombang yang dulu ketika hidup tak pernah dimengertinya. Jika dulu dia pernah mempelajari eter sebagai missing-link dari penjelasan mengenai pengantar gelombang di ruang hampa, jika dulu dia pernah diberi tahu bahwa benda padat yang berikatan kuat mampu menabrak-nabrak gas yang berpencar-pencar, kini ia baru memahami semuanya.

Dia tertabrak oleh segala benda. Oleh mobil yang melintasinya, tidak ada bunyi klakson ketika mobil itu menabrak tubuhnya. Seperti halnya tidak ada orang yang meminta maaf ketika berlari melewatinya. Dia tertabrak segala. Bahkan oleh gas yang berpencaran.

Jika dulu ketika hidup dia tak pernah tahu di mana tempat tinggal jiwanya kelak ketika mati, maka seperti halnya kini dia juga tak pernah tahu ke mana ia akan menuju. Ia pikir bahwa mungkin banyak jiwa yang sama berjalan pada gelap. Pada gelombang yang entah apa. Namun mereka tak saling melihat, tak saling menyadari.

Ketika pun mereka harus berpapasan, mungkin tidak akan ada yang saling menatap. Mereka berjalan tanpa wujud. Kalaupun keberadaan mereka mampu dijelaskan oleh teori atom di Fisika atau di Kimia, meski juga pada teori kuantum yang merajalela pada otak-otak brilian, apakah mereka sungguh perlu melihat diri masing-masing melalui mata yang berkekuatan mikroskop elektron? Sedang mereka, berjalan tanpa mata. Berjalan tanpa alat indera.

Dia tak tahu dia lepas dari tubuh siapa. Dia hanya masih mengingat bahwa dia pernah bergerak-gerak cepat pada sebuah tangan. Dia pernah berada pada ujung telunjuk seseorang. Pernah digunakan sebagai sesuatu untuk mengetik. Pernah diperintah oleh elektron-elektron pada sel saraf untuk bergerak menunjuk-nunjuk. Namun dia tak tahu ke mana bagian-bagian lain darinya. Entah bagian ibu jari, kelingking, atau jari manis. Entah bagian tangan, kaki, atau kepala.

Dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat bahwa dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Dia pernah mengisi bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. Atau terserahnya.

Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus. Dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun akhirnya dia lepas.

Pada kesadarannya, dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?

*

“Mama nggak mungkin mati!” seorang gadis berteriak-teriak di depan sebuah kamar, “Apa yang bisa Callista lakuin tanpa Mama? Mama jangan mati. Karena cuma Mama satu-satunya yang Callista punya!”

Orang-orang di rumah sakit itu mengelilinginya. Setiap orang yang ada di setiap kamar di sekitarnya keluar untuk menonton gadis itu menangis, berteriak.

Di depan gadis itu, sebuah kamar telah kosong. Sebuah ranjang bersprei putih tanpa penghuni. Tidak ada tiang infus di sana. Kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang.

“Mama...” dia terus menangis, menelungkupkan kepalanya di lututnya. Tidak ada yang peduli. Mereka hanya menonton, iba.

“Mama janji untuk terus hidup. Mama janji untuk selamanya hidup. Kenapa Mama pergi?”

“Kakak kenapa nangis?” Bocah yang biasa diajaknya bermain mendekatinya.

“Mamanya Kakak ini baru saja meninggal. Ayo, Dito, jangan ganggu..” orangtuanya menarik bocah itu. Seolah pada diri seseorang yang baru saja ditinggal mati kerabatnya, masih tersisa bekas-bekas sentuhan malaikat kematian.

“Mama..” isak tangis terakhir darinya.

Awalnya dia tak percaya. Namun ketika orang-orang di sekelilingnya meyakinkan bahwa memang ada yang meninggal, bahwa orang yang meninggal itu adalah orang terpenting dalam hidupnya, dia hanya mampu terdiam. Tidak mengucap sepatah kata. Tidak menangis, tidak berteriak. Seolah ada bagian jiwanya yang lepas yang mencari jiwa dia yang telah meninggal.

Tanpa kesadaran penuh, dia berjalan. Seolah ada yang ingin mengantarnya pada suatu tempat, dia menerobos kerumunan yang sebelumnya menontoninya. Tanpa ditemani siapapun, dia menerobos kegelapan lorong, berpapasan dengan orang-orang yang berjalan. Tanpa seorangpun yang berpapasan dengannya menyadari bahwa dia adalah seorang gadis yang baru saja kehilangan seseorang. Kehilangan sesuatu dari dirinya.

