Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > RUANG DISKUSI > Ruang Tantangan dan Kolaborasi
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #11  
Old 05-12-2013, 05:54 PM
Grande_Samael Grande_Samael is offline
Anak Muda
Join Date: Apr 2012
Posts: 115
Default Chapter 1 Part Assassin

Chapter 1 Part Assassin

Quote:
Duduk sambil memandang ke luar jendela bus yang melaju, ialah Badai Guntur. Pemuda berambut hitam pendek dengan jaket olahraga itu tengah memangkukan dagunya di atas tangan. Ia tampak resah, gelisah, sesekali melihat ke arah punggung tangan kanannya yang kadang berdenyut-denyut. Suatu lambang berwarna merah terukir di sana.

Segel Komando.

Jelas tidak ada satu pun penumpang bus lain yang menyangka jika Badai, pemuda itu, adalah satu dari tujuh penyihir yang akan terpilih dalam pertempuran penuh darah, Perang Cawan Suci.

Akhirnya bus berhenti di sebuah terminal yang dipadati manusia. Badai menghela nafas berat kemudian bangkit membawa tas ransel biru besar. Tatapannya menajam, memperhatikan orang-orang yang bergerak keluar dari bus, juga orang-orang yang berlalu lalang. Seakan ia takut jika salah satu dari mereka menikamnya dari belakang.

Tapi kekhawatiran itu jelas berlebih. Badai mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ia pun menggeleng lalu turun dari bus, membaurkan diri di antara ribuan manusia.

Tidak terhitung kendaraan-kendaaran besar yang keluar masuk terminal. Orang-orang juga sangat sibuk, seperti sedang mengejar sesuatu. Sebenarnya tidak aneh, mengingat malam ini adalah malam tahun baru 2013. Sayang Badai tidak bisa menikmati malam itu seperti tahun-tahun sebelumnya.

Seorang diri Badai mulai menyusuri kota asing bersahaja, Padipura. Penduduknya ramah dan lingkungannya bersih. Kadang muncul rasa sayang di hati pemuda itu apabila tempat ini menjadi medan pertempuran. Namun Cawan Suci telah muncul, tidak ada yang bisa mencegahnya. Yang bisa Badai lakukan sekarang adalah mencari tempat yang sesuai untuk memanggil servantnya.

Servant adalah roh pahlawan yang bisa berasal dari sejarah, legenda, bahkan mitos. Mereka biasanya dipanggil menggunakan relik-relik yang mencerminkan mereka, seperti senjata, sobekan kain pakaian, atau pun alat-alat yang sering mereka gunakan.

Karena dibutuhkannya prana besar untuk memanggil servant, para penyihir atau biasa disebut master harus mencari lokasi dengan aliran prana yang sangat besar pula. Untuk itu, akhirnya Badai sampai di sebuah pemakaman keramat seorang tokoh keagamaan lokal. Entah kebetulan atau apa tokoh itu dimakamkan di atas tanah ini.

Sesampainya di sana, niat Badai terurungkan oleh keberadaan beberapa orang yang sedang berziarah. Terpaksa Badai menunggu beberapa saat sambil mengacak-acak isi tasnya. Ketika ia menemukan apa yang dicari, ketegangan kembali terlihat pada raut wajahnya. Terlihat juga keraguan, yang diselingi harapan.

Sore pun berlalu dan waktu yang ditunggu telah tiba. Setelah memastikan tempat itu sepi, Badai segera berjalan mendekati makam tua yang diatasnya dibangun pondokan kecil. Sebenarnya bisa saja Badai membongkar makam itu dan menggunakan tulang belulang sang tokoh untuk memanggilnya, tapi ia berpikiran lain. Dikeluarkannya benda hitam dari dalam tas, sebuah benda yang dikenal sebagai alat pembunuh mengerikan selama beberapa ratus tahun terakhir.

Benda itu, sebuah pistol tua yang usang.

Kemudian Badai menggambar lingkaran diagram sihir dari serbuk merah di atas tanah pemakaman. Setelahnya ia meletakkan pistol itu di tengah-tengah diagram. Maka dimulailah ritual pemanggilan legendaris yang hanya bisa dilakukan atas izin sang Cawan Suci.

Badai mulai membuka pintu aliran prana dalam dirinya dan menjadikan relik itu sebagai penghubung antara roh pahlawan dengan dunia ini. Angin dingin pun tiba-tiba bertiup, dan ia tahu saatnya telah tiba.

Badai mulai melafalkan mantra pemanggilan dengan begitu jelas dan lantang. Kata demi kata, kalimat demi kalimat. Seiring dengan pembacaan, angin dingin bertiup makin kencang, dan suatu bayang kegelapan tiba-tiba bersemburat dari arah sang relik.

Ketika angin kembali tenang dan bayang kegelapan itu hilang, berdirilah sosok asing nan misterius. Tubuhnya tingginya berbalut jas hujan hitam panjang. Sedang rambutnya begitu kusut berantakan hingga menutupi wajahnya sendiri.

Di hadapan sosok itu, Badai terperangah dengan mata berkaca-kaca. Mulutnya bergetar, mengatup-atup membunyikan sebuah kata.

“Ayah..?”

Sosok itu tidak menjawab, malah balik bertanya dengan suara mendengung, “Apa kau adalah Master ku?”

“Eh... Ya!” jawab Badai agak gelagapan. “Dan kau... apa kau... ayah?”

Namun sosok itu menggeleng.

“Kami adalah Assassin, siap bertarung untukmu, Master.”

Kekecewaan segera tampak di raut wajah pemuda itu. Tapi ia tidak mau berpasrah diri begitu saja.

“Aku memanggilmu dengan pistol peninggalan ayah sebagai media, kau pasti Dewa Guntur, ayahku!” seru Badai penuh tudingan. “Aku Badai Guntur. Kau yang memberikanku nama itu!”

“Maaf kami tidak mengenalmu, Master.” jawab Assassin singkat.

Badai mengerutkan kening, seakan memikirkan sesuatu.

“Jadi, siapa kau?”

“Orang-orang memanggil kami Petrus.”

“Petrus? Jadi kau pemilik sebenarnya pistol itu?” Badai menunjuk ke arah senjata api usang yang masih tergeletak di bawah kaki Assassin.

Assassin menoleh ke bawah lalu meraih pistol itu. “Ya, ini milik kami.”

Badai mengangguk, lalu terdiam. Kemudian pertanyaan-pertanyaan bermunculan di benaknya. Mengapa sang ayah bisa memiliki pistol itu? Apa hubungan ayahnya dengan servant ini? Dan...

“Siapa kau?”

“Mereka memanggil kami Petrus.”

“Aku tahu,” ujar Badai sambil berdecak kesal. “Maksudku selain namamu, apa pekerjaanmu? Apa yang kau lakukan selama hidup? Kapan kau hidup? Dan... mengapa kau menyebut dirimu dengan ‘kami’?”

Ada begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan, membuat Assassin terdiam untuk beberapa saat. Keheningan pun menjalar.

“Jangan bermain rahasia denganku! Aku adalah Master mu!” seru Badai yang merasakan gelagat aneh dari Assassin.

“Baiklah,” jawab Assassin akhirnya. “Master.”

“Kami, bukanlah perwujudan seseorang secara individu. Kami, adalah orang-orang yang bekerja sebagai pengeksekusi bagi tuan kami terdahulu. Namun tidak ada satu pun yang mengenal kami. Yang mereka tahu, bahwa kami ada, dan mereka memanggil kami seakan kami adalah satu individu yang mengerikan. Petrus. Penembak Misterius.”

Badai tak bisa menahan rasa terkejutnya mendengar segala penuturan Assassin. Akhirnya segala misteri yang menghantuinya selama ini terjawab. Ayahnya adalah anggota pengeksekusi sang diktator, dan mungkin menghilang setelah tertangkap atau terbunuh. Sekali pun ia tak bisa memanggil kembali sang ayah, setidaknya ada perasaan lega setelah ia mengetahui semua ini.

“Baiklah kalau begitu,” ujar Badai ringan, lalu melihat ke langit seakan segala bebannya telah pergi.

“Master,” sahut Assassin tiba-tiba. “Mengapa kau terlihat begitu puas? Apa tujuanmu sudah tercapai?”

