Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > Artikel > Kitab Kepenulisan
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 08-31-2012, 02:24 AM
xentra xentra is offline
Anak Muda
Join Date: Jun 2010
Posts: 11
Lightbulb [Wajib Bagi Pemula] Mengapa Tulisan Membosankan dan Cara Mengatasinya

Ah, ini adalah artikel pertamaku mengenai tulis-menulis, meskipun sudah lebih dari dua tahun berkecipak (baca: berkecimpung) dalam dunia tulis-menulis. Harap maklum bila banyak kalian temui kesalahan dan kekeliruan di dalam artikel ini. Saya masih belajar. Jangan lupa tinggalkan kritik, saran, dan masukannya.





Jadi, mengapa tulisan kalian bisa menjadi?



Mungkin menurut kalian tulisan kalian sudah menarik, jauh dari kesan membosankan. Tapi seringkali pembaca tak sepaham dengan penulis. Lalu bagaimana cara mendeteksi tulisan kalian membosankan? Berikut ciri-cirinya dan cara mengatasinya:



Judul yang Tidak Semestinya.

Kenapa harus judul? Yah, karena judul menggambarkan cerita. Hindari pembuatan atau pemberian judul cerita yang tidak semestinya. Macam-macam judul yang tidak semestinya:



Judul yang tidak ber-EYD

Contoh:

‘4L3X’, ‘Gotcha si K0m0d0’, ‘L!l!put’, dan judul dengan bahasa alay lainnya. Gunakan judul ber-EYD, jangan terlalu dibuat-buat, membuat pembaca malas mampir ke cerita kalian. Gunakan huruf kapital di awal kata judul, kecuali kalimat penghubung hal ini tidak berlaku. Contoh: ‘Untukmu, Kupetik Bintang’, ‘Hanya Kamu, Perawan yang Kusayang’.



Judul yang tidak pas dengan isi cerita.

Contoh:

‘Helikopter dan Baling-Balingnya’ (isi ceritanya tentang seorang pembuat helikopter yang mati dicekik. Nggak nyambung banget, deh.)

Isi cerita kalian tentang apa, tumpahkan dalam beberapa kata yang mewakili cerita kalian. Perhatikan juga genre yang kalian anut. Apakah romance, thriller, komedi, sci-fi, fantasy, atau teenlit? Jangan pergunakan judul yang tidak mewakili genre cerita.



Judul yang pasaran.

Contoh:

‘Aku Cinta Kamu’, ‘Petualang Andien di negeri Dongeng’, dan judul cerita yang telah banyak dipakai. Yah, meskipun kalian hendak menulis cerita ‘Cinderella’ tapi kalian kreasikan alurnya, hindari memberi judul yang sama dengan cerita yang kalian modifikasi. Kan bisa tuh dikasih judul ‘Sepatu Kaca, Di Mana?’. Lebih menggelitik rasa ingin tahu pembaca, kan? Sekaligus berhubungan dengan cerita, kan? Be creative, pokoknya!



Judul yang kelewat panjang

Ini format judul yang masuk format ‘judul yang berlebihan’.

Contoh:

‘Zeptune itu Dewa dan dia melawan anaknya, Kyun’, ‘Jika Cinta Katakan Cinta, Jangan Jaim Begitu Dong’, ‘Serangan Zombie Di mana-mana, apa yang kau akan lakukan?’, dan judul yang panjang lainnya. Hindari penggunaan judul lebih dari lima (5) kata.



Struktur Paragraph.

Struktur paragraph mempengaruhi cerita. Terutama paragraph pembuka. Paragraph pembuka haruslah menarik, biar pembaca terus membaca dan membaca sampai akhir cerita. Jangan buat pembaca illfeel dengan paragraph yang lompat-lompat. Maksudnya lompat-lompat itu berhubungan dengan narasi. Kayak ada yang ‘mak jlek’, ada yang kurang, narasi cerita jadi nggak mulus.