Setelah melewati lorong yang panjang, dia sampai ke sebuah tempat. Ada orang-orang yang dia kenal. Ada yang ribut dan menangis. Ada yang menenangkan yang menangis. Ketika melihat dia hadir di sana, orang-orang itu hanya bisa menatap. Seolah masih ada bekas-bekas nafas malaikat kematian di sekitar orang-orang terpenting yang pernah hadir dalam hidup seseorang yang baru saja meninggal, mereka tak mendekat selangkah pun. Mereka hanya menonton.

Dia menghampiri kerumunan, semakin dekat. Untuk dipeluk, untuk ditenangkan, untuk disadarkan. Untuk dipanggil jiwanya agar berhenti mencari-cari jiwa seseorang yang baru saja mati. Agar jiwa itu kembali lagi ke tubuhnya, agar ia tak ikut mati.

“Memang sudah jalannya.” Dia dipeluk, tapi dia tak merasakan sebuah pelukan.

“Ke mana perginya Mama?” bukan pikirannya yang bertanya, tapi bagian terdalam dari dirinya, bagian yang tak digerakkan oleh kesadaran kepala.

“Beliau meninggal sejam yang lalu.”

Sejam yang lalu. Tanpa menunggu dia hadir untuk mendengar kata-kata terakhir.

Hatinya terlalu sakit untuk harus menangis. Saraf-saraf di kepalanya bekerja semakin rumit. Membantunya agar tidak menangis, untuk menghentikan kerja saraf-saraf perasa di bagian dadanya, karena seolah ada banyak hal mendesak-desak di dalamnya.

“Kenapa?” Dia tidak menginginkan penjelasan medis.

“Kankernya.”

“Kenapa?” Dia masih bertanya.

Orang di depannya memeluknya semakin erat, meraih kepala gadis itu dan meletakkannya di bahunya, “Callista masih punya tante di sini.”

*

just_hammam 08-06-2009 12:13 AM

Orang-orang berbisik. Semakin ribut. Bermain kartu. Mengobrol satu sama lain, sibuk menawarkan minuman dan makanan. Beberapa sibuk membungkus peti jenazah dengan kain panjang dan menempel hiasan-hiasan keemasan rata di sekitarnya.

Dia tidur di sebelah jenazah yang terbungkus kain. Bercerita di sana.

Ketika siang, dia membawa makanan dan minuman yang dulu ketika hidup menjadi kesukaan dari jenazah itu dan meletakkannya di sisinya. Kembali bercerita.

Dalam masa-masa itu, dupa panjang terus menyala. Tidak dibiarkan berhenti. Ketika mati, dupa itu diganti dengan yang lain. Terus hidup sampai saatnya jenazah dikremasi.

Sesungguhnya dia berharap jenazah itu akan hidup, lagi.

“Callista, jangan tidur di sini. Nanti bau formalinnya merusak kerja tubuh Callista.”

Sudah dua hari dia tidur di sana. Hidungnya jadi tidak peka lagi terhadap bau, matanya terkadang perih. Kepalanya makin sering pusing.

“Biarlah.”

*

Jenazah dimandikan. Tubuh yang telanjang. Dulu jenazah itu pernah bercerita pada Callista. Pernah bilang sesuatu di acara permandian jenazah orang lain, bahwa jenazah itu mungkin akan malu jika suatu saat tubuhnya dimandikan telanjang di depan umum.

Callista ikut memandikan. Ritus yang panjang. Termasuk akhirnya melapisi jenazah itu dengan kain beragam warna. Termasuk menutupi kemaluan jenazah dengan kain hitam. Termasuk menutupi rasa malu jenazah itu. Termasuk, ingin sekali memandikan jenazah itu secara personal, supaya tidak ada orang lain menonton jenazah itu telanjang, supaya hanya dia dan jenazah itu. Supaya hanya mereka. Seperti saat-saat mereka dulu mandi bersama. Berdua.

Orang-orang hanya menonton. Orang-orang hanya ingin menonton. Tidak ingin berakting bersamanya. Seolah dalam skenario kehidupannya, hanya ada sedikit tokoh. Bahwa tokoh utama hanya tinggal satu saja. Bahwa tidak ada lagi temannya untuk beradu peran.