“Mungkin... Sejak awal aku datang ke kota ini untuk memanggil kembali ayahku dan mencari tahu segala hal tentangnya,” jawab Badai ringan, tapi kemudian menyadari jika ia telah mengatakan hal yang tidak seharusnya.

Berdiri di sana, Assassin, terlihat sangat marah. Meski seluruh wajahnya tertutup rambut hitam berantakan, aura yang ia pancarkan begitu nyata. Mengerikan. Seolah, ia ingin menelan Badai bulat-bulat.

“Kami di sini untuk bertempur dan mencapai satu tujuan,” ujar Assassin sambil melangkah perlahan ke arah Badai.

“Uh... iya... tentu...” kata Badai tergagap-gagap. Teror yang disebarkan Assassin terasa begitu mengintimidasi. Sang penyihir muda segera tersadar, jika ia bukanlah apa-apa di hadapan servant yang marah. Kepalanya bisa saja terlepas dari tubuh hanya dengan satu gerakan sang servant.

Lalu di tengah kepanikan itu barulah Badai teringat akan Segel Komando, suatu segel sihir yang mampu memberikan perintah absolut pada Assassin. Seorang Master setidaknya dapat menggunakan Command Seal tiga kali untuk saat-saat berbahaya seperti sekarang.

Badai segera mengangkat tangan kanannya, lalu berseru. “Assassin! Dengan Segel Komando ini, kuperintahkan kau untuk – “

Tiba-tiba Badai tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Tangan kekar milik Assassin telah mencekik lehernya. Nafasnya terasa begitu sesak dan ia tak mampu mengucapkan bahkan satu kata pun.

Badai meronta, tapi cengkraman Assassin terlalu kuat. Tinju yang ia layangkan bahkan tidak berpengaruh apa-apa, hanya seperti gigitan nyamuk. Namun salah satu pukulan itu membuat rambut berantakan yang menutupi wajah Assassin tersingkap. Alangkah terkejutnya Badai melihat apa yang ada di sana.

Wajah dengan kulit berkeriput tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut, dan hanya memiliki sebuah telinga kanan.

Tubuh Badai langsung membeku menyaksikan sosok mengerikan di hadapannya. Namun sosok itu sama sekali tidak peduli akan ketakutan tuannya.

“Master,” ujar Assassin sambil mengangkat tangan kirinya ke arah mulut Badai. “Buka mulutmu lebar-lebar.”

Badai pun tak bisa berbuat apapun saat Assassin memakasa mulutnya membuka, lalu menjepit lidahnya dengan kedua jari. Dan ketika organ tubuh itu dicabut secara paksa, ia bahkan tidak bisa meneriakkan jerit penuh kesakitannya.

Last edited by Grande_Samael; 05-14-2013 at 04:53 AM.
Reply With Quote
  #12  
Old 05-13-2013, 03:40 AM
nereid nereid is offline
Anak Muda
Join Date: Aug 2011
Posts: 79
Default Chapter 1 (Part Caster)

Quote:
Seorang laki-laki berparas tampan—atau dia selalu menganggap dirinya biasa saja—sedang berjalan di lorong kampusnya.

Dia orang asing, bukanlah asli pribumi, maupun penduduk Nusantara. Dia hanyalah terlalu lama menetap di negeri kepulauan ini, membuatnya tampak sama seperti orang-orang di sekitarnya. Namun tubuhnya yang cukup tinggilah yang mungkin masih membuat orang ragu, apa benar dia asli Nusantara atau bukan.

Atau itulah yang orang pikirkan dari jauh, ketika hanya melihat rambut pirang seperti hasil dicat dan posturnya yang tinggi. Ketika sudah berada di dekatnya, pikiran mereka berubah total, tidak sempat memikirkan hal kecil tersebut.

Ya, kesuraman mulai melahap habis kehidupan normal mereka.

Mari kita ambil suatu contoh sederhana, di mana setiap orang menghancurkan kebahagiaan orang lain demi mendapatkan kebahagiaan itu sendiri. Misalnya saja, orang yang mendaftar suatu sekolah, perguruan diri, atau suatu lapangan pekerjaan, mereka akan menghancurkan kebahagiaan pendaftar lain yang mungkin kebanyakan dari mereka hidupnya sudah susah, ketika pendaftar itu diterima. Pendaftar yang ditolak tidak akan mendaftarkan pekerjaan, hidupnya semakin sulit, dan kebahagiaan hancur karenanya.

Contoh sederhana tersebut adalah yang terjadi pada laki-laki itu, seorang mahasiswa jurusan matematika—Pumkin.

Dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain—Aura Kesuraman. Aura tersebut membuat orang yang berada di sekitarnya mendadak menjadi suram dan semua harapan, cahaya masa depan, hingga mimpi-mimpi mereka seolah-olah atau bahkan memang diserap oleh Pumkin. Karenanya dia terlihat selalu ceria, di mana orang sekitarnya selalu muram.

‘Terkutuklah darahku!’ adalah yang selalu dia gumamkan ketika berada di suatu keramaian. Dia sangat membenci kekuatan misteriusnya tersebut hingga pernah terpikir olehnya untuk berada di suatu tempat yang sepi dan membuat keadaannya selalu sendiri. Tapi tidak bisa, dia tidak bisa menjadi serigala, dia tidak sanggup hidup sendirian tanpa seorangpun yang berbicara dengannya. Dengan perasaan terpaksa dan tersiksa, dia mendaftar kuliah dan hidup layaknya manusia normal.


—namun tetap saja, hidupnya tidak akan normal jika masih orang-orang sekitarnya teracuni kesuraman.

Seraya bersiul ria di balik topeng kutukan tersebut, Pumkin membuka perlahan pintu kelasnya.

“Pagi~!” sambutnya ceria.

Tentu saja, orang-orang yang disambutnya tersebut membalas…dengan suram.

“Tampak gelap di mataku.”

“Pagi yang suram.”

“Aku ngantuk…malas…”

“Semoga dosennya kosong…”


…itulah yang selalu menyambut Pumkin di pagi hari, suatu kutukan yang hanya bisa disebutnya dengan 'keseharian'.

"Aku muak dengan ini semua!" batinnya dalam hati.

Dan tak lama dia masuk ke dalam kelas dengan 'keceriaannya'.

---

Pumkin berjalan santai, pulang ke rumahnya.

Dengan siulan ringan dan riang, dia membuka pintu gudang rumahnya yang selalu dia tempati semenjak kecil dulu. Sangat kontras sekali dengan apa yang pernah terjadi di tempat itu—bayangan kedua orang tuanya yang bersimbah darah mendadak muncul dalam benaknya. Namun dengan sekali gelengan, dia berhasil menjaga keceriaannya kembali.

Pumkin mengambil sebuah buku yang berjudul [Das Magus]. Buku itu tampak usang dan sudah sering dia pakai semasa kecilnya. Buku tersebutlah yang mengajarinya sihir, dan sebuah peperangan di mana akan dia ikuti sebentar lagi. Bahunya yang perih dan sesekali berkedut itu adalah tanda Pumkin sebagai seorang Master--Segel Perintah, dan kini dia mencoba untuk memanggil Servant yang akan dia gunakan untuk membantunya dalam perang.


—Perang Cawan Suci.

Sebuah perang di antara tujuh Master dan tujuh Servant, bertarung demi mendapatkan keajaiban Cawan Suci, yang konon bisa mengabulkan semua permintaan yang mendapatkannya.

Dengan satu harapan, dikeluarkannya sebuah sarung keris yang dia temukan bersamaan dengan buku sihir tersebut. Diketahuinya tak lama setelah menemukan buku itu, sarung keris tersebut adalah campuran besi terbaik dengan sihir sakti dari seorang ahli penempa senjata. Ya, kekurangan Pumkin adalah dia yang tidak punya senjata. Sangat cocok baginya bila mempunyai seorang ahli penempa senjata berada di dekatnya.

Setelah menggambar diagram lingkaran sihir dengan darah ayam, dia julurkan tangannya yang masih memegang artefak berupa sarung keris tersebut dan dimulailah lafalan mantra darinya.

Aku dengan segala janji ucapanku,
Aku dengan segala darah rasku,
Aku dengan segala harapan tergelapku…


Sinar bulan saat itu adalah pada saat titik paling terangnya, menyinari dari celah genteng yang sudah rapuh dan tua. Lingkaran sihir yang ada di depan Pumkin menyala terang, bisa dia rasakan energi sihir dalam tubuhnya perlahan namun pasti tersedot dengan irama yang semakin cepat hingga peluh keringatnya keluar dari kening.

