Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > RUANG DISKUSI > Puisi
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 11-22-2012, 09:20 PM
toebugz toebugz is offline
Anak Muda
Join Date: Jun 2010
Location: tasikmalaya
Posts: 29
Default Kritisasi Puitisitas Puisi

Sekadar membuka ruang diskusi untuk meningkatkan kritik positif demi Puitisitas Puisi. Maka, sayah sisipkan artikel yang cukup menyentil saya dalam perjalanan belajar, pun sampe saat ini.

http://oase.kompas.com/read/2010/04/09/02044120/Oase ...

Mari berdiskusi atasnya

---

Oase, Menjaga Puitisitas Puisi
Oleh: Gendhotwukir


Puisi bukan hanya milik penyair. Cerpenis dan novelis pun kini mendalami dan mengeksplorasi diksi secara serius. Artis, pengusaha dan penulis prosa tak ingin ketinggalan dan terkesan ramai-ramai ingin menjadi penyair pula. Dunia industri yang kian pesat seiring arus globalisasi pun menunjukkan kecenderungan yang sama dan tidak mau ketinggalan seperti jelas terungkap dalam iklan yang kian padat dan menukik. Kata-kata dan kalimat dalam iklan kalau sungguh kita amati sering mencapai kadar kata-kata yang estetis. Tak terhitung jumlahnya kalimat iklan yang menunjukkan kadar kata-katanya puitis dan benar-benar diolah dengan rasa bahasa.

Penyair Joko Pinurbo (Jokpin) sadar betul dengan fenomena di atas. Pernyataan ini diungkapkannnya dalam bincang-bincang dengan sebuah media cetak dan lantas melihatnya sebagai sebuah tantangan untuk menjaga kualitas dan bahkan tertantang untuk meningkatkan kualitas puisi-puisinya agar tidak berada di bawah standar iklan. Fenomena yang ditangkap oleh Jokpin tentu saja menjadi tantangan bagi setiap penyair dewasa ini. Olahan kata-kata dari penyair harus lebih tajam dan menukik.

Gempuran globalisasi yang terwujud dalam komunikasi yang kian cepat dan pesat tentu saja menguntungkan, tetapi di sisi lain bisa jadi menggerus ketahanan seorang penyair yang wajib menjaga puitisitas puisi-puisinya. Menguntungkan karena arus publisitas puisi kian cepat, tidak perlu lagi menunggu hitungan hari dan jam, tetapi hanya dalam hitungan detik saja puisi sudah bisa tersiar baik melalui webseite, milis, blog, facebook, friendster dan media publikasi lainnya. Kenyataan yang sulit dibayangkan ketika di masa lalu belum ada yang namanya internet.

Sisi kurang baiknya bisa dikatakan terjadinya euforia publisitas puisi yang tidak menjaga puitisitas puisi. Kalau hal ini yang terjadi moga saja tulisan ini bisa dijadikan semacam pecutan sekaligus titik diam sejenak untuk merenungkannya. Dunia maya atau cyber memang benar-benar menjadi media pembelajaran. Hal demikian tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun. Banyak penyair yang menjadikannya sebagai media pembelajaran dan bahkan pendalaman.

Aturan main dunia maya memang tidak jelas. Si pelaku cyber bertanggungjawab atas diri dan publisitas karya-karyanya. Aturan yang tidak jelas ini bisa jadi merongrong kualitas karya. Meski demikian, tak dapat dipungkiri munculnya fenomena bahwa akan lahir penyair-penyair yang berkualitas dari dunia cyber karena ketekunan dan keseriusaannya mendalami puisi.