*

Katanya, jiwa jenazah itu telah pindah pada sebuah simbol, pada wujud seorang wanita yang dipatungkan. Callista membawanya di atas kepala. Ibu-ibu lainnya membawa benda-benda lain sebagai simbolisme. Entah sebagai simbolisme pengantar yang telah meninggal, entah sebagai iring-iringan yang kelihatan indah.

Sebelum menuju tempat kremasi, ada sebuah ritual khusus yang harus dilakukan. Untuk memutus keterikatan, untuk tidak pernah memimpikan dia yang telah meninggal. Tali dan logam cina dan beras kuning dan beras putih dan mungkin kunyit dan rempah-rempah lainnya, dilempar ke langit, dibenturkan ke telapak tangan, dijatuhkan ke tanah. Ketika itu selesai, katanya, semua keterikatan pada yang telah meninggal seketika.. musnah.

Setelahnya, Callista memimpin di depan. Orang-orang berjalan di belakang. Jenazah diangkat di belakang di dalam sebuah wadah. Orang-orang lainnya memegangi kain putih panjang di atas kepala.

Beberapa kerabat memotret dengan kamera. Turis-turis berniat mengabadikan sebuah momen. Callista mengabadikannya dalam hatinya.

Di tempat kremasi, di tempat dulu dia dan jenazah itu pernah datang ke acara kremasi jenazah lain, dia sampai di sana. Wadah diletakkan. Jenazah dipindahkan, dia disibukkan dengan panggilan orang-orang. Beberapa orang menyibukkan diri dengan memanggil-manggil dirinya sendiri.

Beberapa orang datang untuk menghiburnya. Beberapa orang tersenyum padanya. Beberapa lagi ikut menemaninya terus di sisinya. Semua ritual khusus dilakukan. Jenazah diletakkan di dalam sebuah kotak yang dibentuk dari pelapah pisang. Selang gas dimasukkan dari celah-celah bawah. Orang-orang melempar bunga, daun, banten, uang, dan pakaian ke atas jenazah. Callista melempar sebuah buku gambar.

Di dalam buku gambar itu, ada gambar-gambar rumah. Di dalam buku gambar itu, ada kenangan-kenangan. Pernah ada seseorang yang memuji gambar-gambarnya, warna-warnanya, dan membantunya mewarnai. Dan orang itu telah mati. Dia berharap orang itu akan tinggal di rumah-rumah yang dia gambar di buku gambarnya. Dia berharap orang itu mendapatkan tempat yang layak untuknya di alam sana.

Meski gambar-gambarnya, tidak pernah sebagus pujian orang itu. Karena dia tahu, orangtua yang baik memang selalu memuji anak-anaknya. Orangtua yang baik, selalu ingin berkorban lebih untuk anak-anaknya. Seperti jenazah itu. Yang melakukan apapun untuk Callista, untuk dia bisa mewujudkan cita-citanya.

“Hanya itu saja yang mau diberikan?”

Dianggukkannya kepalanya. Dia tidak mungkin membakar semua baju milik jenazah itu, seperti dia tidak mungkin ikut membakar televisi, mobil, rumah, ijazah-ijazah, dan lainnya. Apa yang dimiliki ketika hidup, tidak mungkin dibawa seluruhnya ke alam kematian.

Dan api mulai dinyalakan. Api mulai membakar. Callista tidak ingin menjauh, tapi dia terus ditarik-tarik untuk menjauh.

Di kejauhan, dia berdoa, menyanyikan doa-doa sekeras-kerasnya. Orang-orang hanya menonton. Tidak ada yang merasa pandai berakting dan mendekatinya.

Dalam tiap baris doa, api semakin berkobar. Hingga yang tersisa hanya tinggal tengkorak dan tulang-tulang. Hingga akhirnya, seluruhnya menjadi abu dan tulang-tulang kecil. Selama itu, dua orang menggenggam tangannya di sisinya. Dua orang, sahabat kentalnya di bangku sekolah.

Beberapa orang pulang. Beberapa lainnya membantunya mengumpulkan abu-abu dan tulang-tulang, menyaring abu dan tulang-tulang. Memunguti tulang-tulang besar, memisahkannya dengan abu-abu, memisahkannya dengan kelam kehidupan.

“Sekarang kita ke laut,”

Sekarang ke laut. Membuang abu, membuang segala yang tersisa.