Dengarkan perintah kuasaku,
Kau yang membawa dendam dan kenangan,
Bersatulah denganku…

Sinar tersebut semakin terang hingga Pumkin memejamkan matanya, menambah konsentrasinya pada lafalan itu.

Karunia berjuta bintang,
Gumpalan darah yang menyala,
Dengan segala perintahku…

Dan tak lama kemudian, angin yang kencang terhempas kuat dari cahaya tersebut, membuat Pumkin terlempar hingga bertumbukan dengan kotak kayu, setelah dia mengakhiri lafalannya.

“…Aku memanggilmu!”

Punggung Pumkin terasa pedih dan dingin yang menusuk mulai merasuk ke dalam tulangnya. Cahaya terang tadi sudah sirna, keheninganlah yang berkuasa. Namun tak lama, langkah ringan seseorang bisa terdengar mendekatinya. Sangat ringan hingga dia tidak percaya sudah memanggil suatu sosok Servant yang berupa ahli penempa senjata. Tidak, bahkan permasalahannya tidak terletak di situ.

“…ahh,” adalah yang hanya bisa keluar dari mulutnya dalam keterkejutan.

Sinar bulan yang masuk melalui celah genting yang lebih terbuka lebar akibat hempasan angin tadi mulai menerangi sosok yang ada di depan Pumkin. Tubuh langsing yang dibalut kasar dengan perban yang cukup berdebu, celana sederhana yang menutupi hingga mata kaki, jubah sobek-sobek yang membuat sosoknya tampak gagah, tangan ramping yang membawa sebuah palu yang bentuk dan besarnya sangat kontras dengan pembawanya tersebut.

Hingga keterkejutan Pumkin diakhiri oleh sebuah suara lembut dan nyaring namun dingin dari sosok itu.

“Apa kau Masterku?”

Mulut Pumkin yang terbuka lebar tidak bisa mengatakan apapun. Sosok yang ada di depannya bertanya sekali lagi.

“Aku tanya padamu sekali lagi…”

Yang membuat Pumkin yakin kalau Servant, sosok yang dipanggilnya tersebut adalah—

“…Apakah kau Masterku?”

—seorang perempuan.
FSN detected

Last edited by nereid; 05-13-2013 at 03:43 AM.
Reply With Quote
  #13  
Old 05-13-2013, 01:46 PM
Sam_Riilme's Avatar
Sam_Riilme Sam_Riilme is offline
Anak Muda
Join Date: Jul 2010
Location: Place where I could sleep as much as I want
Posts: 187
Default Chapter 1 Part Berserker

Quote:
Suasana kota Padipura di kala malam menjelang tahun baru begitu riuh. Sesuatu yang sebenarnya dapat ditemukan di mana saja di seluruh belahan dunia, selama masih ada manusia-manusia yang peduli dengan bergantinya kalender yang mereka gunakan. Sedari dulu, 'Tahun Baru' memang menjadi sesuatu yang ditunggu banyak orang dengan berbagai alasan, namun yang paling umum karena berlalunya satu tahun dan dimulainya tahun yang baru adalah penanda keberhasilan manusia melewati kurang lebih 365 hari dalam berbagai cobaan.

Dengan kata lain, sebuah garis finish, sekaligus juga tombol reset. Sejatinya memang tidak ada hal di dunia ini yang bisa diulang kembali, namun manusia selalu lebih bisa memegang konsep abstrak yang masih memberi mereka harapan semu daripada apa yang konkrit namun jauh dari idealisme. Karena pada kenyataannya, tidak ada yang ideal di dunia ini. Semua yang bernyawa pasti mati. Semua yang berbentuk pasti hancur. Semua, semua, semua yang ada di dunia ini, tanpa satupun pengecualian, tidak ada yang bisa disebut sempurna.

Karena itulah, pelarian bagi manusia adalah membuat diri mereka merasa nyaman dengan hal-hal remeh yang bisa dinikmati dengan sesama mereka. Seperti merayakan tahun baru ini.

Meski demikian, analogi tersebut tidak berlaku bagi seorang Iksa Nizmakarya.

Iksa - dengan raut wajahnya yang mencurigakan bak pelaku kriminal yang baru lari dari penjara - mengenakan kacamata hitam dan pakaian serba tertutup, seolah-olah ingin menyembunyikan jati dirinya - sekalipun hal itu sebenarnya justru mengundang tatapan curiga dari siapapun yang melihatnya karena penampilannya yang mencolok malam itu. Ia melirik ke sana kemari, tampak kebingungan beberapa kali, sebelum akhirnya menemukan sesuatu yang membuatnya memisahkan diri dari keramaian.

Sesuatu yang dimaksud itu adalah sebuah gedung kios yang tampak kosong.

Iksa bukan merupakan penduduk Padipura. Ia datang ke sini bukan untuk merayakan tahun baru seperti orang kebanyakan yang ia jumpai sedari tadi. Ia sebenarnya tidak mengenal seluk-beluk tempat di kota ini, karenanya ia merasa sangat asing dan menghabiskan beberapa waktu untuk memastikan ia menemukan tempat yang ia butuhkan demi menjalankan keperluannya di kota ini. Sebuah keperluan penting yang merupakan satu-satunya alasan dirinya berada di sini.

Mengikuti Perang Cawan Suci.

Bila orang-orang menganggap tahun baru saat berganti nanti sebagai garis start baru, maka bagi Iksa, inilah awal dari segalanya.

Awal dari apa yang akan mengakhiri segalanya.

*****

"---benarkah?"

"Ayolah Iksa, kapan aku berbohong padamu? Kalau kau memang serius ingin mengakhiri segalanya, ikuti Perang Cawan Suci ini! Kami pasti membantumu, kok."

"Dia benar, Iksa. Ketahuilah, kami ada tak lain hanya untuk dirimu, dan kau harusnya yang paling tahu soal itu. Daripada menghabiskan sisa hidupmu dengan lari dari tatapan mata orang lain terus-menerus seperti ini, sebaiknya kau mencoba mengambil risiko demi mengubah dunia - duniamu."

"...kalian...."

"Kau tahu, Iksa? Sebenarnya aku lebih senang kalau bisa bebas menggunakan kemampuan kita. Tapi si muka datar yang satu ini berkali-kali mengkhawatirkan dirimu sampai membuatku sebal. Yah, lagipula, kupikir ini akan lebih seru daripada kau sekedar bunuh diri karena depresi. Ketika mayatmu nanti ditemukan polisi, kalau cuma bunuh diri biasa sih, tidak akan ada ceritanya."

"Jaga mulutmu, Ixa! Kau pikir Iksa akan mempertaruhkan nyawa di sini hanya untuk main-main!?"

"Ah, ya, ya, Ikusa... Aku kan cuma ingin memberi motivasi. Selanjutnya, biar Iksa yang menentukan~."

"....aku...."


*****

Semuanya sudah siap.

Dengan prana yang mengalir deras dan pekat di kota ini, sumber energi untuk sihir pemanggilan Roh Pahlawan tidak akan sulit. Iksa sudah mendapatkan semua detil dan bahan yang ia perlukan, dan kini ia hanya perlu memantapkan diri untuk memulainya.

Semua akan baik-baik saja.

Untuk mengikuti Perang Cawan Suci, seorang penyihir - orang yang memiliki bakat untuk sihir - harus melakukan ritual tertentu untuk memanggil Roh Pahlawan sebagai Servant, 'pion' yang akan digunakan oleh para 'pemain' - atau Master - dalam perang ini. Tujuh Master dengan tujuh Servant mereka masing-masing akan saling beradu, dan satu yang tersisa di antara mereka akan menjadi pemenang yang berhak atas Cawan Suci.

Disebutkan bahwa Cawan Suci mampu mengabulkan apapun yang manusia inginkan dan fakta inilah yang mendorong Iksa untuk mengikuti permainan berbahaya ini.

Semua akan berakhir bila Iksa dapat mewujudkan keinginannya.

Tapi untuk saat ini, semua harus dimulai dengan kebulatan niat.

Iksa memejamkan mata seraya melafalkan mantra.

