Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > RUANG DISKUSI > Puisi
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 07-17-2014, 03:35 AM
tsp tsp is offline
Anak Muda
Join Date: Jul 2014
Posts: 9
Default Seputar Puisi

Bagaimanakah membuat puisi yang tidak punya tanggal kedaluwarsa yang meski ditulis dari peristiwa faktual tetapi tidak terperosok menjadi catatan harian atau poster?
Reply With Quote
  #2  
Old 07-20-2014, 09:51 AM
Misterious J Misterious J is offline
Anak Muda
Join Date: Feb 2011
Posts: 37
Default

Quote:
Originally Posted by tsp View Post
Bagaimanakah membuat puisi yang tidak punya tanggal kedaluwarsa yang meski ditulis dari peristiwa faktual tetapi tidak terperosok menjadi catatan harian atau poster?
apa seperti "Karangan Bunga - Taufiq Ismail"?
kalau ini sih jadi catatan sejarah :V
Reply With Quote
  #3  
Old 10-20-2014, 08:18 AM
tsp tsp is offline
Anak Muda
Join Date: Jul 2014
Posts: 9
Default 120. Ruh, Jiwa, dan Tubuh Sajak

Bila sajak diibaratkan manusia, ia hendaklah terbangun dari unsur-unsur tubuh (fisika), jiwa (psika), dan ruh (spirit). Tubuh sajak mengejawantahkan unsur-unsur yang kasat mata, ujud bahasa secara wantah. Jiwa sajak memancarkan tafsir makna, rasa emotif, duga-sangka logika, gejolak, suasana kepada indera pembaca. Ruh sajak tak muncul dalam sajak tetapi ia laten dan hanya dapat dirasakan oleh ruh pembaca. Ruh sajak, karenanya, tak selalu terbaca tak selalu terasa. Hanya pembaca dengan kepekaan ruhani saja yang dapat menerima pantulan cahayanya.

Tentu saja perihal ruh sajak ini boleh dimasukkan ke ranah mistik, wilayah “kesadaran tinggi”, dan boleh dinafikan oleh penikmat erotika bahasa dan gairah jiwa sajak semata. Ruh sajak boleh dianggap tiada oleh mereka yang belum sampai kepada pengalaman ruhani puisi, atau mereka yang secara sadar menyandarkan diri pada tubuh dan jiwa sajak semata, pada bentuk dan isi saja. Tak jarang, entah penyair entah pembaca syair merasa sudah bersentuhan dengan ruh padahal sesungguhnya mereka baru berasyik-masyuk dengan psikologi sajak. Pada kenyataannya, banyak penyair sengaja membatasi kerja puitiknya “hanya” pada tataran bentuk dan isi semata, tubuh dan jiwa sajak saja, bahkan ada yang terang-terangan berkukuh di makam tubuh atau bentuk belaka. Semua pilihan tentu kembali pada diri.

Saya menduga, urusan mistika sajak ini tak bisa direkayasa kemunculannya dalam sajak. Ia adalah pancaran dari kesadaran ruhani sang penyair (dan kejernihan cermin kalbu pembaca). Walau ruh, jiwa dan tubuh adalah satu kesatuan kodrati, tak serta-merta kehadirannya bisa utuh dalam satu kesatuan sebab kepaduan ketiga unsur hidup ini sangatlah ditentukan oleh tingkat kesadaran ruhani seseorang (dalam hal sajak, penyair). Sebagaimana tak semua orang dapat menampilkan pancaran sinar ruhaninya, demikian pula tak semua sajak berhasil memendarkan ruh–kebanyakan hanya melenggangkan tubuh dan gelora erotika puitik sahaja.

Last edited by tsp; 10-20-2014 at 08:23 AM.
Reply With Quote
  #4  
Old 10-20-2014, 08:25 AM
tsp tsp is offline
Anak Muda
Join Date: Jul 2014
Posts: 9
Default 117. Yang Tinggi dan Jauh atau Dekat Teraih Tangan?

PENYAIRKU, ada suatu masa ketika angan-angan tentang kesempurnaan itu begitu tinggi melangit. Saat mula-mula mengenal sajak, seperti tiba-tiba dihadapkan pada kerinduan yang tak terbendung pada Langit. Lahirlah sajak-sajak yang petang, yang gelap seperti langit kemarau yang begitu ingin menampilkan bintang-gemintang yang jauh, surga yang jauh, neraka yang jauh, Tuhan yang jauh.

Penyairku, sebelum engkau terjebak pikun menjadi dukun, ada baiknya membuka mata dari meditasimu, memandang sekeliling. Yang dekat-dekat saja, yang tampak oleh mata, yang bisa teraih tangan. Bila kau diberkati Dewi Puisi, sajak takkan lari ke mana.
Reply With Quote
  #5  
Old 09-26-2016, 11:47 AM
Monox D. I-Fly Monox D. I-Fly is offline
Anak Muda
Join Date: Jan 2011
Posts: 244
Default

Quote:
Originally Posted by tsp View Post
PENYAIRKU, ada suatu masa ketika angan-angan tentang kesempurnaan itu begitu tinggi melangit. Saat mula-mula mengenal sajak, seperti tiba-tiba dihadapkan pada kerinduan yang tak terbendung pada Langit. Lahirlah sajak-sajak yang petang, yang gelap seperti langit kemarau yang begitu ingin menampilkan bintang-gemintang yang jauh, surga yang jauh, neraka yang jauh, Tuhan yang jauh.

Penyairku, sebelum engkau terjebak pikun menjadi dukun, ada baiknya membuka mata dari meditasimu, memandang sekeliling. Yang dekat-dekat saja, yang tampak oleh mata, yang bisa teraih tangan. Bila kau diberkati Dewi Puisi, sajak takkan lari ke mana.
Aku tak ingin memandang langit
Biarlah aku memandang rerumputan
Micro
Karena dari sudut pandang seekor semut
Hamparan padang ini pun sudah terasa petualangan
Reply With Quote
Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 07:05 PM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.