*

Di laut, semuanya hilang. Semuanya menyatu. Atom-atom pada tulang, atom-atom pada abu, menyatu dengan atom-atom pada air, atom-atom di udara.

Di laut itu, orang yang dia cintai berubah wujud untuk selamanya. Mungkin untuk berjuta atau bermiliar tahun ke depan, baru mereka akan bisa dipertemukan lagi dalam wujud manusia. Ketika atom-atom mereka mengisi lagi perut seorang ibu yang hamil. Ketika kesadaran mereka, dengan kemungkinan kombinasi penciptaan yang tak terhingga, bertemu pada satu titik waktu.

Mungkin kelak tidak sebagai ibu-dan-anak. Mungkin kelak sebagai kekasih.

Atau, mungkin saja mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

Karena pada kehidupan yang sedemikian sebentarnya, entah ada misteri besar apa yang bisa dipecahkan oleh kepala.

***

21/04/2009 15:47:02
CLX7,

: Selamat hari Kartini, Mama.

just_hammam 08-06-2009 12:22 AM

Aku ingin membahas pembukaan pada cerpen ini. Cerpen ini dimulai dengan puisi indah yang maknanya dalam. Masing-masing dari kita dapat menafsirkannya secara berbeda. Bagiku di puisi pembuka cerpen ini, Panah Hujan menggelitik rasa kita tentang ketuhanan, tema yang sangat kuat.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa cerita ini bukan cerita dengan tema ringan, dan konsisten dengan bagian awal dari cerita ini yang coba menggambarkan "dunia lain". Menurutku pembukaan cerita ini cukup menarik, bisa dijadikan contoh nie....hehehe

panah hujan 08-06-2009 09:58 PM

HAAAAAAAAAAHHHH???????

:confused: :eek: :eek: :confused:

panah hujan 08-06-2009 10:00 PM

Maaf, bukannya melalaikan tugas. Tapi saya.....pikir.....saya mesti menyelesaikan beberapa urusan terkait dengan diri saya sendiri. Berhubung banyak rencana saya yang gagal di tahun ini..dan banyak rencana lagi yang harus saya susun dan rombak ulang :(

Terima kasih atas kesediaan Kak Hammam mencomot salah satu cerpen saya untuk dibantai. :o

Selamat membantai :)

d757439 08-06-2009 10:40 PM

Kakak...
Karya kk ini membuat nandi tercengang ..kak mimi keren

fairynee 08-07-2009 03:50 PM

Cerpen ini dibuka dengan pengantar yang menarik. Tapi sebagai pembaca aku sedikit merasa terbanting karena pengantar mengenai "Jiwa yang kebingungan. aku pikir bakal ada dialog panjang mengenai pertanyaan-pertanyaan yang tersaji di awal.
tapi ternyata di bagian selanjutnya adalah penggambaran Callista yang dirundung kesedihan karena kehilangan. Demikian pula selanjutnya adalah penjelasan atas prosesi pemakaman ala budaya Bali lengkap dengan penggambaran emosi dari Callista.
ada sedikit perasaan kehilangan dengan tokoh "jiwa" yang muncul di awal cerita ini.

Kalau boleh memberi saran. bagaimana kalau diberi penutup untuk cerita ini. tapi dari sisi "jiwa" atau "roh" yang adalah roh Ibu Callista. (Sekedar saran dari pembaca awam, hehehe...)

Selebihnya Cerpen ini bagus banget. Aku pun tersentuh dengan puisi yang begitu indah di awal cerita (Seperti kata just Hamman).
apalagi kamu memberi penggambaran mengenai prosesi pemakaman di Bali (Ngaben yach namanya?). Setidaknya kamu sedang memperkenalkan budaya yg terasa asing bagi saya pribadi (Maklum di Medan hal itu tidak ada).

Well, sorry banget bila ada kata yang tidak berkenan. Karena saya menulis sesuai yang saya apresiasikan. selebihnya biar para senior yang mengungkapkan. (Maklum saya tidak punya ilmu yang cukup dalam tulis menulis).