Kami, jiwa yang terus digerorgoti oleh sang waktu
Kami, jiwa yang lahir dengan darah dan menumpahkan darah pada mereka yang lahir
Kami, jiwa yang terkurung dalam kehidupan


Sebuah cahaya berpendar terang di atas lingkaran sihir yang Iksa buat, dan saat membuka matanya, Iksa segera menyelesaikan bait terakhir dari mantara pemanggilan tersebut.

Melewati lautan amarah,
Dituntun oleh keegoisan batin setiap insan,
Jiwa ini tak akan tenang sebelum kuasa hadir di hadapannya,
Maka dengan ini---


"...aku memanggilmu!"

Ledakan cahaya terjadi di kios kosong tempat Iksa berada saat ini, membutakan matanya hingga tak bisa melihat apa-apa untuk sesaat. Ia bahkan tidak tahu apa yang ia panggil dan apa yang sebenarnya terjadi, tapi satu yang ia tahu : ritual ini sudah selesai.

Sebagai bukti, sesosok pria bertelanjang dada namun dengan celana penuh aksesoris aneh dan ornamen kini berdiri di hadapan Iksa. Pria dengan rambut acak-acakan yang menutupi setengah wajah hingga matanya tak terlihat itu menggaruk-garuk kepalanya, sebelum kemudian menyadari kalau Iksa ada di sana.

"Ah.. Kau, Master, ya?"

Dengan santai, pria itu bertanya dengan nada yang tidak menyiratkan kepedulian. Iksa hanya mengangguk pelan, kemudian bertanya,

"Boleh aku tahu apa Class-mu?"

"Hmm...apa ya? Tunggu sebentar, ingatanku kadang-kadang buruk.." pikir pria itu sambil mengorek telinga dan meniup kotoran di ujung jarinya. "Oh, aku ingat. Berserker. Kelihatannya, sih."

Pria itu menjawab layaknya menjawab soal kuis yang diajukan seorang guru pada muridnya, membuat Iksa menghela nafas pelan.

"...kau kelihatan tidak begitu bersemangat dengan perang ini," keluh Iksa. "Kau yakin kau ini Roh Pahlawan?"

"Oh? Ternyata aku masih dianggap 'pahlawan'? Hmph, sepertinya kisah sejelek apapun selama bisa memberi kesan atau pelajaran bagi mereka yang mendengarnya masih dianggap sesuatu yang baik, ya! Walau sejujurnya aku tidak tahu apa yang bisa orang ambil dari kisah kehidupanku yang menyedihkan itu, hahaha. Atau mungkin karena dulu aku sering membantu orang di desa?"

"Kurasa konsep pahlawan di sini mengacu ke jiwa atau pribadimu, bukan soal apa yang kau lakukan di masa lalu," sanggah Iksa. "Namaku Iksa Nizmakarya. Kurasa kau sudah tahu kenapa kau dipanggil ke era ini, jadi aku tidak perlu menjelaskan apapun selain namaku dan penjelasan singkat tentang dunia ini---ah, benar juga. Siapa namamu?"

"Aku?"

Sekali lagi lagi Iksa mengangguk, dan pria dengan rambut yang menutupi seluruh matanya itu tersenyum lebar sebelum mengucapkan namanya.

"Kau tidak mungkin tidak kenal si mesum rupawan paling melegenda sepanjang sejarah Nusantara! Itulah aku, Sang Kuriang!"

*****
Yah, Sangkuriang yang carefree dan self-aware kalau dia itu open pervert... Kapan lagi tokoh konyol begini jadi Berserker?

*tulisan ini dibuat semata-mata sebagai kisah fiktif; penulis tidak berniat menghancurkan legenda asli dengan tulisan ini
__________________

"Everything will work out somehow"


Last edited by Sam_Riilme; 05-13-2013 at 01:48 PM.
Reply With Quote
  #14  
Old 05-14-2013, 01:10 PM
sauoni sauoni is offline
Anak Muda
Join Date: Jun 2010
Posts: 2
Default

wah udah penuh slotnya, ane mantau aja deh ceritanya
Reply With Quote
  #15  
Old 05-14-2013, 09:28 PM
Grande_Samael Grande_Samael is offline
Anak Muda
Join Date: Apr 2012
Posts: 115
Default

Quote:
Originally Posted by sauoni View Post
wah udah penuh slotnya, ane mantau aja deh ceritanya
yah, sayang sekali gan...

klo gitu boleh dong dipantau, sekalian diberi komen2 buat ceritanya, hehehe
Reply With Quote
  #16  
Old 05-14-2013, 10:18 PM
luna.love's Avatar
luna.love luna.love is offline
Anak Muda
Join Date: Feb 2012
Location: solo
Posts: 69
Default Chapter 1 Part Lancer

Quote:
Pukul tujuh malam. Seorang gadis turun dari kereta jurusan Solo-Padipura. Pakaiannya yang bisa dibilang nyentrik. Karena mulai dari, sepatu jaket, kaos, celana pendek selutut dan juga tas ransel yang dia bawa, semuanya didominasi warna merah muda dan putih. Namanya pun juga senyentrik penampilannya.

Melati Nini Towok. Ya, bisa ditebak dari mana asal nama itu. Didi Nini Towok adalah Pamannya yang membesarkan Melati dari umur sepuluh tahun. Sejak saat itulah nama keluarga Melati berganti menjadi Nini Towok.

Di bawah naungan payung hitam, dia berjalan menerjang rintik hujan keluar dari Stasiun Padipura Kota. Parasnya yang cantik membuat beberapa orang mencoba menggodanya.

“Hai cewek, mau kemana? Kakak anter ya.” sapaan nakal yang kerap kali terdengar.

Namun, dia sama sekali tidak memperdulikan semua keusilan itu.

Gadis itu sedang melamun. Yang ada di pikirannya sekarang adalah tentang waktu yang terasa sangat cepat berlalu.

Besok, tahun sudah saja akan berganti menjadi tahun baru 2013.

Seharusnya Melati menyambutnya dengan senang hati. Akan tetapi, karena dia teringat pesan almarhum Ibunya sebelum beliau meninggal lima tahun lalu, membuatnya merasa sangat sedih.

Melati masih ingat, ketika dia menemukan Ibunya bersimbah darah di dalam ruangan pertapaannya.

~***~

“Ibu apa yang terjadi?” Gadis kecil itu histeris melihat keadaan Ibunya.

“Maafkan Ibu, Melati,” Wanita itu berusaha bicara dengan suara yang seakan tercekik, “karena aku tidak pernah ada untukmu,” ucapnya dengan napas terengah-engah.

“Ibu, jangan bicara. Aku panggilkan orang-orang.” Melati mencoba bangkit dan memanggil bantuan. Namun tangan Ibunya mencengkram lengan gadis itu.

“Ibu sudah tidak kuat lagi. Tolong gantikan Ibu untuk mengikuti Holy Grail War di Padipura lima tahun lagi.” Dia pun menyerahkan sebuah buku kepada Melati.”Pelajari buku ini baik-baik.”

Gadis itu mengambilnya. “Padipura?” Melati terkejut mendengar kota tempat dia dilahirkan dulu.

Dengan tenaganya yang masih tersisa, wanita itu membuka pusat energi di tubuhnya dan menyalurkan kepada Melati melalui tangannya. Gadis itu ketakutan. Melati merasakan sesuatu membakar kulit tangan kirinya. Gadis itu mengerang kesakitan dan menangis.

“Ibu! Lepasin tangan Melati, sakit Ibu!” Melati meronta kesakitan.

Namun, Ibunya tidak melepaskan genggamannya. Selama proses peralihan itu. panas, perih dan sakit jelas dirasakan oleh Melati.

Kesadaran gadis itu semakin menipis.

Ketika proses peralihan itu selesai. Melati langsung pingsan karena sakit yang dia rasakan dan Ibunya kehilangan nyawanya.

~***~

Holly Grail War. Akhirnya datang juga hari penantiannya selama lima tahun. Selama itu pula. Dengan buku yang diberikan oleh Ibunya, Melati belajar mengendalikan sihir yang mengalir ditubuhnya. Meski harus diam-diam dia belajar. Pamannya sangat tidak menyukai hal-hal yang berbau sihir. Dan dia sangat melarang Melati unutk membicarakan tentang keluarga Ibunya.

Dia bisa sampai ke kota ini pun tidak berpamitan kepada pamannya karena pasti beliau melarang.