Pengendapan

Pergulatan menjaga puitisitas puisi tentu saja terkait dengan pergulatan kisah-kisah baru, metafor baru, bentuk-bentuk baru, citraan baru, aforisma baru dan sensasi-sensasi baru. Pergulatan ini mengandaikan ada kedinamisan, ketekunan dan ketajaman seorang penyair dengan dunia kepenyairannya. Tuntutan ekplorasi terus menerus dari seorang penyair menjadi diktum yang tidak boleh diemblemkan begitu saja tanpa pengaktulaisasian. Kecerdasan eksplorasi dan kekentalan dalam olah rasa bahasa akan melahirkan kesegaran-kesegaran baru. Citra puisi yang segar dan menggetarkan akan lahir. Kesegaran yang dimaksud tentu bukanlah kesegaran yang bersifat sensasi sesaat dan artifisial.

Eksplorasi membutuhkan pengendapan. Hal inilah yang tentunya berseberangan dengan semangat euforia. Euforia ditandai dengan perasaan yang menggebu-gebu dan cenderung tidak terkontrol. Pengendapan ditandai dengan kontrol diri dan penenangan diri. Pengendapan di dunia kepenyairan sangat dibutuhkan terkait dengan usaha pencapaian karya puisi yang estetis.

Ada kecenderungan bahwa dunia cyber mengikis budaya pengendapan ini. Budaya instan dan arus cepat dalam publikasi kadang kurang memperhatikan unsur pengendapan. Karena seperti dikejar-kejar target ada kecenderungan penyair yang secara gampang mempublikasikan karya-karyanya. Saking produktifnya, sehari bisa tercipta beberapa puisi. Tidak hanya di blog saja, kecenderungan lain yang paling nampak biasanya terlihat di dunia milis. Saking semangatnya, seseorang bisa mempublikasikan banyak puisinya yang tercipta pada hari yang sama. Sah-sah saja dan tidak ada larangan.

Penulis tentu saja tidak akan menilai secara gampang dan gegabah karya-karya cyber. Fakta menunjukkan banyak penyair yang memanfaatkan dunia cyber tidak untuk gagah-gagahan tetapi untuk usaha eksplorasi tanpa terjebak pada euforia. Penulis hanya menangkap satu fenomena dasar bahwa produktivitas bisa mengikis ketahanan diri terkait mutu artistik. Kerangka logis fenomena ini yaitu ketergesaan yang mengabaikan pengendapan mengakibatkan kelahiran karya yang belum matang. Setengah matang atau tanggung.

Ibarat makanan yang seharusnya dimasak sampai matang tetapi disuguhkan setengah matang, maka puisi akan terasa aneh, ganjil dan membuat tidak nyaman. Keanehan, keganjilan dan ketidaknyamanan ini tentu jauh dari yang dimaksud dengan kesegaran-kesegaran baru sebagai wujud keberhasilan pencapaian mutu artistik. Mutu artistik tidak harus terkesan gagah dan elitis dalam diksinya karena kesederhanaan bisa jadi tidak akan menghilangkan puitisitas tapi justru membantu audiens menangkap makna dan sampai kepada pesan. Tentu saja tidaklah gampang menjadi sederhana yang puitis. Tidak gampang menjadi sederhana tetapi tetap menjaga puitisitas. Untuk mencapai taraf ini diperlukan kerja keras si Penyair.

Produktivitas bagi beberapa penyair sebenarnya terkesan seperti momok dan hantu yang menakutkan. Hal ini terkait dengan tanggung jawab mutu artistik dan pencapaian estetik. Mereka sadar dari banyak pengalaman bahwa produktivitas banyak ditunggangi oleh alam pikir yang dangkal. Mereka ini dalam situasi produktif biasanya mengimbanginya dengan pengendapan dan mengolah karya-karya yang dihasilkan lebih dalam. Mereka menahan diri dan tidak akan buru-buru ikut arus publisitas yang serba instan dan cepat. Dalam hal ini penulis melihat bahwa di sinilah letak tanggung jawab estetik bagi setiap penyair. Bukan untuk gagah-gagahan tetapi untuk kualitas.