Keep writting.

just_hammam 08-07-2009 10:50 PM

kenapa ya yang nyebut namaku sering salah...namaku pake "m" semua hhehehehe...
oke selanjutnya aku ke alur...
alur di cerita ini maju sehingga mudah menangkap maksud ceritanya. hanya saja pada bagian awal dua kejadian yang bersamaan dengan sudut pandang berbeda (roh dan anak kecil) lumayan membuat pembaca tersesat, hingga saat di pertengahan cerita baru ngeh maksudnya apa.

fairynee 08-08-2009 12:06 AM

Pembahasan cerpen bulan agustus
 
Wah, sorry deh mas hammam. Duh mpe ati2 bgt aku ngetiknya. Mdh2n ga salah deh. Hihi..

just_hammam 08-10-2009 12:21 AM

Ayo kawan...menurutku ini cerpen yang sangat menarik untuk didiskusikan. Masih banyak yang bisa kita gali penokohan, konflik, ide cerita, ending, dialog, masih banyak kan...
:)

rey_khazama 08-10-2009 08:18 PM

cerpen ini adalah cerita pendek.
hahahaha...

just_hammam 08-10-2009 08:27 PM

Quote:

Originally Posted by rey_khazama (Post 1173)
cerpen ini adalah cerita pendek.
hahahaha...

jiah...sepanjang itu kalau cerpen masuk dalam kategori yang panjang kali rey..

08-11-2009 07:45 PM

Quote:

Originally Posted by just_hammam (Post 1149)
Ayo kawan...menurutku ini cerpen yang sangat menarik untuk didiskusikan. Masih banyak yang bisa kita gali penokohan, konflik, ide cerita, ending, dialog, masih banyak kan...
:)

untuk sementara saya sebagai observer saja karena masih bodoh untuk mengomentari cerpen bro and sis di atas :)

just_hammam 08-11-2009 08:53 PM

Observer ya..
jadi hasil observernya apaan??

navigator 08-12-2009 10:37 AM

mngkin ada baiknya panah hujan kasih petunjuk atau cara2 nulis cerpen ke user k.com yg lain,, dari sluruh tubuh cerpen tersebut, ,,panah hujan pny modal utk itu,, cuma cerpennya masih tergolong trlalu panjang... apalagi user2 skrg kan baru2 (ak gak yakin mreka mau baca sluruhnya smpe habis),, cb bikin crita yg lebih pendek sja (kalau memang masi mo eksis di k.com)

just_hammam 08-12-2009 05:46 PM

woo..om navi, di sini kita belajar bareng dengan membahas cerpen, begitu idenya. Masalah panjangnya cerpen, kupikir dalam pembahasan seperti ini justru menjadi daya tarik tersendiri... :)

panah hujan 08-13-2009 02:08 AM

Quote:

Originally Posted by navigator (Post 1247)
mngkin ada baiknya panah hujan kasih petunjuk atau cara2 nulis cerpen ke user k.com yg lain,, dari sluruh tubuh cerpen tersebut, ,,panah hujan pny modal utk itu,, cuma cerpennya masih tergolong trlalu panjang... apalagi user2 skrg kan baru2 (ak gak yakin mreka mau baca sluruhnya smpe habis),, cb bikin crita yg lebih pendek sja (kalau memang masi mo eksis di k.com)

:p
trims sarannya, Kak Navi.. kira-kira saya harus mulai dengan cara apa untuk memberi petunjuk kepada users baru?

terlalu panjang, ya? saya rasa juga begitu. mungkin akan saya jadikan pembelajaran. cerpen berapa kata yang kira-kira baik untuk dipasarkan kepada temen-temen k.com yang baru gabung -- supaya bisa menarik minat baca mereka?

panah hujan 08-13-2009 02:09 AM

Quote:

Originally Posted by just_hammam (Post 1254)
woo..om navi, di sini kita belajar bareng dengan membahas cerpen, begitu idenya. Masalah panjangnya cerpen, kupikir dalam pembahasan seperti ini justru menjadi daya tarik tersendiri... :)

haa! iya, iya!

dan kupikir, cerpenku ini sudah cukup pendek untuk menjelaskan seluruh ide yang terbersit di kepala :D

kupikir aku terlalu nanggung, deh, Kak.. -_-
cerpen iya, cerber iya... harus rambah porsi fakultas lain :p (fakultas novel..hahaha)

trims sudah menjadi moderator yang baik :rolleyes: saya jadi banyak belajar..

panah hujan 08-13-2009 02:11 AM

Quote:

Originally Posted by gadis_bodoh (Post 1225)
untuk sementara saya sebagai observer saja karena masih bodoh untuk mengomentari cerpen bro and sis di atas :)

ayauwh, Neng.. gimme ur comments please? :D

fairynee 08-13-2009 09:51 AM

Quote:

Originally Posted by panah hujan (Post 1287)
:p
trims sarannya, Kak Navi.. kira-kira saya harus mulai dengan cara apa untuk memberi petunjuk kepada users baru?

terlalu panjang, ya? saya rasa juga begitu. mungkin akan saya jadikan pembelajaran. cerpen berapa kata yang kira-kira baik untuk dipasarkan kepada temen-temen k.com yang baru gabung -- supaya bisa menarik minat baca mereka?

sebagai pemula, aku ga milih-milih bacaan koq, khan lumayan buat curi ilmu, hehe...
trus kapan nee, panah hujan mau kasih petunjuk atau cara menulis cerpen. mau dunk...

miss worm 08-13-2009 11:00 AM

akhirnya dimulai juga pembahasan cerpen kita...
 
pertama-tama, terima kasih kepada mas hammam...

kedua, berikut beberapa hasil pembacaan saya. saya akan memulai dari hal-hal kecil dan teknis. setelah itu, baru membahas hal besar (ah tapi mungkin tidak perlu karena yang lain sudah melakukannya).

1. saya berbeda dengan beberapa teman yang sudah komentar di atas. saya justru agak terganggu dengan puisi di awal cerpen. keberadaan puisi itu membuat saya sempat berpikir mas hammam salah posting hahaha. saya lebih suka prosa diawali dengan elemen prosa: kalimat dan paragraf. dengan begitu, kemampuan penulis bisa langsung kelihatan, apakah dia bisa menyedot pembaca sejak awal karya atau tidak.

2. saya mempertanyakan pemakaian 'pada' dalam kalimat-kalimat berikut:
-Ia pikir bahwa mungkin banyak jiwa yang sama berjalan pada gelap. Pada gelombang yang entah apa.
-meski juga pada teori kuantum yang merajalela pada otak-otak brilian
-Dia hanya masih mengingat bahwa dia pernah bergerak-gerak cepat pada sebuah tangan
-Pada kesadarannya, dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?
-dll (kasus serupa banyak sekali, lho, michelle).

mengapa ini saya anggap penting? penulis perlu memerhatikan betul setiap kata yang dia gunakan, yang dia pilih untuk melengkapi kalimatnya. 'di' atau 'pada' atau 'dalam' atau 'kepada' atau 'ke' dst. sekilas memang terlihat sepele (hal sepele memang terlalu sepele untuk dipelajari), tetapi ada pembaca-pembaca tertentu yang cukup peka dan membedakan secara spesifik fungsi kata-kata tersebut.

3. kalimat berikut ini saya nilai tidak perlu: Ketika pun mereka harus berpapasan, mungkin tidak akan ada yang saling menatap.
karena dalam kalimat sebelumnya sudah dikatakan bahwa mereka tidak saling melihat. kalau mereka tidak saling melihat, berarti sudah jelas dong mereka tidak akan menatap. lalu, untuk apa mengulang informasi? jenis kalimat seperti ini boleh disebut sebagai lemak. kalau kata villam, bisa dihilangkan.

4. saya mempertanyakan susunan dan logika kalimat-kalimat berikut (dan sejumlah kalimat lainnya):
-Kalaupun keberadaan mereka mampu dijelaskan oleh teori atom di Fisika atau di Kimia, meski juga pada teori kuantum yang merajalela pada otak-otak brilian, apakah mereka sungguh perlu melihat diri masing-masing melalui mata yang berkekuatan mikroskop elektron? Sedang mereka, berjalan tanpa mata. (mengapa ada tanda koma di belakang kata 'mereka' dalam anak kalimat terakhir?)

-Dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat (atau ingat?) bahwa dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Dia pernah mengisi (nah, ini kontradiktif dengan pemakaian 'pada' di pembahasan di atas ketika penulis ngobrolin tangan dan jari) bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. Atau terserahnya (apa maksud kalimat ini?).

-Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus. (kenapa dua kalimat ini dipisahkan titik? ini bisa merancukan pemahaman) Dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun akhirnya dia lepas.

.... nah, segitu dulu... nanti dilanjut. *belum selesai membaca cerpen michelle dan harus buru-buru off*

just_hammam 08-13-2009 11:50 AM

Pembahasan yang menarik dan mendidik miss worm.