Apa yang sebenarnya dia inginkan dari perang itu? Kenapa Melati juga harus bersusah payah belajar sihir? Ya, Melati sepertinya memang ingin membuktikan sesuatu. Suatu hal yang membuat hatinya resah setiap hari sejak Ibunya meninggal. Maka dari itu, dia ingin mengikuti perang ini. Sekarang dia berada di kota yang tampak asing baginya, Padipura. Tempat di mana dia dulu dilahirkan dan tempat dimana dia akan mengikuti perang besar itu. Namun, sebelum itu dia harus pergi ke suatu tempat. Melati naik ke dalam sebuah Bus yang akan mengantarkannya ke tempat tujuannya.

Pukul delapan malam. Melati sampai juga di sebuah sungai di pinggir kota Padipura. Dia turun dari Bus. Hujan sudah berhenti lima belas menit yang lalu. Sehingga dia tidak perlu mengenakan payung lagi.

Gadis itu melangkah ke arah sungai. Terlihat banyak terdapat pohon bambu yang sangat lebat di pinggir sungai. Dengan perlahan, Melati mendekati pinggiran sungai itu. Sebelum memulai peperangan, dia harus memanggil Roh Penjaganya-Servarnt. Yang pastinya akan membantunya selama perang itu berlangsung.

Sebagai Master-Magus, dia harus berkonsentrasi untuk melakuan ritual ini. Karena dia butuh media air untuk pemanggilan, makanya dia pun datang ke sungai ini. Selain suasananya yang sepi. Melati mengeluarkan sebuah pisau kecil. Dengan perlahan dia mulai membaca kalimat magis yang akan menghubungkannya dengan dunia roh yang akan dia panggil.

“Ucapku dengan darahku sekarang ini untuk memanggil darah kakek leluhur di kuburmu.” Angin mulai berhembus kencang. Banyak daun yang berterbangan tertiup angin. Mulai terdengar suara gemuruh air bergejolak di hadapannya. Melati menyayat tangannya dan darah menetes ke atas sungai.

“Datanglah di hadapanku sekarang.”

Atsmosfir berubah menjadi sangat berat. Segel yang ada di tangan kirinya bercahaya. Sepertinya, kekuatan yang ada di dalam dirinya akan meledak, kerena terlalu besar untuk tubuhnya yang kecil. Napas Melati menjadi sesak. Kesadarannya hampir hilang, seakan oksigen yang dia hirup menipis. Namun, dia masih berusaha untuk tetap sadar.

Dari dalam air, muncul sesosok manusia mengenakan jubah putih. Melati sedikit terkejut dengan kemunculannya. Pandangannya sedikit buram, karena debu yang di terbangkan oleh angin masuk ke matanya.

“Apa Nona adalah Master saya?”

Melati ingin menjawabnya. Namun, kepalanya terasa sangat pusing. Tenaganya lumayan terkuras. HIngga akhirnya, Melati hampir ambruk ke tanah. Untung saja, dengan sigap sosok itu langsung menangkapnya.

“Nona?” Itu kata terakhir yang melati dengar.

~***~

Udah aku ganti, hmmm ini yang keberapa kali aku edit
Maaf kalau berantakan.
__________________
Kekom Id
http://www.kemudian.com/users/luna.love

Fb Id
https://www.facebook.com/luna.love.754918?ref=tn_tnmn


Salam kenal untuk semuanya *menggelinding pergi.
('-') (,-,) ('-') (,-,)

Last edited by luna.love; 05-16-2013 at 10:48 PM.
Reply With Quote
  #17  
Old 05-15-2013, 12:17 AM
panglimaub's Avatar
panglimaub panglimaub is offline
Anak Muda
Join Date: Jul 2011
Posts: 51
Cool Chapter 1 Part Rider

Chapter 1 Part Rider

Quote:
Salatiga, 3 April 2031

Malam telah turun di sebuah kota dingin Salatiga, seorang pria berusia dua puluh tahunan tampak duduk di sebuah kursi taman meski angin dingin terus menerus berhembus keras. Ia amati jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 11 malam dan orang yang memanggilnya belum juga tampak.

“Sampai kapan kita harus menunggu?” tanya sesosok pria berpakaian seperti pendekar pencak silat yang tiba-tiba sudah berdiri di samping pria itu.

“Sabar Pakdhe Rangga,” jawab pria itu kalem.

“Aku tidak bisa sabar Rahman. Ada sesuatu yang aneh di sini, aku seperti mencium bau Pangiwa.”

“Pakdhe terlalu khawatir. Kembalilah dahulu ke raga saya. Jika nanti ada bahaya Pakdhe pasti saya panggil.”

“Tidak ... aku merasa ada ...,” pria bernama Rangga itu langsung melesat ke udara dan menghantam sesuatu yang tak kasat mata. Pria bernama Rahman itu membelalakkan mata ketika mengetahui di depannya sudah berdiri sesosok angker mirip raksasa dengan tinggi setara gedung berlantai dua.

“Mandala! Kamajaya!” pria itu merentangkan kedua tangannya dan dua sosok kesatria berpakaian selayaknya kesatria pada era kerajaan muncul di sampingnya dan langsung turut menyerang sososk raksasa itu.

“Kau belum mendapatkan satu pun Kalingga rupanya?” tiba-tiba terdengar dari belakangnya suara seorang wanita.

“Kau ... kenapa kau datang kemari?”

“Aku? Aku datang kemari karena Bos Besar memintaku untuk menyingkirkanmu.”

“Kau menantangku berkelahi satu-lawan-satu?”

“Tidak, aku menantangmu untuk keluar dari dimensi paralel,” wanita itu mengeluarkan sebuah alat pemicu dan menekan tombolnya.

“HUAAA!!!” pria bernama Rahman itu tiba-tiba tersedot ke dalam sebuah pusaran cahaya berwarna kebiruan dan menghilang di dalamnya.

Wanita itu memandang ke arah langit di mana sosok raksasa itu telah mencengkeram ketiga sosok yang merupakan sekutu Rahman dan meremas mereka hingga tubuh mereka musnah menjadi serpihan kabut, “Empu Sangara sudah disingkirkan.”

*****
Padipura, Malam Tahun Baru 2013
Rahman terbanting di sebuah tempat yang gelap dan tak bercahaya sama-sekali. Ia langsung pasang telinga, mewaspadai setiap suara yang datang tapi tidak menemukan satupun suara di sana. Ia meraih sebuah kerikil lalu melemparkannya ke suatu sudut tapi tak mendapat reaksi apa-apa. Ia memusatkan konsentrasinya dan merasakan energi di sekelilingnya, namun tak ada reaksi energi yang biasanya muncul melawan dirinya seperti yang biasa ia temui saat kondisi tiba-tiba menjadi gelap. Rahman menatap ke kanan dan kiri mencoba mencari tahu posisinya di mana. Lalu tiba-tiba terdengarlah suara terompet dan kembang api membahana di angkasa.

Cahaya di langit menunjukkan bahwa ia tengah berada di sebuah punden batu berbentuk mirip dolmen (meja batu). Di batu itu tertulis sejumlah kata-kata dalam huruf Pallawa :

Mujhē wāpasa bulā lō, jō mērē lēkhana kō paṛha sakatā
(Panggil aku kembali, wahai engkau yang bisa membaca tulisanku)

“Memanggil? Memanggil untuk apa?”

Mata Rahman memicing sekali lagi ketika kembang api kembali meletus. Ada tulisan lain di bawah tulisan-tulisan Pallawa itu. Tulisan ini dari zaman yang lebih modern, Arab Melayu, Rahman membaca tulisan itu.

Sakabek bak siriah sarumpun bak sarai. (Seikat bak sirih serumpun bak serai; persatuan kokoh dalam satu kelompok).



Ada sebentuk mahkota yang tiba-tiba sudah berada di atas dolmen itu. Mahkota itu memendarkan sinar jingga redup. Rahman dengan hati-hati memegang mahkota itu dan sinar jingga itu menjadi semakin cemerlang. Silau oleh cahaya itu, Rahman menutup matanya. Dan ketika matanya terbuka kembali ia mendapati sesosok pria muda bersarungkan kain halus berwarna coklat-emas serta berpakaian kain halus berwarna coklat tua dan mengenakan sebuah mahkota yang tak lain adalah mahkota yang ada di punden batu tadi.

