Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > Artikel > Kitab Kepenulisan
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 04-01-2011, 08:19 PM
Ari KPIN's Avatar
Ari KPIN Ari KPIN is offline
Anak Muda
Join Date: Apr 2010
Location: Paris van Java
Posts: 85
Default SEPUTAR NASKAH -Bagian II-

SEPUTAR NASKAH
-Bagian II-
0leh Ari KPIN


b) Konflik
Konflik, menyaran pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh (-tokoh) cerita, yang jika tokoh (-tokoh) itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya, Selain itu, konflik dalam cerita juga bisa mengacu pada sesuatu yang dramatik, yaitu pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan. Pada hakikatnya, konflik adalah peristiwa. Dan sebagaimana peristiwa, konflik pun terdiri atas konflik fisik dan konflik batin.

Konflik fisik, bisa berupa konflik personal yang disebabkan adanya pembenturan antara tokoh dengan lingkungan alam. Misalnya, konflik/permasalahan yang dialami seorang tokoh akibat adanya banjir besar, kemarau panjang, dan lain-lain. Bisa juga berupa konflik sosial, yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antar manusia, atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antar manusia. Ia antara lain berwujud masalah pembunuhan, penindasan, percekcokan, peperangan, atau kasus-kasus hubungan sosial lainnya.

Konflik batin (konflik kejiwaaan), di pihak lain adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh (atau tokoh-tokoh) cerita. Ia merupakan konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri, jadi lebih merupakan permasalahan intern seorang manusia, misalnya terjadi akibat adanya pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-harapan, atau masalah-masalah lainnya.

c) Klimaks
Terdapat kaitan erat dan logis antara konflik dan klimaks. Klimaks hanya mungkin ada dan terjadi jika ada konflik. Konflik demi konflik, baik eksternal maupun internal, jika telah mencapai titik puncak menyebabkan terjadinya klimaks. Klimaks adalah saat di mana konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat/hal itu merupakan sesuatu yang tak dapat dihindari kejadiannya. Pada proses selanjutnya menyodorkan pilihan untuk menentukan bagaimana permasalahan (konflik) itu akan diselesaikan.

Masih berbicara seputar plot, berdasarkan urutan waktu, plot terdiri atas:
Plot kronologis (lurus, maju, atau progresif). Pada plot ini peristiwa-peristiwa yang dikisahkannya bersifat kronologis: peristiwa-peristiwa diikuti (menyebabkan) terjadinya peristiwa-peristiwa kemudian. Dimulai dari tahap awal, tengah, dan akhir.
Plot tak kronologis (sorot balik, flash back, regresif). Pada plot ini, cerita tidak dimulai dari tahap awal, melainkan mungkin dari tengah, atan bahkan akhir, baru kemudian awal.
Campuran kedua plot di atas.

5) Latar

Latar merupakan salah satu unsur pokok dalam sebuah naskah. Latar (setting) menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Berdasarkan definisi di atas, latar dapat dibedakan ke dalam latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam naskah. Unsur tempat yang dipergunakan misalnya nama kota, desa, jalan, hotel, penginapan, kamar, dan lain-lain. Latar waktu berhubungan dengan masalah "kapan" terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam naskah. Masalah "kapan" tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah.

Adapun latar sosial, menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan prilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam naskah. Prilaku atau tata cara kehidupan sosial masyarakat tersebut dapat berupa kebiasaan hidup, adat-istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan lain-lain. Latar sosial ini juga berhubungan dengan status sosial tokoh, misalnya rendah, menengah, atau atas.

Meskipun unsur latar dibeda-bedakan seperti di atas, namun kehadirannya dalam suatu naskah biasanya merupakan satu kesatuan. Namun demikian, perlu juga dicatat bahwa tidak semua naskah menghadirkan ketiga latar di atas. Banyak naskah yang hanya menonjolkan salah satu latar tersebut.

6) Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan penulis naskah sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam naskah untuk dihadirkan lewat pementasan.

Sudut pandang dalam naskah mempersoalkan siapa yang menceritakan dan dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Dengan demikian, pemilihan bentuk persona yang dipergunakan, di samping mempengaruhi perkembangan cerita dan masalah yang diceritakan, juga kebebasan dan keterbatasan, ketajaman, ketelitian, dan keobjektifan terhadap hal-hal yang diceritakan.

Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat yang secara sengaja dipilih penulis naskah untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya, termasuk di dalamnya pandangan hidup dan tafsirannya kepada kehidupan, penawaran nilai-nilai, sikap, kritik, dan lain-lain.

Menurut Nurgiyantoro (1995: 256-268), macam-macam sudut pandang adalah sebagai berikut:

Sudut pandang persona ketiga "dia". Pada sudut pandang ini, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Sudut pandang "dia" dibedakan ke dalam dua golongan, yaitu "dia" mahatahu yaitu jika narator dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh "dia", dan "dia" sebagai pengamat, ialah jika narator terikat, mempunyai keterbatasan pengertian terhadap tokoh "dia" yang diceritakan itu, jadi bersifat terbatas.

Sudut pandang persona pertama "aku". Dalam sudut pandang ini narator adalah seorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si "aku" tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa dan tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar, dialami, dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada apresian. Sudut pandang ini terbagi dua, yakni "aku" menduduki peran utama (jadi tokoh utama protagonis), dan "aku" menduduki peran tambahan, jadi tokoh tambahan protagonis.

Dalam mengidentifikasi sudut pandang, ada beberapa pertanyaan yang jawabannya dapat dipergunakan untuk membedakan sudut pandang tersebut, yaitu:
 Siapa yang berbicara kepada apresian (penulis naskah dalam persona ketiga atau pertama, salah satu pelaku dengan "aku", atau seperti tak seorang pun)?
 Dari posisi mana cerita itu dikisahkan?
 Saluran informasi apa yang dipergunakan penulis naskah untuk menyampaikan ceritanya kepada apresian (apakah kata-kata, pikiran, atau persepsi penulis naskah, atau kata-kata, tindakan, pikiran, perasaan, persepsi tokoh)?
 Sejauh mana penulis naskah menempatkan apresian dari ceritanya (dekat, jauh, berganti-ganti)?

7) Bahasa

Bahasa merupakan sarana pengungkapan sastra. Untuk menyampaikan dan mengungkapkan gagasan dalam naskahnya kepada apresian, penulis naskah mengolah segala potensi bahasa. Potensi bahasa yang dikembangkan dan digunakan penulis naskah dalam karya berbentuk naskah (dalam hal ini untuk pementasan drama) adalah unsur style (gaya bahasa) dan bentuk penuturan/percakapan yang berupa monolog dan dialog.

a) Style
Style (gaya bahasa) pada hakikatnya adalah teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan. Style ditandai oleh ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata, struktur kalimat, bentuk-bentuk bahasa figuratif, dan lain-lain. Ciri-ciri formal kebahasaan tersebut dapat disebut sebagai unsur-unsur style.

Kajian style sebuah naskah dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur style tersebut. Secara lebih lengkap, unsur-unsur style atau yang dalam istilah Abrams (1981: 193) disebut stylistics features, antara lain terdiri atas unsur leksikal, gramatikal, dan retorika.

Unsur leksikal yang dimaksud sama pengertiannya dengan diksi, yaitu penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh penulis naskah. Sedangkan unsur gramatikal menyaran pada pengertian struktur kalimat.

Adapun retorika adalah suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetis sekaligus efektif untuk mengungkapkan gagasan (Nurgiyantoro, 1995: 295-296). Dengan demikian, retorika sebenarnya berkaitan dengan pendayagunaan semua unsur bahasa, baik yang menyangkut masalah pilihan kata dan ungkapan, struktur kalimat, penyusunan dan penggunaan bahasa kias, pemanfaatan bentuk citraan, dan lain-lain yang semuanya disesuaikan dengan situasi dan tujuan penuturan.

b) Bentuk Penuturan: Monolog dan Dialog
Sebuah naskah drama umumnya dikembangkan dalam dua bentuk penuturan/percakapan: monolog dan dialog. Pengungkapan bahasa dengan gaya monolog (yakni penuturan yang berbentuk percakapan oleh seorang pemeran) maupun dialog (pengungkapan cerita melalui penyajian percakapan antara dua orang tokoh atau lebih), pada hakekatnya adalah pengisahan cerita yang bersifat menceritakan, telling yang dapat berupa pelukisan dan atau penceritan tentang latar, tokoh, hubungan antar tokoh, peristiwa, konflik, dan lain-lain.***

Sekian dulu ya.
Salam,
Ari KPIN
__________________
Sedikit Corat-Coret
Reply With Quote
Reply

Tags
ari kpin, artikel, naskah, tulisan

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 05:51 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.