Pembantaian

Sikap ketat penyair menjaga puitisitas puisi populer pula dengan istilah “pembantaian”. Pengendapan tidak hanya boleh berarti diam begitu saja, tetapi perlu ada usaha pendalaman dan penajaman. Pengendapan adalah kerangka proses kreatif. Hal ini terwujud dalam istilah “pembantaian” sesuai penngalaman Raudal Tanjung Buana ketika berada di Sanggar Minum Kopi Bali bersama Umbu Landu Paranggi dan Frans Nadjira.

Di Sanggar Minum Kopi ada tradisi kreatif. Dialog karya dan pembantaian terjadi di sana. Puisi biasa dibongkar dan dirombak. Puisi dibantai. Raudal Tanjung Banua asal Padang dalam antologinya Gugusan Mata Ibu (Bentang, 2005) membenarkan bahwa puisi-puisi semua penyair di Sanggar Minum Kopi Bali sudah biasa dibongkar dan dirombak. Kalau puisi kerap diasumsikan sebagai anak kandung spiritual penyairnya, tentu akan ada saja rasa kecewa dan sakit hati. Tapi anehnya, tidak ada di antara mereka yang kapok, malah selalu mencandu untuk datang membawa puisi baru, kemudian dibantai lagi beramai-ramai.

Proses kreatif di Sanggar Minum Kopi Bali tersebut tidak jauh beda dengan proses kreatif yang dialami Dr. JJ Kusni di Paris ketika masa mudanya masih di Yogyakarta. Pengalaman ini dituturkan pada penulis melalui korespondensi email ketika penulis masih di Jerman dalam kesempatan diskusi karya puisi. Tradisi seniman Yogya serta Republik Sastra-Seni Bringharjo menyebutnya sebagai proses saling asih, saling asah dan saling asuh.

Pengendapan sudah selayaknya diikuti dengan penajaman entah itu dengan pembantaian atau proses saling asih, asah dan asuh. Kalau media cyber dilihat secara positif sebagai ladang pembantaian terkait isi dari pengendapan maka sudah selayaknya media cyber tidak hanya dilihat sebagai media publikasi. Pembantaian dan dialog karya yang terjadi di media cyber perlu ditindaklanjuti dengan kelahiran puisi baru yang telah direvisi. Belum pernah ada penyair di milis yang dengan jujur dan berani setelah puisinya dikritik lalu mempublikasikan hasil revisinya. Yang banyak terjadi justru kemunculan puisi-puisi lain dari penulis yang sama.

Kebiasaan merombak dan menjungkirbalikkan puisi tidak berkembang secara efektif dan edukatif di dunia maya. Yang terjadi paling banyak ungkapan kesan senang tidak senang saja atas puisi. Hal demikian tentu saja wajar mengingat dunia maya yang hanya punya aturan maya, kecuali dalam aturan jerat hukumnya yang bisa menjerat seseorang untuk diseret ke meja hijau terkait pencemaran nama baik.

Pengendapan dan pembantaian adalah cara yang jitu untuk menegaskan kualitas puisi. Pengendapan dan pembantaian bukanlah dua alur yang berbeda dalam proses kreatif, melainkan sinergi usaha para penyair sebagai wujud tanggung jawabnya dalam pergulatan sengitnya menjaga puitisitas puisi.

* Gendhotwukir, penyair dan jurnalis dari Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM). Penulis dengan alamat blog: http://gendhotwukir.multiply.com ini pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch – Theologische Hochschule Sankt Augustin, Jerman.
Reply With Quote
  #2  
Old 11-24-2012, 03:04 AM
Titikecil Titikecil is offline
Anak Muda
Join Date: Jan 2010
Posts: 1
Default

sebagaimana dalam dunia nyata kita punya mereka yang kita percaya mampu memberikan kritik jujur nan tulus, maka di sini pun seperti itu
ada juga om yang bilang, kalo pengendapan yang berlarut bisa menurunkan emosi yang susah payah telah dibangun saat penuangannya, tapi ga tau juga deng!!
saya termasuk yang kesentil juga dengan artikel ini meski benar gelar penulis atopun penyair itu belum menyemat pada nama saya :P #haiyah
Reply With Quote
  #3  
Old 11-24-2012, 11:52 AM
toebugz toebugz is offline
Anak Muda
Join Date: Jun 2010
Location: tasikmalaya
Posts: 29
Default