“Salam Tuanku. Sudah lama sekali saya menunggu Tuanku untuk datang kemari dan membebaskan saya. Naiklah Tuanku,” pria berpakaian raja itu menjentikkan jarinya dan muncullah sebuah kereta kuda berlapis emas yang ditarik dua ekor kuda, “Turnamen akan segera dimulai.”

Rahman Alamsyah masih terpaku di tempatnya. Jika perkiraannya tidak salah sosok di hadapannya ini tidak lain dan tidak bukan adalah Adityawarman – sepupu Jayanegara sekaligus Uparaja (Raja bawahan) Majapahit di wilayah Pagaruyung, Sumatra.
Reply With Quote
  #18  
Old 05-15-2013, 10:49 PM
Robin_Lee's Avatar
Robin_Lee Robin_Lee is offline
Anak Muda
Join Date: Jun 2012
Location: Takengon
Posts: 12
Default Chapter 1 Part Saber

Quote:

Tahun baru itu meyenangkan bagi semua orang – berkumpul dengan keluarga, saudara, teman, atau pacar. Bahkan, semdiri di tengah kerumunanpun terasa begitu mengembirakan. Seakan tahun baru itu bisa menyebarkan kesenangan seperti virus flu.

Tapi tahun baru bukanlah virus. Lebih tepat dikata sebagai obat – sepertinya mereka dibuat untuk menyembuhkan orang yang gagal dan membuat orang sukses menjadi lebih sukses.

Setidaknya itulah yang dialami seorang pemuda bernama Atmajaya Candrawangsa. Ia duduk di sebuah kursi stasiun kereta api kota Padipura. Menunggu, sambil memakan puluhan buah tangan khas Padipura sekaligus.

Dengan tubuhnya yang pendek, gemuk dan prilaku bak anak kecil, ia akan disangka oleh kebanyakan orang sebagai anak SD padahal sesungguhnya dia pelajar SMA. Bahkan siapapun tak akan menyangka kalau dia adalah keturunan dukun yang terlibat secara langsung dengan organisasi perdukunan.

Ya itulah yang ia tunggu seseorang dari organisasinya yang akan mengantarkan sebuah perlengkapan – nantinya akan digunakan untuk memanggil seorang pahlawan yang telah gugur dalam medan perang untuk mengikuti sebuah perang kembali.

Perang Cawann suci adalah nama perang yang akan diikuti oleh Atmajaya. Ini bukanlah seperti perang dunia walaupun ini akan lebih berbahaya dari itu. Empat belas angka yang menunjukan 7 Master dan 7 Servant untuk meperebutkan cawan suci pengambul keinginan.

“Ups, sepertinya habis. Beli lagi, ah.”

Atmajaya lalu lompat dari kursi, dipakainya topi untuk melindungi diri dari panas. Segesit elang memburu mangsa, ia lalu berlari menuju kios yang ada didepan. Semua makanan ringan yang dapat masuk kekantong plastik dimasukkannya.

“Semuanya sekitar lima puluh ribu rupiah.” Kata penjaga kios dengan ramahnya.

“Ini.” Katanya Atmajaya sambil menyerahkan selembar uang.

“Terima Kasih.”

Lalu, ia kembali dan seseorang serba hitam dengan koper besar telah ada dihadapannya. Tiba-tiba suasana stasiun menjadi gelap. Tidak ada seorangpun. Tak terdengar apapun.

Hanya Atmajaya dan lelaki serba hitam yang tersisa didalam gelap.

Begini lebih aman bagi mereka untuk berdiskusikan. Bahkan, hal rahasia sekalipun tak perlu sungkan untuk dibahas.

“Ini barang yang anda tunggu. Tuan!”

Orang serba hitam itu lalu memperlihatkan isi kopernya - Buku sihir, sebuah senjata tradisional, dan sebotol darah segar.

Atmajaya lalu tersenyum sambil memakan permennya, ia berkata.

“Hehehe, Tidak ada yang tergores, dan ini asli. Memang, kerja orang dalam organisasi selalu bagus.
“Kau terlalu memuji, Tuan!”

Orang itu tersenyum sambil mengelus-gelus kepala botaknya.

“Tidak usah sungkan. Memang pada dasarnya kita ini berbeda dari lainnya. Lagi, pula tujuan organsasi kita dibentuk itu juga untuk kebaikan.”

“Hahaha… Apakah ada kabar dari ketua organisasi?” Tanya Atmajaya sambil membuka bungkus brondong jagung.

“….”

“Tidak ada ya. Ya sudahlah kalau begitu, lagipula waktu yang kita sepakati telah tiba.”
“Kau benar juga kalau begitu, aku mengundurkan diri. Semoga anda berhasil.”

Dalam hitungan detik, keadaan menjadi normal kembali. Orang serba hitam itu hilang seketika ditelan oleh kerumunan setelah melambaikan tangan kepada Atmajaya.

***

Tepat jam 12 malam, disebuah lapangan luas. Atmajaya berdiri ditemani oleh bulan yang tak begitu kelihatan karena tertutup awan.

Lapangan luas ini dulunya bekas tempat terjadi pembunuh orang-orang yang tak bersalah karena menentang pemerintahan - sampai sekarangpun kasus itu tidak diselesaikan. Dari rumor yang beredar di organisasi di sini terkubur mayat-mayat penyihir tanpa nama yang didakwa hukuman mati.
“Dengan ini prana yang ditentukan sudah cukup. Mari kita mulai!” Kata Atmajaya kepada dirinya sendiri setelah memastikan keaadan aman.

Ia lalu membuat lingkaran sihir dengan darah segar - biasanya dari darah hewan.
“Selesai. Lalu selanjutnya.”

Ditaruhnya Parang dan Perisai yang bernama Sawalaku itu ketengah lingkaran. Parang Sawalaku hampir sama seperti pedang tetapi lebih pendak sementara perisainya berbentuk persegi panjang bermotif hitam putih.

“Sekarang mari kita membaca mantranya dari buku sihirnya. Tapi, pertama permen dulu.”
Diambilnya permen dan buku sihir yang berada didalam koper. Sambil memakan permen ia pun membaca mantranya.

Wahai roh air yang bijaksana.
Wahai roh bumi yang perkasa.
Wahai roh langit yang agung.


Cahaya merah mulai keluar dari lingkaran sihir. Semakin lama semakin kuat. Hingga, lapanganpun menjadi terang merah. Bunyi permen dimakan begitu terdengar nyaring. Atmajayapun mulai memasuki bait pertengahan mantra.

Ragaku hanya untuk santapan jiwamu.
Jiwakupun hanya menjadi bahan permainanmu.
Pujianku adalah alat pembangkit kematian.
Dengan ini hembuskanlah nafasku kepadanya.
Bangkitlah …


Atmajaya berteriak sekeras mungkin hingga permennyapun habis dalam satu gigitan.
“Wahai roh suci yang mulia…”

Ledakanpun terjadi ketika Atmajaya mengucapkan huruf terakhir. Anehnya, bukannya terjadi ledakan cahaya. Malah terjadi ledakan air.

“Wah … Aku bahas kuyup…” Teriak Atmajaya meratapi nasibnya. “Aneh, tapi aku gagal. Padahalnya mantranya benar. Apa karena aku makan permen? Tapi, biasanya aku baca mantra sambil makan siangpun tetap berhasil. Lagipula, makanankan membantuku berpikir lebih jernih.”
Memikirkan makanan membuat perutnya berbunyi bak serigala kelaparan. Dikeluakannya satu-satu makanan yang ada dikantong plastiknya.

“Bailklah, makan dulu. Nanti, baru dipikirkan. Minuman bersoda, Kentang Goreng, dan … hi, mana roti tawarku.” Teriak Atmajaya kesal.

“Apakah kau Masterku?”

Seorang perempuan menodongkan parang keleher Atmajaya.

“….”

“Katakan cepat … Atau kau akan mati dalam hitungan….”

:”Ya … Ya. … Aku Mastermu.” Jawab Atmajaya spontan.

“O….”

“O? Bisakah kau jauhkan senjatamu dariku.”

“Kau takut senjata? Mulai malam ini aku sebagai Servantmu, Saber. Akan membuatmu tidak takut lagi pada senjata.” Teriak Saber semangat.

“Aku suka semangatmu. Tapi, siapapun akan takut kematian. Apalagi, mati muda seperti ini.”
“Tuan yang menyedihkan, ternyata kau masih perjaka.”

