Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > Artikel > Kitab Kepenulisan
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 04-01-2011, 08:16 PM
Ari KPIN's Avatar
Ari KPIN Ari KPIN is offline
Anak Muda
Join Date: Apr 2010
Location: Paris van Java
Posts: 85
Default SEPUTAR NASKAH -Bagian I-

SEPUTAR NASKAH
oleh Ari KPIN

Salam.

Sebelumnya mohon maaf bila daku salah menempatkan tulisan ini. Sedikit tergugah melihat ada thread yang diperuntukkan untuk artikel (walau akhirnya jadi semacam ajang forum tanya jawab dilihat dari banyaknya kawan-kawan yang bertanya ini-itu di thread artikel ini –bukan di Ruang Diskusi--).

Berbincang perihal naskah –sedikit masukan buat yang akan membuat naskah drama--, yang mana berkaitan nantinya dengan representasi dalam bentuk pergelaran. Berikut daku kemukakan sedikit saja gambaran umum ke arah itu.

Secara umum, representasi mengandung pengertian penghadiran karya seni oleh seniman. Namun, makna ini bisa menjadi luas apabila kita menengok sejarah kemunculan istilah ini. Tentu akan membutuhkan banyak waktu untuk sekedar berbincang seputar representasi ini, untuk itu kupersingkat ke arah yang lebih berkaitan dengan kebutuhan penulisan naskah Anda. Yakni: Ada dua cara untuk memberikan representasi.

Pertama. Representasi pasif, yaitu memberikan penggambaran kenyataan di luar naskah seperti apa adanya kenyataan itu tanpa diberi makna (tanpa diberi misi/tujuan tertentu) oleh pengarangnya (kita sebagai penulis). Artinya, kita hanya mendeskripsikan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Kedua. Representasi aktif, penulis naskah memberi makna (misi/tujuan) terhadap kenyataan yang digambarkannya. Pemaknaan tersebut bisa berupa kritik terhadap kenyataan tersebut, bisa juga berupa dukungan terhadap kenyataan tersebut. Mengenai bentuk kritik itu sendiri bisa berupa gugatan atau hanya mempermasalahkan.

Apa yang telah dikemukakan di atas, bisa disimpulkan sebagai berikut. Naskah yang nanti kita buat adalah penggambaran (pencerminan) yang melambangkan kenyataan. Dalam pencerminan ini, kita sebagai penulis naskah mendasarkan diri pada pengetahuan dan pengalaman lingkungan hidup kita (masyarakat). Dalam pencerminan ini, penulis naskah dapat hanya sekedar mendeskripsikan kenyataan tersebut, dapat pula mengubahnya, memutarbalikannya, atau membuatnya sebagai kenyataan khayali yang baru. Dalam pencerminan ini pun, penulis naskah tidak sekedar melukiskan kondisi yang sebenarnya, tetapi dapat pula melukiskan kondisi yang diimpikan (diidealkannya), atau justru menolak sama sekali. Dengan demikian, yang direpresentasikan dalam naskah itu nantinya bisa hanya terdiri atas aspek nilai sosial, dapat pula nilai ideal penulis naskah, dapat juga kedua-duanya.

Selanjutnya, kita berbincang sedikit seputar naskah untuk acuan pementasannya nanti. Sebuah naskah, dilihat dari segi unsur-unsur yang membentuknya, terdiri atas: peristiwa cerita (alur/plot), tokoh cerita (karakter), tema cerita, suasana cerita (mood dan atmosfir cerita), latar cerita (setting), sudut pandang cerita (point of view), dan gaya bahasa.

Lebih luasnya lagi, unsur-unsur pembangun naskah dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur intrinsik (unsur-unsur yang membangun naskah yang tadi diutarakan), dan unsur ekstrinsik, yakni unsur-unsur di luar naskah tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme naskah, seperti biografi penulis naskah atau keadaan subjektivitas individu penulis naskah yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan mempengaruhi naskah yang ditulisnya.

Unsur ekstrinsik berikutnya adalah psikologi, baik berupa psikologi penulis naskah (yang mencakup proses kreatifnya), maupun psikologi pembaca, keadaan lingkungan masyarakat (seperti ekonomi, politik, dan sosial), dan juga pandangan hidup suatu bangsa termasuk dalam unsur ekstrinsik karena dianggap berpengaruh terhadap karya naskah.

Mari kita sedikit mengarahkan perbincangan pada unsur intrinsik.

