Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > Artikel > Kitab Kepenulisan
Register Forgot Password

Closed Thread
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 07-17-2010, 02:28 PM
someonefromthesky's Avatar
someonefromthesky someonefromthesky is offline
Kisanak
Join Date: Nov 2007
Location: Bandung
Posts: 627
Post Cerita Cinta Horor?

Asik, thread pertamax! Ini tulisan pendek yg saya ambil dari blog saya.

Cerita Cinta Horor?

Apakah sulit menulis cerita cinta? Bisa ya dan tidak. Walaupun tema percintaan dalam cerpen dan novel adalah tema yang paling sering kita jumpai, namun pada kenyataannya tidak semua orang bisa menulis cerita percintaan. Terutama cerita cinta yang sesuai dengan selera pasar novel-novel pop generasi sekarang, bila selera umum kebetulan berbeda dengan selera pribadi kita.

Bagaimana mungkin orang yang biasa menulis cerita horor mampu menulis cerita cinta remaja? Meskipun kedua genre tersebut sama-sama populer, tapi keduanya sangat-sangat berbeda. Keduanya bisa digabungkan, tapi tidak mudah untuk berpindah dari satu ekstrim ke ekstrim yang lain. Mungkin, hal itu karena kecenderungan pola pikir yang dilibatkan jauh berbeda. Contohnya, secangkir teh.

Apa yang dibayangkan oleh penulis romance ketika melihat sebuah cangkir yang berisi teh? Mungkin ada bekas cetakan lipstik di bibir cangkir itu. Seorang wanita pernah minum dari cangkir tersebut di sebuah ruang tamu, dimana ia bertemu dengan seorang pria yang ia cintai. Semenjak sang wanita pergi, sang pria menyimpan cangkir teh beserta cetakan lipstik yang selalu ia jaga agar tidak pudar. Baginya, itu adalah simbol dari kenangan yang tak sanggup ia lupakan, dan ia akan selalu menyimpannya hingga suatu saat wanita itu kembali. Kemana wanita itu pergi? Tampaknya ia menikah, dengan sahabat sang pria, dan sekarang sudah bercerai. Tapi sang wanita tak punya alasan untuk kembali, karena baginya, sekali ia melepaskan cinta dari seseorang yang amat berharga, ia tak punya hak untuk memintanya kembali. Namun pada suatu hari, tanpa disengaja, cangkir teh tersebut mempertemukan mereka kembali dalam suasana yang serba salah. Oke, cukup mellow?

Lalu apa yang dibayangkan oleh penulis horor? Racun! Ya, teh di dalam cangkir itu sudah dibubuhi dengan racun mematikan. Orang yang membubuhi racun itu tidak lain adalah seorang budak yang tubuhnya penuh luka dan kakinya dirantai. Ia menjadi budak dari seorang lelaki gila setelah lelaki gila itu membunuh seluruh keluarganya. Setelah itu, ia diculik dan dijadikan pelayan, ia selalu menjalani siksaan yang menakutkan setiap hari. Namun kali ini ia berhasil mendapatkan bubuk racun secara diam-diam, dan ini adalah kesempatannya untuk bisa membalas dendam dan melarikan diri. Sebentar lagi, tuannya akan pulang dan meminum teh itu. Tapi ia ragu apakah rencananya akan berjalan dengan mulus. Seandainya rencana ini gagal, mungkin ia akan mendapati bola mata kananya dicongkel dan ia akan dipaksa menatap bola mata itu menggunakan mata kirinya.

Itu baru satu contoh. Bayangkan, betapa berbedanya imajinasi yang secara otomatis muncul dalam benak kedua jenis penulis tersebut ketika dihadapkan pada situasi yang lebih kompleks? Itulah mengapa, sebagian penulis horor menjadi mandul ketika dipaksa membuat cerita cinta, dan sebaliknya, penulis cerita cinta akan jadi cengeng ketika dipaksa menulis cerita horor. Tidak lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan referensi yang mereka miliki. Ungkapan “apa yang kamu baca adalah apa yang kamu tulis” memang sangat tepat dalam kasus ini.

Pembagian tema dalam jenis cerita prosa, bukanlah hal yang mutlak. Kebanyakan sastra klasik dan tradisional tidak mengenal pengkotakan semacam itu. Namun ketika industri buku menjadi semakin meningkat, maka dibuatlah pembagian tersebut untuk kemudahan mengincar segmen pembaca tertentu. Lalu para penulis terbelah menjadi kutub-kutub ekstrim sesuai (atau tidak sesuai) dengan idealisme dan gaya hidup yang mereka jalani. Tapi tidak ada salahnya untuk sesekali melakukan rekreasi, berkunjung ke dunia yang berbeda, atau malah menyatukan kembali beberapa kutub yang selama ini telah dipisah-pisah.

Misalnya, bagaimana bila cangkir teh itu benar-benar mempertemukan sang pria dan wanita dalam satu posisi yang serba salah? Sang pria mengalami masalah kejiwaan dan akhirnya membunuh seluruh keluarga si wanita. Karena rasa cintanya yang berubah menjadi obsesi, ia pun menculik si wanita dan menjadikannya budak. Ia tidak sadar, bahwa sebenarnya si wanita masih menyimpan rasa cinta terhadapnya, terjadilah semacam stockholm syndrom. Sang wanita pun harus memilih, antara rasa simpati dan cinta platonisnya, atau kesempatan bertahan hidup dan membalas dendam. Ironisnya, ia memilih cangkir teh sebagai simbol yang amat paradoks: cinta dan kebencian.

Nah, bukankah itu menarik? Bukankah kita baru saja menggabungkan ide cerita horor dan cerita romance menjadi sebuah… hmmm… cerita komedi?
__________________
"Tinta itu hitam, Jenderal."
Closed Thread

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 09:41 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.