“Sudahlah jauhkan senjatamu dariku. Lagipula aku kedinginan.” Atmajaya mulai menggigil kedinginan., “Apa perlu aku mengunakan Command Seal ini. Itu perbuatan sia-sia bukan.”
Command Seal – perintah absolut kepada Servant yang memiliki tiga batasan.

“Ah… tidak perlu… tidak perlu…” Kata Saber sambil menyarungkan pedangnya.

“Sekarang saatnya pulang.” Kata Atmajaya sambil beres-beres.

“Pulang? ” Kata Saber dengan wajah yang polos.

“Ya pulang kerumahku. Tidak, rumahmu juga. Pokoknya anggaplah rumahku seperti rumahmu sendiri.” Kata Atmajaya sambil mengangkat jari jempol.

Saber hanya menjawab dengan mengangguk.

“Hm.. Bisa kau bantu angkatkan koperku..”

Saber lalu menganti pakaian perangnya dengan pakaian sehari-sehari dengan seketika dan membantu Atmajaya untuk beres-beres.

***

“Ah… Rumah memang tempat paling nyaman untuk beristirahat.” Kata Atmajaya sambil duduk di Sofa .

Ia begitu menikmati minuman soda yang di belinya tadi.

“Master… ada yang inginku katakan.”

Saber member hormat ala tentara kepada Tuannya.

“Sudah katakana saja tidak perlu pakai hormat segala.”

Kata Atmajaya salah tingkah karena ia belum pernah diberi hormat sebegitunya oleh orang lain kepadanya - kecuali dilapangan upcara ketika ia menjadi pemimpin upacara.

“Mulai malam ini aku Saber akan melayanimu dan tidak akan berkhianat kepada siapapun.” Teriak Saber.

“Sudah-sudah, aku sudah tahu itu.”

Atmajaya merasa kerepotan dan entah harus melakukan apa atas tingkah konyol Saber kepadanya.

“Dan satu lagi…”

“Masih ada satu lagi. Aku bilang kan sudah.”

“Aku ingin meminta maaf karena merepotkan. Bukan itu saja. Karena aku telah mencuri Roti tawarmu karena aku merasa lapar.”

Saber menunduk kepada Atmajaya.

“Apa~?” Teriak Atmajaya lompat dan tak habis pikir. “Tapi, ya sudahlah tidak apa, dan bisakah kau berhenti merunduk atau memberi hormat kepadaku.”

Saber Mengangguk.

“Lain kali, kalau lapar bilang saja padaku. Akan kubelikan kau makanan. Kalau sempat sesekali aku akan memasak untukmu.” Kata Atmajaya tersenyum

***
Yo .... Terima kasih karena sudah mau baca...
Ini sepertinya masih perlu diedit lagi -_- .
__________________
BLOG | FACEBOOK | KEMUDIAN
Reply With Quote
  #19  
Old 05-16-2013, 02:36 AM
Error's Avatar
Error Error is offline
Anak Muda
Join Date: May 2012
Location: Galactic Alliance Colony
Posts: 25
Default Chapter 1 Archer Part

Quote:
Malam tahun baru.

Malam yang merupakan peringatan berakhirnya satu tahun dan sebagai penanda akan dimulainya tahun yang baru.

Semua orang berharap untuk bisa merayakan malam yang amat penting tersebut bersama orang-orang terdekatnya. Ada yang merayakan bersama keluarga, ada juga yang merayakan bersama pasangannya.

Soal masalah tempat merayakannya, hal itu sama sekali bukanlah masalah, karena yang terpenting adalah kebahagiaan dalam merayakan dan menyambut kedatangan tahun berikutnya bersama-sama.

Namun.

Tidak semua orang merayakan malam terpenting dalam satu tahun tersebut.

Di sebuah pemakaman umum yang sepi, Keith berdiri terdiam di hadapan sebuah batu nisan. Entah apa yang dipikirkannya seraya menatap pilu batu nisan tersebut. Hanya penyesalan dan kesedihan yang Nampak di wajahnya.

“Malam ini adalah peringatan tujuh tahun kematian ayahmu ya?”

Seorang pria, yang entah darimana datangnya, tiba-tiba sudah berdiri di samping Keith.

Pria itu menatap Keith dan batu nisan tersebut bergantian. Namun Keith seolah tidak peduli dengan keberadaan pria tersebut. Membuat pria itu melanjutkan ucapannya.

“Padahal tinggal sedikit lagi, tapi ternyata ayahmu gagal mendapatkannya.”

Kata-kata tersebut seolah memukul Keith tepat di wajahnya. Keith yang tadinya tidak mengacuhkan pria tersebut langsung meliriknya tajam.

“Apa maumu? Aku tidak ingat punya urusan apapun denganmu,” Tanya Keith pedas.

“Mungkin kau tidak punya urusan denganku, tapi sayangnya aku punya urusan denganmu.”

“Tidak usah berbasa-basi, bilang saja apa maumu!”

Pria itu menghela nafas pendek.

“Sifat temperamenmu itulah yang membuatmu tidak akan pernah bisa menjadi penyihir kelas atas.”

Keith menggeretakan giginya, dan tanpa bicara lagi dia langsung mengayunkan tinjunya tepat ke wajah pria tersebut.

“Keparat!!”

“Whoa, tenanglah sedikit.”

Keith terbelalak, karena dalam sekejap mata pria itu sudah berada di belakangnya.

“Aku datang kesini hanya ingin memintamu melakukan sesuatu,” Ujar pria tersebut dengan tenang.

“Kau mau aku melakukan apa?” Tanya Keith seraya berbalik.

Pria itu terdiam sesaat sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Kau harusnya sudah tahu, kalau mala mini perang suci akan dimulai kembali.”

Kedua mata Keith melotot lebar, lalu memincing tajam saat mendengar kata perang suci.

-Perang cawan suci.

Sebuah pertarungan yang diadakan untuk memperebutkan cawan suci yang konon dapat mengabulkan segala keinginan. Walaupun pada awalnya cawan suci tidak diperebutkan. Semua itu terjadi saat keluarga pemilik cawan suci tersebut mulai terbagi-bagi menjadi beberapa klan. Di mana setiap klan mengklaim bahwa merekalah yang berhak atas cawan suci.

Lalu untuk menghindari perpecahan yang berkelanjutan, maka diadakanlah perang untuk melihat siapa yang berhak untuk menggunakan cawan suci. Dimana setiap utusan dari masing-masing klan memanggil roh suci yang akan saling bertarung hingga hanya tersisa satu klan.

“Sebagai salah satu dari klan yang berhak untuk mengikuti perang suci, sudah seharusnya kau ikut dalam perang ini,” Pria itu melanjutkan.

“Aku menolak!” Jawab Keith singkat.

“Kenapa, apa kau tidak ingin membalaskan dendam ayahmu? Bukankah ayahmu mati terbunuh dalam perang suci?”

Memang benar, ayah Keith adalah salah satu peserta dalam perang suci sebelumnya, namun saat hampir mendapatkan cawan suci, ayahnya dibunuh oleh salah satu peserta lain. Hal itulah yang membuatnya amat membenci perang cawan suci.

“Aku akan menghentikan perang bodoh ini!”

“Hoo, lalu bagaimana caranya jika kau tidak ikut dalam perang?”

Keith tersenyum simpul.

“Perang cawan suci hanya akan dilaksanakan jika ketujuh utusan klan sudah berkumpul. Jika ada salah satu yang tidak ikut, maka perang tidak akan bisa dilaksanakan,” Jelas Keith berapi-api.

Pria itu terdiam mendengar rencana Keith barusan, lalu tertawa keras.

“Apanya yang lucu?”

“Rupanya kau terlalu naïf, kau pikir bisa menghentikan perang semudah itu?”

“Apa maksudmu??”

“Memang, jika itu terjadi maka perang tidak bisa dilaksanakan, tapi bagaimana jika ada orang lain yang menggantikanmu berpartisipasi dalam perang?” Tanya pria itu dengan nada mengancam.

“Itu mustahil!” Bantah Keith, “Hanya orang yang berasal dari klanku saja yang berhak untuk ikut!”

Pria itu menghela nafas lelah.

“Kalau begitu aku hanya bisa memaksamu.”

“Hah?”

