Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > Artikel > Kitab Kepenulisan
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 01-09-2012, 02:03 PM
pikanisa pikanisa is offline
Anak Muda
Join Date: Dec 2006
Posts: 14
Default Saat Puisi ≠ Curcol, adalah Saat ... (tanggapan thread curcol)

Saya perhatikan banyak sekali tulisan curcol yang dikomentari pedas, dan si penulis tidak terima. Well, beginilah tanggapan saya.



HB Jassin sendiri mencatatkan yang dirumuskan oleh AS Dharta, bahwa sajak setidaknya mempunyai beberapa unsur

1. Bisa ditemuinya diri si penyair, individualitasnya dalam sajaknya.
2. Mempunyai daya haru; suatu hal yang sangat subjektif, ditentukan oleh situasi apresiasi dan kejiwaan si penyair maupun si penerima
3. Kepadanya atau geladenheid, dalam arti setiap kalimat dalam sajaknya merupakan idea tau formulasi yang baru

Sajak yang baik memang tidak meninggalkan satu unsur rasa sebagai unsur terutama.untuk digali. Namun sajak yang memiliki nilai tambah tidak hanya menitikberatkan soal rasa, namun juga memancing pembaca untuk melibatkan “pennginderaan” untuk memancing penciteraan imaji..

Penciteraan yang baik adalah yang mampu menggiring pembaca samar-samar ke sebuah tematik yang samar-samar namun tetap menyisakan benang merah. Untuk melakukan itu semua diperlukan keruntutan dalam membangun “penciteraan” pembaca. Sajak yang terlalu “gelap” akan membuat pembaca berputar-putar pada “onani” imajinasi dan tidak bisa mencapai klimaks. Sedangkan sajak terlalu terang membuat pembaca malas “ejakulasi”. (maaf bahasan jadi XXX)

HB. Jassin pernah mengkritik bahwa tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam ciptaan seni masih kurang diperhatikan seniman kita. Ini disebabkan tanggung jawab mereka pertama-tama ditujukan kepada publik, yang kebanyakan dipergunakan sebagai topeng untuk memaksakan pendapat dan tanggapan yang tidak benar.

Suatu seni yang rendah mutunya, berbentuk yang tidak mendukung isi, suatu bentuk yang kosong, atau bentuk yang diketahui isinya palsu. Sebab, hemat Jassin, suatu tanggung jawab yang sesuai dengan tanggung jawab kepada diri sendiri adalah satu tanggung jawab yang murni luar dan dalam. Juga dikritiknya seniman yang tak kuat pribadinya dan lari dari kewajibannya terhadap masyarakat.

Baginya justru soal-soal masyarakat inilah yang harus dihadapi seniman, diatur dan diselesaikan. Dalam hal inilah timbul ketegangan-ketegangan, konflik-konflik, yang mendapat penyelesaiannya dalam hasil-hasil ciptaan. Sebab hasil kesusastraan yang berarti dimana ada pertikaian antara pengarang dan sekelilingnya. (Kepada Seniman Universal-Kumpulan Esei A.S Dharta; p.95)

Mari bergeser kepada pencetusan dan bagaimana pengapresiasian kritik karya. Kalau bicara soal pengalaman, saya termasuk orang yang “nyinyir” dalam mengomentari dan menanggapi komentar. Tak banyak yang tahu bahwa saya pun sering mendapatkan komentar pedas.

“puisimu jelek!”, “Ini puisi?” (padahal setengah mati saya semedi menulisnya)

Bukan berarti saya malu (yaa di awal pasti malu) tapi saya juga mencari tahu kembali mencocokkan tulisan saya dengan literatur. Intinya penulis yang baik adalah seseorang yang mampu menjadi orang sebagai berikut

1. Pembaca yang tekun dan tidak malas : saya tidak mau serta merta menelan mentah-mentah kata senior, saya berusaha mencocokkan dengan literatur yang saya punya dengan wacana dia. Otomatis, saya berusaha membaca banyak literatur maupun karya-karya orang lain
2. Pencuri momen, penangkap detail: saya tidak pernah menyianyiakan tangkapan momen sedetikpun. Berlatihnya sangat sederhana, saya mencatat apa saja pengalaman “di depan” saya. Bukan yang mengada-ada. Belajar detail. Dulu saya sampai mencatati benda2 di sekitar saya sampai pada ukuran yang terkecil. Misal : dua buku telaah sastra di samping laptop saya. Buku kesatu posisi terbuka kemudian saya ganjal dengan buku kedua agar halaman tidak terbalik, buku itu memuat tentang kriterium sajak. Halaman yang terbuka adalah halaman 114-115. Dan bla bla bla. Hal ini berfungsi melatih kita me”wadah”I perasaan-perasaan abstrak ke dalam bentuk konkret.Begitu juga dengan menangkap rasa.
3. Pendengar sejati : bukan berarti tanggapan orang itu saya tolak mentah-mentah, maka saya berusaha menyerap sebanyak mungkin dan berusaha mencari sendiri, dan tidak mengandalkan “dikte” dari pemberi tanggapan.
4. Rajin buka KBBI dan EYD : ini soal memperkaya diksi dan memperbaiki struktur, pembaca mudah bosan bila kita memakai kata-kata yang itu2 saja.
5. Jangan “ngawur” atau menanggapi komentar secara ngawur bila tidak tahu, lebih baik cari tahu dulu pada sumber2 yang tepat. Tidak ada satu pembenaran pun yang menyatakan “Puisi itu bebas”. Seperti kata TS. Pinang :

“Kalau saya menulis seperti ini apakah puisi?

%#$%%^R^&&(*
%$%^^&%&(^*)*()+(_)
DFTT R^&^^&*&)_&Y*
ED%^C$CV%(^)B
…”

Jadi awas, menulis puisi itu memang tidak mudah, tapi juga tidak akan susah kalau banyak “berlatih” dan memperluas wacana.

Salam
Reply With Quote
Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 09:39 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.