Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > Artikel > Kitab Kepenulisan
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 12-30-2013, 10:04 AM
farhanw farhanw is offline
Junior Member
Join Date: Dec 2013
Posts: 1
Default 7 Kebiasaan buruk para penulis yang sangat tidak efektif by Scott Nicholson

Banyak persoalan kecil yang membuat isi novel tersebut yang vital menjadi kebalikannya. Bahkan beberapa penulis pemula percaya kesalahan kecil itu tidak akan merusak kesempatan mereka, seolah tak sadar bahwa mereka bersaing dengan banyak naskah di tempat yang sama.

Inilah 7 kesalahan kecil yang selalu terulang yang menjadi bumerang dalam cerita novelnya sendiri.

1. Pemakaian tanda koma.
Pahami EyD , dan kalimat majemuk dalam membangun sebuah kalimat. Jika kamu menyisipkan kalimat majemuk pada tengah-tengah kalimat menggunakan tanda koma, mungkin kamu akan menggunakan tanda koma kembali untuk menutup kalimat. Jangan seenaknya menambahkan koma karena suatu alasan. Tanda titik lebih baik. Tulislah kembali kalimat tersebut jika perlu. Jika kamu mendapatkan masalah dengan no.1, belajarlah tanda koma.
Contoh :
- Dalam satu minggu, ikan-ikan tersebut tidak diberi makan oleh pemiliknya, sehingga semuanya mati. (karena menggunakan banyak koma)
+ Ikan-ikan tersebut tidak diberi makan oleh makan oleh pemiliknya selama satu minggu. Semua ikan itu akhirnya mati. (Tanpa tanda koma)

2. Penggunaan kata dia.
Beberapa penulis menghindari penyebutan nama karakter disebabkan membuat cerita menjadi kurang natural, namun kejelasan harus diperhatikan dari semua yang ditulis. Kamu tidak ingin pembacamu berhenti dan menggambarkan kata “dia” dengan pikirannya sendiri. Jika pembacamu semakin sering berhenti, dia mungkin menghentikan membaca novelnya
Contoh :
- “Naruto dan Sasuke bertarung, tiba-tiba dia menggunakan Rasengan.” (Meskipun sudah jelas, Rasengan adalah jurus andalan Naruto, tetapi kata “dia” bisa memiliki penafsiran berbeda. Mungkin saja, yang mengeluarkan Rasengan adalah Sasuke. Itu baru dua, bagaimana jika tiga atau lebih? Makin pusing bukan si pembaca, bukan. )
+ “Naruto dan Sasuke bertarung, tiba-tiba Naruto mengeluarkan Rasengan.”(Kalimat ini lebih baik digunakan.)

3. Pemilihan kata
Tidak ada salahnya menggunakan “kata si A” terus menerus, karena pembaca mudah menerima kata tersebut dan merupakan standar dalam pembicaraan. Tetapi, “bisik si A, teriak si A, dll” lebih baik karena reaksi si tokoh lebih terlihat. Untuk sound effect, jangan panjang-panjang seperti Sss... untuk mendesis
Hindari pemakaian kata-kata yang terlalu formal, jika tidak digunakan semestinya. Masa bicara ke guru, ngomongnya salam hormat.
Hindari pula kata-kata yang tidak efektif dan panjang. Karena kata-kata tersebut membuat tempo dalam cerita menjadi pelan, sehingga keseruan cerita menghilang. Contohnya : A berlari dengan sangat cepat menyerang B, tentu beda tempo dengan A berlari menyerang B.

4. Pengunaan tanda seru.
Kurangi tanda seru dan gunakan ketika diperlukan. Secara umum, tanda seru dapat menjadi efektif apabila digunakan seminimal mungkin, namun dapat menjadi cepat membosankan jika berlebihan atau jarang.
Ketergantungan pada tanda seru membuat kurangnya kekuasaanmu dalam mendeskripsikan tindakan. Meskipun begitu, jika novel anda berada dalam keadaan klimaks novel atau situasi genting dalam cerita, maka tanda seru memiliki tugas yang penting.
Jadi, janganlah membuat beberapa tanda seru dalam satu kalimat.
Contoh :
[Ketika normal]
- “Perhatian! Obat yang anda bawa jangan dahulu diminum.” (Kata seru di atas membuat pendeskripsian agak terbatas.)
+ “Perhatian pada setiap warga, obat yang anda bawa jangan dahulu diminum.” (Kalimat diatas tanpa tanda seru namun semakin jelas deskripsinya)
[Ketika situasi menegangkan contohnya ketika perang]
- “Awas, Dia akan menembak ke arah kepalamu.” (Kalimat di atas meskipun jelas tetapi membuat cerita menjadi sedikit tidak logis, masa ketika perang ada orang yang mencoba memberitahu si A, si B harus menunggu dulu hingga dialognya habis baru menembak.)
+“Awas!” (Kalimat di atas meskipun tidak jelas tetapi tetapi membuat situasi menjadi agak logis dari sebelumnya)