Variasikan paragraph. Paragraph nggak perlu panjang (atau tebal?) dan berisi banyak kalimat. Paragraph seperti itu membuat mata pembaca cepat lelah dan akhirnya nggak konsentrasi terhadap cerita kalian. Mereka (pembaca) mungkin bisa menyelesaikan cerita kamu, tapi nggak tahu isi ceritamu. Kalian nggak mau hal itu terjadi, kan? Maka dari itu, jangan buat paragraph yang panjang (atau tebal). Ada kok paragraph yang isinya Cuma satu kalimat, bahkan yang Cuma satu kata pun ada. Contoh:



Ah, aku mencarinya. Dia di mana? Ke mana?



Di saat anaknya sakit parah, dia malah pergi. Mungkin pergi berjudi. Mabuk-mabukan dengan teman-temannya. Atau barangkali tidur dengan wanita lain. Ah, ayah macam apa dia itu? Tidak tahu diuntung! Sesal aku sudi menikah dengannya.



Lihat? Ada paragraph pendek di atas, kan? Paragraph pendek ini berguna untuk penegasan atau penekanan. Pokoknya variasikan!

Struktur Kalimat.

Membahas struktur kalimat membuatku ingin bertanya pada kalian. Apa yang kalian ketahui tentang struktur kalimat? S-P-O-K? Kalimat aktif? Ah, hanya itu?



Dua unsur yang membentuk kalimat, yaitu: subjek dan predikat. Kehadiran unsur objek dan keterangan hanyalah sebagai unsur pembantu, tapi juga sebagai unsur yang membuat cerita menarik. Tinggal variasikan saja letak subjek, predikat, objek dan keterangan. Atau ubah-ubahlah menjadi kalimat aktif atau pasif. Jangan lupa pula membuat induk dan anak kalimat.



Contoh variasi letak unsur pembentuk kalimat:

S-P = Aku mengunyah.

S-P-O = Aku mengunyah daging itu.

S-P-O-K = Aku mengunyah daging itu dengan pelan.

K-S-P-O = Dengan pelan, aku mengunyah daging itu.

O-S-P-K = Daging itu aku kunyah dengan pelan.



Jangan khawatir saat membuat kalimat pendek. Asalkan syarat utama—subjek dan predikat—terpenuhi, kalimat kalian dianggap benar. Tapi ingat, variasikan. Jangan buat kalimat panjang melulu, dan jangan buat kalimat pendek melulu.



Ada satu tambahan. Lihat paragraph dibawah.



Dia kenapa, sih? Kok jadi berubah gitu? Nyebelin! Kemarin baik, sekarang ngeselin. terus, besok apa?



Nah, ada kalimat yang enggak memenuhi syarat, kan? Tapi kalimat itu nggak salah. Kalimat ‘Nyebelin!” hanya terdiri dari satu kata, tapi karena menjelaskan kalimat sebelumnya, kalimat satu kata itu memenuhi syarat paragraph padu. Jadi dianggap benar.



Kalimat aktif atau pasif?

Aktif = Diel menghujam jantung Wu.

Pasif = Jantung Wu dihujam Diel. (atau) Jantung Wu dihujam oleh Diel.



Induk kalimat... Anak kalimat?

Saya yang sedang menatap senja tak menyadari kehadiran Jack.

Kalau dipecah, akan ada dua buah kalimat, yaitu: ‘Saya yang sedang menatap senja’ dan ‘Saya tak menyadari kehadiran Jack’



Induk kalimat = ‘Saya tak menyadari kehadiran Jack’ (atau biasa disebut kalimat utama)

Anak kalimat = ‘Saya yang sedang menatap senja’ Saya = subjek

Sedang menatap = predikat

Senja = objek



Jadi, anak kalimat itu kalimat yang ada dalam kalimat, atau menjelaskan (memperinci kalimat). Contoh di atas adalah anak kalimat yang menerangkan subjek kalimat utama. Anak kalimat biasa digunakan untuk membuat kalimat panjang. Jadi, gunakan seperlunya, ya?