Pengendapan ya?
Kalok sayah bepikirnya gini, seorang aktor kenapa bisa seenaknya memunculkan emosi kapanpun ia mau... Kenapa penyair tidak? Ketika tulisannya mau di edit, lalu emosinya dimunculkan kembali.
Tetapi ada yang bilang juga, bahwa pengendapan itu bukan soal emosi, tapi lebih kepada 'justru' mengeluarkan aura penulisan dari pikiran penulis, lalu penulis mengambil tempat sebagai pembaca untuk mengkritisi tulisannya sendiri.
Bagaimana menurut temens lain?

Tapi bagaimanapun, pengendapan saya rasa merupakan hak penulis, jadi mari kita kembalikan kepada iklim menulis masingasing.

Saya lebih memilih topik 'pembantain' demi menjaga puitiaitas puisi. Saya mungkin lebih berbahasa 'kritisasi' sehingga yang diharapkan adalah munculnya motivasi untuk memberikan kritik positif dan saran pada karya puisi yang muncul, tanpa menghilangkan sisi apresiasinya.

Last edited by toebugz; 11-24-2012 at 12:14 PM.
Reply With Quote
  #4  
Old 10-28-2013, 04:05 PM
arsenal mania's Avatar
arsenal mania arsenal mania is offline
Anak Muda
Join Date: May 2008
Location: Jakarta
Posts: 275
Send a message via Yahoo to arsenal mania
Default

ada seorang senior yang saya anggep asoy (buayadayat) bilang gini:
"Siapa atau apa yang berhak menyebut diri atau disebut penyair? lebih dalam lagi, siapa atau apa yang berhak memberi gelar penyair?

makanya saya lebih suka manggil "penulis"
cheers
Reply With Quote
  #5  
Old 10-29-2013, 05:14 AM
Shinichi's Avatar
Shinichi Shinichi is offline
Panglima
Join Date: Aug 2007
Location: London, Tokyo, Daneldram
Posts: 2,166
Send a message via Yahoo to Shinichi
Default

Quote:
Originally Posted by arsenal mania View Post
ada seorang senior yang saya anggep asoy (buayadayat) bilang gini:
"Siapa atau apa yang berhak menyebut diri atau disebut penyair? lebih dalam lagi, siapa atau apa yang berhak memberi gelar penyair?

makanya saya lebih suka manggil "penulis"
cheers
yang berhak adalah TUK/ KUK. ahak hak hak.
btw, saya setuju dengan pengendapan dan pembantaian.
tapi, keduanya itu saya rasa masih terlalu sedikit dibahas di sini
__________________
Shinichi bersabda,
marilah kita membaca, menulis dan mengapresiasi di situs kemudian.com,
lalu
Jadilah pembaca yang budiman, penulis yang tekun dan pengkritik yang santun. Peristiwa 1:1

Reply With Quote
  #6  
Old 10-29-2013, 10:21 AM
arsenal mania's Avatar
arsenal mania arsenal mania is offline
Anak Muda
Join Date: May 2008
Location: Jakarta
Posts: 275
Send a message via Yahoo to arsenal mania
Default

saya setuju sama Pengendapan, cuma pembantaian?
hm..., disebutkan di atas bahwa puisi bisa dikatakan sebagai anak kandung spiritual bagi "penulisnya", maka siapa yang rela membiarkan anaknya diacakacak? sejujurnya, saya tidak akan protes andai seorang mengkritisi "anak kandung spiritual" saya itu, tetapi merombaknya beramairamai? nanti dulu.