Saya tertarik poin pertama karena saya disebut-sebut heheehehe...
pertama saya harap saya tidak salah posting hehehehe, masak capek-capek copy paste ampe harus dibagi dalam dua posting ternyata puisi, duh merananya diriku.

Kedua saya sepakat dengan alasan yang dikemukakan miss worm. Masuk akal juga. Bukan berarti aku sepakat dengan pendapatnya ya...bingung kan...


Ayo lanjut...

rinitrihadiyati 08-14-2009 11:19 AM

Wah thread ini menarik..
saya mencuri ilmu saja dulu, belum bisa comment ^_^

Shinichi 08-14-2009 01:08 PM

Quote:

Originally Posted by fairynee (Post 1299)
sebagai pemula, aku ga milih-milih bacaan koq, khan lumayan buat curi ilmu, hehe...
trus kapan nee, panah hujan mau kasih petunjuk atau cara menulis cerpen. mau dunk...


Saia mau ndaptar jadi muridna! Ada bangku kosong kan? Ahak hak hak

just_hammam 08-15-2009 12:22 AM

Mari-mari semua ikut....hehehehe

Woi...fokus, balik ke diskusi...
ada yang punya pendapat soal judul ga???

bob1985 08-15-2009 11:01 PM

Aku agak bingung kenapa cerita ini yang masuk untuk didiskusikan. Bukan apa-apa, menurutku cerita ini sudah habis dibombardir kemudian dan di notes penulis di fesbuk lagi. Tapi biarlah, mungkin ada lagi yang bisa didapat dari hal ini.

Jadi, aku membuat pendapatku soal tulisan ini di fesbuk.
--------------------
"Boby Ginting

bagian awal tulisan ini bikin aku mual.lebih mirip pameran isi otak yang menjemukan.

bagian berikutnya bolehlah, meski aku harus setuju dengan benz, bahwa kejelasan lokalitas itu kurang, tapi tidak seperti pernyataan benz sepenuhnya.
Entahlah, mungkin karena aku sudah tahu penulisnya dari bali, maka otakku langsung paham bahwa itu berada di bali.
tapi,
berlainan dengan benz, aku merasa sepertinya penulis sengaja tak terlalu jelas soal lokasi itu, karena ada pemikiran bahwa pembaca "lingkaran dalam" yang sudah paham siapa penulis, dan paham tradisi penulis.

-------------------
Begitu saja.

Sekarang aku membaca lagi tulisan ini, dan aku terpaksa mengatakan bagian awal tetap membuatku mual karena penuh dengan hal-hal yang membuatku jemu. Ini mirip dengan pengetahuan yang bertabrakan (sekali lagi tabrakan: yang menghancurkan) di kepala penulis. Sebagai sebuah pengantar, rumit dan tidak mencerahkan.. Coba baca artikel INI

Bagian kedua: aku terantuk dengan bagian ini:
Quote:

“Kenapa?” Dia tidak menginginkan penjelasan medis.

“Kankernya.”

“Kenapa?” Dia masih bertanya.
Aku menyakini bagian ini masih bisa dipermak, untuk menunjukkan Callista menanyakan sesuatu dengan jawaban yang "bisa diterima". Aku tak peduli apakah cerita ini berdasarkan kisah nyata atau tidak, tapi kupikir bisa membuat logika cerita yang lebih pas. Menurutku deskripsi "dukacita" callista yang tak terima dengan kematian mendadak "sang ibu" (menjadi aneh ketika penyakitnya disebut kanker (bukan penyakit jantung?). Tapi ini pun bisa juga diperdebatkan dengan mengatakan Callista memang tak bisa terima "dengan kematian" bagaimana pun caranya.

Bagian Ketiga
[quote]“Callista, jangan tidur di sini. Nanti bau formalinnya merusak kerja tubuh Callista.”/QUOTE]
Kalimat ucapannya menurutku terlalu kaku.

Bagian keempat dan sterusnya, aku bisa nikmati meski aku juga tidak begitu paham dengan pemakaian kalimat-kalimat berikut :
Quote:

Di laut, semuanya hilang. Semuanya menyatu. Atom-atom pada tulang, atom-atom pada abu, menyatu dengan atom-atom pada air, atom-atom di udara.
Pada akhirnya, aku berandai-andai mengapa penulis mesti melukiskan kematian ibu Callista dengan cara demikian. Aku berasumsi si penulis sedang membuat kalimat perbandingan untuk melukiskan betapa spektakulernya kehancuran hati itu saat kehilangan 'seseorang yang dicintai" seperti ibu. Terlalu spektakuler mungkin, hingga aku merasa bahwa ini seperti diary yang diubah jadi sudut pandang orang ketiga.