Variasi Kata.

Kata yang sama. Yang itu-itu mulu membuat pembaca cepat bosan. Contoh:



Aku menggandeng tangan Frei dan mengajak Frei lari, pergi dari sini. Frei membuka matanya. Tatapannya menggambarkan sebuah keengganan, tapi aku memaksa. Kita harus pergi secepatnya sebelum jalak-jalak pemakan daging itu membunuh kami.Tidak ada yang menginginkan kau mati, Frei!



Ada kata yang muncul lebih dari satu kali, kan? Iya, kata ‘pergi’ dan nama ‘Frei’. Sebaiknya hindari penggunaan kata yang sama dalam satu paragraph. Itu membosankan.



Kalian bisa mengganti kata ‘pergi’ dan nama ‘Frei’ dengan padanan yang lain. Sehingga menjadi:



Aku menggandeng tangan Frei dan mengajaknya lari, kabur dari sini. Gadis itu membuka matanya. Tatapannya menggambarkan sebuah keengganan, tapi aku memaksa. Kita harus pergi secepatnya sebelum jalak-jalak pemakan daging itu membunuh kami.Tidak ada yang menginginkan kau mati, Frei!



Dan nama ‘Frei’ disebutkan di akhir paragraph untuk sebuah penekanan atau sebagai pengingat bahwa gadis yang diajak ‘aku’ bernama Frei. Bisa dimaafkan karena mempunyai tujuan.



Tips bagi kalian yang kebingungan memvariasikan kalimat:

Banyak baca, catat, hafalkan kata-kata dan padanan kata.
Buka-buka Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Minta bantuan mesin pencari padanan kata. Bisa software komputer atau web online penyedia jasa mencari padanan kata. Contoh: www.sinonimkata.com (contoh lainnya silakan searching, banyak kok)



Konflik yang Nggak Banget.

Dibuat-buat, nggak masuk akal dan sering muncul di cerita-cerita lain, harus dihindari. Misal konflik yang sering muncul adalah kehadiran sebuah penyakit yang diderita karakter utama. Konflik yang nggak masuk akal itu seperti munculnya kelompok beruang kutub yang menyerang kota di daerah gunung berapi (tanpa adanya penjelasan yang masuk akal).



Dunia itu luas. Permasalahan banyak di dunia, kan? Masak nyari konflik yang beda nggak bisa. Be creative.



Mungkin bisa kalian ambil konflik yang sering muncul di cerita-cerita lain, tapi kalian buat beda. Alurnya, sudut pandangnya atau apanya kek, terserah. Yang penting menarik!



Perhatikan Ending.

Ending atau akhir cerita haruslah berkesan bagi pembaca. Jangan buat pembaca kecewa dengan akhir cerita yang kalian buat. Bisa-bisa pembaca ogah mampir dan baca tulisan kalian. Bisa berabe, kan?



Pokoknya harus masuk akal. Jangan tiba-tiba cerita usai. Jalan cerita harus mulus dari awal sampai akhir. Jangan memaksakan pembaca untuk menerima akhir cerita yang kalian buat. Jangan tiba-tiba cerita berakhir, padahal konfliknya baru seru-serunya. Ah, pertimbangkan dan pertimbangkan. Lebih baik mana, menulis cerita bagus tapi makan waktu lama atau menulis yang penting jadi? Kalau kalian memilih menulis yang penting jadi, kalian melewatkan banyak hal.



Menulis itu ribet, memang. Semua dipikirkan. Mulai dari judul, konsep, genre, isi cerita, amanat yang hendak disampaikan, alur, nama tokoh, setting, ending....haduh...pokoknya terus menulis. Practice makes perfect (begitu kata para senior kemudian.com)



Jangan lupa....membaca, menulis dan mengapresiasi (semboyan kemudian,com)

Reply With Quote
Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 03:04 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.