5. Sudut Pandang (POV)
Sudut pandang adalah salah satu unsur dasar dalam novel. Jika sudah ditemukan sudut pandangnya, maka cerita akan bergerak dengan mudah kesana. Untuk itu, cari tahu siapa yang menceritakan dan tetap dengan karakter tersebut kecuali ada pergeseran sudut pandang yang mendesak.
Untuk orang ketiga terbatas, pastikan karakter itu tidak tahu hal-hal yang terjadi di luar jangkauannya. Pastikan pula karakter itu tidak tahu apa yang dipikirkan karakter lain, kecuali ada kekuatan seperti telepati.
Untuk orang ketiga serba tahu memberikanmu kekuatan penulisan sebagai pencerita, mengetahui semua dan melihat semuanya, tetapi kelemahannya ialah kurang melibatkan emosional pada para pembaca . Jadi, kurang disarankan untuk novel romantis, dan sebagainya
Jika menggunakan orang pertama, maka Anda berperan ganda dan terbatas hanya untuk “Aku”, pikiran, dan apa yang dirasakan karakter.
Menggunakan orang kedua, paling sulit dan ceritanya lebih meminta perhatian pembaca.
Pencampuran sudut pandang pertama, kedua, ketiga, dan serba tahu dapat membuat karir dan ceritamu akan terancam.

6. Penjelasan yang kurang tajam
Penulis pemula cenderung banyak menggunakan kata seperti “Dia melihat” layaknya cerpen. Namun kata diatas, bukan mendeskripsikan situasi yang terjadi, namun hanya membiarkan situasi itu terjadi. Akibat dari kata tersebut adalah si pembaca seperti tidak ikut terhadap situasi tersebut.
Jika kamu sudah ahli dalam sudut pandang, maka masalah itu merupakan pekerjaan yang sangat mudah.
Contoh:
- Bayu menjatuhkan batu dan batupun retak. (Pembaca seperti tidak ikut dalam cerita karena yang melihat batu retak dan menjatuhkannya ialah ”dia”.)
- Batu terjatuh dari genggaman Bayu. Crakk.. Batu langsung retak. (Pembaca seperti ikut cerita karena yang melihat batu retak adalah pembaca dan menjatuhkannya adalah “dia”.)

7. Terlalu mendeskripsikan tokoh.
Terlalu banyak hal yang tidak perlu, hal-hal sepele dan deskripsi dapat menjadi bumerang untuk novelmu di awal cerita. Pastikan deskripsi itu dimasukkan karena ada alasan, dan berhati-hati dalam memasukkan banyak deskripsi fisik sebelum pembaca dapat berimajinasi sendiri tokoh yang ada. Selain itu, masukkan fakta dalam karakter tersebut
Apapun penjelasannya, tidak diperbolehkan menjelaskan secara detail-detailnya. Misalnya makan, dimulai dari membuka tempat nasi, memasukkan lauk pauk, memakan nasi, lalu mencuci tangan dan diakhiri minum air itu tidak diperbolehkan dengan kata makan saja pembaca pasti ingat hal tersebut. Selain itu, hindari kegiatan-kegiatan yang dirasa tidak perlu contoh pergi ke kamar mandi, kecuali jika ada kejadian menarik yang diceritakan.
Contoh :
[Pendeskripsian tokoh]
- Andi berusia 14 tahun memiliki jerawat yang menganggunya dengan rambut hitam (Memang bagus dalam pendeskripsian namun terasa membosankan bagi para pembaca.)
+ Andi berusia 14 tahun memiliki phobia terhadap sesuatu yang kotor misalnya jerawat. (Deskripsi di atas sangatlah bagus dan akan menarik pembaca karena terdapat fakta.)

8. Kebiasaan tidak menulis (Tambahan)
Dalam dunia ini terdapat dua penulis, penulis yang berhasil dan penulis gagal. Maka jadilah penulis yang baik!

Sumber : E-Book WRITE GOOD OR DIE
Reply With Quote
Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 11:32 PM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.