Sebelum Keith sempat berkata, tiba-tiba sebuah tinju menghantam perutnya dengan amat keras.

Keith mengerang tertahan. Dia berusaha melompat mundur, namun sebuah tendangan kembali bersarang di wajahnya. Membuatnya terlempar ke belakang.

“Aku akan terus menghajarmu hingga kau memutuskan untuk ikut dalam perang.”

“Aku tidak ada waktu untuk bertarung denganmu!”

Keith menekan kedua kakinya ke tanah, dan dalam satu hentakan ke samping, dia menghilang.



***


Keith terus berlari hingga tiba di atap sebuah gedung tinggi. Nafasnya memburu. Bagi penyihir kelas rendahan seperti dirinya, menggunakan sihir percepatan sudah sangat menguras prana dan tenaganya.

“Setidaknya dia tidak akan bisa mengerjarku hingga ke sini,” Batin Keith cemas.

Dia tidak mengerti kenapa pria itu ngotot menginginkannya ikut dalam perang suci, padahal pria itu bukanlah siapa-siapa. Walaupun orang itu juga penyihir seperti dirinya, namun pria itu bukanlah orang yang berhak untuk berpartisipasi dalam perang, jadi seharusnya dia tidak peduli dengan perang ini.

Keiith berusaha mengatur nafasnya. Arloji di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit. Tinggal dua puluh menit lagi sebelum tahun baru.

“Tinggal sedikit lagi,” Ucap Keith seraya menatap ke kejauhan.

“Kalau begitu berhentilah membuang-buang waktu!”

Kedua mata Keith terbelalak kaget. Bagimana mungkin pria itu bisa menemukannya, seharusnya dia sudah lari cukup jauh dengan menggunakan sihir percepatan tingkat kedua. Sekalipun pria itu memang mengejarnya, seharusnya dia tidak akan bisa menyusulnya secepat ini kecuali jika pria itu sudah menguasai sihir percepatan tingkat atas.

“Bagaimana bisa kau menemukanku secepat ini?” Tanya Keith tidak percaya.

“Itu mudah saja jika kau menguasai sihir percepatan tingkat ketiga,” Jawab pria itu acuh.

Keith menelan ludah. Sihir percepatan bukanlah sihir yang bisa dikuasai dengan mudah. Bahkan dirinya sendiri butuh waktu lima tahun untuk mencapai sihir percepatan tingkat kedua.

Keith mengambil posisi siaga, jelas lawannya kali ini bukan orang sembarangan.

Dalam keadaannya saat ini, jelas mustahil bagi Keith untuk mengalahkan pria itu lawan pertarungan langsung. Satu-satunya cara untuk selamat adalah melarikan diri dari tempat itu.

Keith menekan kedua kakinya ke tanah sekali lagi. Kesempatannya hanya sekali, dan jika gagal berarti mati.

“Jangan harap cara yang sama akan berhasil untuk kedua kalinya!”

Melihat gerak-gerik Keith yang mencurigakan, pria itu langsung melompat maju. Di saat itu juga Keith langsung menggunakan sihir percepatan untuk berlari menuju tangga gedung.

“Jadi itu tujuanmu?”

Pria itu berbalik dan meningkatkan kecepatannya dengan sihir. Kini kecepatan keduanya imbang.

Pria itu melompat seraya mengayunkan tendangan keras ke samping dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Melihat serangan tersebut, Keith berguling ke samping dengan kecepatan yang tidak kalah gila.

Pria itu tidak berhenti di sana, dia langsung berputar dan mengayunkan kembali kakinya ke bawah tepat ke kepala Keith yang masih berlutut di tanah. Tidak dapat menghindari serangan tersebut, Keith menahannya dengan menyilangkan kedua tangan di atas kepala.
Tendangan berkecepatan luar biasa tersebut menghantam kedua lengan Keith. Walau hanyasebuah tendangan namun rasanya seperti dihantam oleh sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan seratus mil perjam. Lantai di bawah kaki Keith retak akibat gelombang serangan tadi.

Walau kedua tangannya serasa mau patah, Keith tetap tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia menangkap kaki pria itu dan dengan sekuat tenaga menariknya ke samping.

Pria itu kehilangan keseimbangan karena hanya berpijak dengan satu kaki dan ikut tertarik saat Keith melemparnya ke samping.
Tubuh pria itu menghantam pagar pengaman di sisi gedung dengan keras.

“Sekarang!!”

Keith segera menggunakan sihir percepatannya sekali lagi untuk berlari menuju tangga. Di saat dirinya sudah berada di depan tangga yang menuju ke bawah, tiba-tiba sebuah tendangan keras menghantam wajahnya, membuatnya kembali terlempar ke belakang.

“Tak kusangka kau bisa membuatku kewalahan seperti ini, kurasa aku terlalu meremehkanmu,” Sambil membersihkan debu dari pakaiannya, pria itu memandang Keith dengan geram.

“Kuberi kau satu kesempatan terakhir, jika kau tetap melawan maka aku tidak punya pilihan lain.”

“Jika aku menolak memangnya apa yang bisa kau lakukan?” Tanya Keith seraya bangkit sambil mengusap hidungnya yang berdarah.

Dan saat dirinya baru saja berhasil kembali berada di atas kedua kakinya, pria itu sudah berada tepat di depan wajahnya.

“Ap-?!”

Keith tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena sebilah pisau sudah lebih dulu menembus jantungnya.





***
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Last edited by Error; 05-18-2013 at 11:58 PM.
Reply With Quote
  #20  
Old 05-19-2013, 12:02 AM
Error's Avatar
Error Error is offline
Anak Muda
Join Date: May 2012
Location: Galactic Alliance Colony
Posts: 25
Default Chapter 1 Archer Part 2

Quote:
“Kalau kau tetap menolak maka aku hanya bisa membunuhmu,” Jawab pria itu dingin.

“Heh,” Keith tersenyum kecil, “jika kau membunuhku bukankah itu malah menghancurkan rencanamu?”

“Orang jenius selalu menyiapkan rencana C,” jawabnya seraya mencabut pisau yang menembus jantung Keith.

Pria itu mendorong tubuh Keith hingga terjatuh ke lantai. Dan seolah belum puas dengan hanya menusuknya, pria itu meraih pistol dari balik jas panjangnya dan melubangi tubuh Keith beberapa kali.

Darah mengucur deras dari tubuh Keith yang sudah tidak bernyawa.

Dengan tatapan dingin pria itu mendekati jasad Keith dan merogoh saku jaketnya.

“Sejujurnya, sejak awal aku hanya mengincar benda ini,” Ujar pria itu seraya mengambil sebuah benda metal yang berbentuk piramida dari dalam saku Keith.

Setelah itu, pria itu membuat diagram sihir dengan menggunakan darah segar yang menggenangi lantai di atap gedung tersebut. Diletakannya potongan besi tadi di tengah diagram sihir, lalu pria itu mulai membaca mantra pemanggilan.

Angin dingin mulai bertiup, cahaya kuning terang muncul dari diagram sihir dan semakin lama semakin terang.

“Dengan begini aku bisa memulai rencanaku,” Ucapnya pelan.

“Ti…dak….akan….kubiarkan..!”

Kedua mata pria itu melotot lebar, dan saat dia berbalik, yang dilihatnya adalah sepasang mata yang menyala merah.

“AAAARRGGHH…!!”

Pria itu menjerit keras saat jasad yang seharusnya sudah tak bernyawa itu tiba-tiba menggigit lehernya.



***


Seorang pria berpakaian militer berdiri tegap di atas diagram sihir. Dia adalah salah satu dari sekian banyak roh pahlawan yang ada, yang dipanggil melalui ritual pemanggilan untuk membantu tuannya memenangkan perang cawan suci.

Di hadapan sang roh pahlawan, seorang pria lain berdiri dengan tenang.

“Apakah anda tuanku?” Tanya sang roh pahlawan seraya memberi hormat ala militer.

“benar,” Jawab pria itu singkat.

“Perkenalkan, nama saya Halim Perdanakusuma, pelayan kelas Archer.”

“Perkenalkan juga, namaku…” Sebelum melanjutkan kata-katanya, pria itu melirik sesosok tubuh yang terbaring tak bernyawa di sampingnya.

“Keith.”


***
protes protes dah
Reply With Quote
Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 04:50 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2018, Jelsoft Enterprises Ltd.