1) Tema

Tema di dalam naskah yang akan dibuat, pada intinya adalah ide sebuah cerita. Penulis naskah dalam menulis cerita dalam naskahnya, bukan sekedar mau bercerita, tapi mau mengatakan sesuatu kepada apresiannya. Sesuatu yang mau dihadirkannya itu bisa suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya tentang kehidupan, atau komentar kehidupan. Pada hakikatnya, tema adalah makna, ide, atau gagasan dasar sebuah cerita.

2) Tokoh (Penokohan)

Berbicara mengenai tokoh dalam sebuah naskah, sering terkait dengan istilah-istilah lainnya seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi. Tak jarang istilah-istilah tersebut digunakan bergantian dan dianggap memiliki pengertian yang sama.

Sebetulnya, istilah-istilah di atas menyaran pada pengertian yang berbeda. Istilah "tokoh" menunjuk pada orangnya, pelaku cerita. Watak/karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti ditafsirkan oleh apresian. Dengan kata lain, watak/karakter lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Adapun penokohan dan karakterisasi (sering juga disamakan artinya dengan perwatakan) menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu dalam sebuah naskah pementasan.

Dari uraian di atas sedikitnya tergambar perbedaan antara tokoh-penokohan, watak-perwatakan, karakter-karakterisasi. Akan tetapi, agar lebih jelas dan tegas maksud dari tokoh dan penokohan, di sini akan sedikit daku kemukakan definisinya.

Tokoh cerita adalah orang (-orang) yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (Abrams, 1981: 20; Nurgiyantoro, 1995: 165).

Adapun penokohan memiliki pengertian yang lebih luas daripada tokoh sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakannya, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita. Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Jones, 1968: 33; Nurgiyantoro, l995: 165).

3) Pembedaan Tokoh

Di atas telah tergambar pengertian tokoh. Selanjutnya kita sedikit berbincang mengenai pembedaan tokoh. Pembedaan tokoh ini perlu dikemukakan karena ketika kita membaca sebuah karya naskah (dalam hal ini untuk dipentaskan), kita akan dihadapkan pada sejumlah tokoh yang dihadirkan di dalamnya. Mengetahui penggolongan tokoh dapat memudahkan kita memahami hal-hal yang bersangkut paut dengan permasalahan tokoh ini.

Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah naskah dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan. Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita, tokoh dapat dibedakan ke dalam tokoh utama (center character, main character) dan tokoh tambahan (peripheral character).

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam sebuah naskah. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian/peristiwa maupun yang dikenai kejadian. Peranan tokoh ini tergolong penting dan ditampilkan terus menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita.

Adapun tokoh tambahan, merupakan tokoh yang pemunculannya dalam keseluruhan naskah lebih sedikit, dan ia hadir dalam keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung.

Untuk mengetahui penokohan dalam naskah pementasan, dapat dilihat dari cara penamaan, pemerian, pernyataan atau tindakan tokoh lain, percakapan dialog dan monolog, dan tingkah laku.

4) Plot

Plot merupakan istilah teknis yang mengaitkan kejadian-kejadian dalam cerita di dalam naskah. Oleh karena itu, plot menyatakan serangkaian kejadian yang saling berkaitan. Urutan kejadian itu dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.

Dalam pembicaran plot, ada 3 unsur yang harus diperhatikan. Ketiga unsur tersebut adalah peristiwa, konflik, dan klimaks. Peristiwa, konflik, dan klimaks adalah 3 unsur yang amat esensial dalam pengembangan plot. Eksistensi plot itu sendiri sangat ditentukan oleh ketiga unsur tersebut.

a) Peristiwa
Istilah peristiwa atau kejadian bisa disepadankan dengan kata action dan event dalam literatur berbahasa Inggris. Action (aksi, tindakan) merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh (seseorang) tokoh (manusia), misalnya memukul, memarahi, dan mencintai. Adapun event bisa lebih luas cakupannya sebab dapat menyaran pada sesuatu yang dilakukan dan atau dialami tokoh manusia dan sesuatu yang di luar aktivitas manusia, misalnya peristiwa alam seperti banjir, gunung meletus, atau sesuatu yang lain. Action dan event dapat dirangkum menjadi satu istilah, yakni peristiwa atau kejadian.

Dalam suatu naskah, peristiwa dimanifestasikan lewat perbuatan, tingkah laku, dan sikap tokoh-tokoh (utama) cerita. Bahkan, pada umumnya peristiwa yang ditampilkan dalam cerita tak lain dari perbuatan dan tingkah laku para tokoh, baik yang bersifat verbal (gerak/fisik) maupun ilustrasi.

(BERSAMBUNG KE BAGIAN II)
__________________
Sedikit Corat-Coret
Reply With Quote
Reply

Tags
ari kpin, artikel, naskah, tulisan

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 05:51 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.