NB: Soal judul? Aku enggak terlalu peduli dengan judul sih, meski banyak suara cerewet soal ini. Tapi memang, aku merasa judulnya aneh. Apakah penulis yang salah kaprah atau memang kebanyakan kita yang latah, menautkan Kartini sebagai simbol apa pun dalam perjuangan perempuan Indonesia. Ya, Kartini memamg harus diakui sebagai perintis pendidikan buat perempuan di Indonesia. Tapi, agak heran ketika Kartini dipakai dalam penyebutan "kehilangan ibu" menjadi kehilangan kartini. Kartini tidak pernah merasakan jadi ibu. Mungkin dia nyaris menjadi ibu, tapi tak pernah merasakan jadi ibu, karena meninggal saat melahirkan anak pertamanya. Jadi simpulkan saja sendiri:D:D

just_hammam 08-16-2009 07:45 AM

hehehehe..maafkan ketidaktahuanku kalo ini sudah dibombardir di pesbuk Bob, tapi tidak apa-apalah, yang punya kagak keberatan, yang baru juga banyak disini...(iya ga sih??) hehehe

someonefromthesky 08-17-2009 02:33 PM

Wah, saya terkesan dengan cerita pembukanya (bukan yang bagian puisi, tapi yang paragraf tentang roh itu). Bagian itu bertautan dengan ide yang juga disinggung pada bagian akhir, mengenai konsep reinkarnasi, dan mungkin juga bayangan penulis mengenai proses reinkarnasi itu sendiri (yang ia coba jelaskan dengan istilah-istilah fisika, alih-alih menggunakan istilah keagamaan). Namun kebiasaan si penulis untuk menggunakan gaya puitis terus terasa dan muncul pada paragraf-paragraf berikutnya, kadang membuat indah, kadang membuat aneh. Keanehan itu seperti yang sudah dibahas oleh Miss Worm mengenai kata sambung dan pemenggalan kalimat yang menurutnya kurang normal.

Tapi kalau dalam kalimat
Sedang mereka, berjalan tanpa mata.
menurut saya meskipun penggunaan koma dalam kalimat itu bukan seperti dalam kalimat majemuk, hal itu bukan suatu masalah. Penempatan koma di situ membuat pembaca berhenti sejenak, yang mengakibatkan adanya penekanan pada kata mereka. Penulis mungkin ingin agar pembacanya membaca dengan nada dan intonasi seperti itu. Walaupun memang hal semacam ini biasanya lebih umum digunakan di dalam dialog, bukan dalam narasi. Tapi ya, kalau buat saya sih peraturan semacam itu boleh dilanggar asalkan masih enak dibaca.

Just my opinion.;)

just_hammam 08-17-2009 09:10 PM

opini yang menarik, melihat sisi lain kesalahan koma...hehehehe

Tapi gini om dari angkasa, kan bicara soal peraturan yang dilanggar, kalo boleh tahu bunyi peraturan tersebut resminya bagaimana? jadi kita bisa belajar bareng.
Oke om dari angkasa?

someonefromthesky 08-18-2009 02:47 AM

Quote:

Originally Posted by just_hammam (Post 1658)
opini yang menarik, melihat sisi lain kesalahan koma...hehehehe Tapi gini om dari angkasa, kan bicara soal peraturan yang dilanggar, kalo boleh tahu bunyi peraturan tersebut resminya bagaimana? jadi kita bisa belajar bareng. Oke om dari angkasa?

Nah, kalo soal peraturannya mending tanya Miss Worm aja yg lebih ahli... hehe.

just_hammam 08-19-2009 09:47 PM

walah... kok gitu

just_hammam 08-25-2009 10:02 AM

wah...pembahasan macet, ayo cepetan sebelum ganti bulan nanti ganti cerpen....
oke mulai mendekati konklusi deh, apa poin bagus dari cerpen ini dan apa poin kurangnya???

nobita 02-16-2016 04:57 PM

replay & comment
 
perfect gan cerpennya, aku suka








_____________________________________
Kamera Canon |Harga Rumah Di Bintaro


All times are GMT +7. The time now is 07:40 AM.

Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2020, Jelsoft Enterprises Ltd.