saya pribadi sih, selalu dapat kritik dan saran dari luar (baik itu di k.com atau dari mahkluk nyata yang saya temui seharihari), tetapi saya tidak akan membiarkan siapapun (bahkan penyair paling canggih sekalipun) untuk merombak habis tulisan saya (kecuali saya memang bekerja di bidang itu. kalo menentang editor bisa berabe urusannya).

saya pikir dengan membiarkan tulisan lama itu tetap ada, akan memberikan petunjuk seberapa jauh perkembangan yang saya capai. maksudku, misal saya buat puisi, terus dikommen sama orang lain (yang membangun nih ya, bukan muji atau ngatain doang), yang saya perhatikan adalah kommennya. lantas untuk "anak kandung" selanjutnya harus lebih baik dari yang saya buat sebelumnya. istilahnya, sebagai pengingat ke-katrok-an saya tempo lalu lah, atau sebagai penanda sejauh mana progress saya sejauh ini. yah well, bukan berarti nggak boleh dirombak sih, saya pernah kok nyoba seperti itu (maksudnya minta tolong seseorang (waktu itu mas khrisna) buat ngerombak, dan hasilnya lebih bagus. tapi saya malah kesel sendiri, level doi kejauhan dari saya), tapi karena faktor idealisme, saya mengambil masukannya saja, sisanya saya lempar ke pembaca. yeah, cara barbar buat belajar, tapi kalo buat saya ada efeknya, masa buat orang nggak sih?

cheers
Reply With Quote
  #7  
Old 10-29-2013, 11:05 AM
Shinichi's Avatar
Shinichi Shinichi is offline
Panglima
Join Date: Aug 2007
Location: London, Tokyo, Daneldram
Posts: 2,166
Send a message via Yahoo to Shinichi
Default

pembantaian yang dimaksud itu jelas untuk kemampuan orang tua si anak kandung. karya lama ya dibiarin begitu aja. nggak baik itu diapa-apain setelah adanya pembantaian. ya, kira2 begitulah :|
__________________
Shinichi bersabda,
marilah kita membaca, menulis dan mengapresiasi di situs kemudian.com,
lalu
Jadilah pembaca yang budiman, penulis yang tekun dan pengkritik yang santun. Peristiwa 1:1

Reply With Quote
  #8  
Old 10-29-2013, 11:28 AM
arsenal mania's Avatar
arsenal mania arsenal mania is offline
Anak Muda
Join Date: May 2008
Location: Jakarta
Posts: 275
Send a message via Yahoo to arsenal mania
Default

gitu yak?
baiklah sepertinya saya sudah salah mengerti konsepnya -_-
maap yak
Reply With Quote
  #9  
Old 10-29-2013, 11:35 AM
Shinichi's Avatar
Shinichi Shinichi is offline
Panglima
Join Date: Aug 2007
Location: London, Tokyo, Daneldram
Posts: 2,166
Send a message via Yahoo to Shinichi
Default

Quote:
Originally Posted by arsenal mania View Post
gitu yak?
baiklah sepertinya saya sudah salah mengerti konsepnya -_-
maap yak
mungkin begitu konsepnya. tp itu menurut saya kok. ahak hak hak.
__________________
Shinichi bersabda,
marilah kita membaca, menulis dan mengapresiasi di situs kemudian.com,
lalu
Jadilah pembaca yang budiman, penulis yang tekun dan pengkritik yang santun. Peristiwa 1:1

Reply With Quote
  #10  
Old 10-30-2013, 06:24 PM
arsenal mania's Avatar
arsenal mania arsenal mania is offline
Anak Muda
Join Date: May 2008
Location: Jakarta
Posts: 275
Send a message via Yahoo to arsenal mania
Default

Quote:
Originally Posted by Shinichi View Post
mungkin begitu konsepnya. tp itu menurut saya kok. ahak hak hak.
semenamena dah
Reply With Quote
Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 06:48 PM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.