Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > RUANG DISKUSI > Cerpen
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #21  
Old 08-13-2009, 11:00 AM
miss worm miss worm is offline
Anak Muda
Join Date: May 2007
Posts: 7
Default akhirnya dimulai juga pembahasan cerpen kita...

pertama-tama, terima kasih kepada mas hammam...

kedua, berikut beberapa hasil pembacaan saya. saya akan memulai dari hal-hal kecil dan teknis. setelah itu, baru membahas hal besar (ah tapi mungkin tidak perlu karena yang lain sudah melakukannya).

1. saya berbeda dengan beberapa teman yang sudah komentar di atas. saya justru agak terganggu dengan puisi di awal cerpen. keberadaan puisi itu membuat saya sempat berpikir mas hammam salah posting hahaha. saya lebih suka prosa diawali dengan elemen prosa: kalimat dan paragraf. dengan begitu, kemampuan penulis bisa langsung kelihatan, apakah dia bisa menyedot pembaca sejak awal karya atau tidak.

2. saya mempertanyakan pemakaian 'pada' dalam kalimat-kalimat berikut:
-Ia pikir bahwa mungkin banyak jiwa yang sama berjalan pada gelap. Pada gelombang yang entah apa.
-meski juga pada teori kuantum yang merajalela pada otak-otak brilian
-Dia hanya masih mengingat bahwa dia pernah bergerak-gerak cepat pada sebuah tangan
-Pada kesadarannya, dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?
-dll (kasus serupa banyak sekali, lho, michelle).

mengapa ini saya anggap penting? penulis perlu memerhatikan betul setiap kata yang dia gunakan, yang dia pilih untuk melengkapi kalimatnya. 'di' atau 'pada' atau 'dalam' atau 'kepada' atau 'ke' dst. sekilas memang terlihat sepele (hal sepele memang terlalu sepele untuk dipelajari), tetapi ada pembaca-pembaca tertentu yang cukup peka dan membedakan secara spesifik fungsi kata-kata tersebut.

3. kalimat berikut ini saya nilai tidak perlu: Ketika pun mereka harus berpapasan, mungkin tidak akan ada yang saling menatap.
karena dalam kalimat sebelumnya sudah dikatakan bahwa mereka tidak saling melihat. kalau mereka tidak saling melihat, berarti sudah jelas dong mereka tidak akan menatap. lalu, untuk apa mengulang informasi? jenis kalimat seperti ini boleh disebut sebagai lemak. kalau kata villam, bisa dihilangkan.

4. saya mempertanyakan susunan dan logika kalimat-kalimat berikut (dan sejumlah kalimat lainnya):
-Kalaupun keberadaan mereka mampu dijelaskan oleh teori atom di Fisika atau di Kimia, meski juga pada teori kuantum yang merajalela pada otak-otak brilian, apakah mereka sungguh perlu melihat diri masing-masing melalui mata yang berkekuatan mikroskop elektron? Sedang mereka, berjalan tanpa mata. (mengapa ada tanda koma di belakang kata 'mereka' dalam anak kalimat terakhir?)

-Dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat (atau ingat?) bahwa dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Dia pernah mengisi (nah, ini kontradiktif dengan pemakaian 'pada' di pembahasan di atas ketika penulis ngobrolin tangan dan jari) bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. Atau terserahnya (apa maksud kalimat ini?).

-Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus. (kenapa dua kalimat ini dipisahkan titik? ini bisa merancukan pemahaman) Dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun akhirnya dia lepas.

.... nah, segitu dulu... nanti dilanjut. *belum selesai membaca cerpen michelle dan harus buru-buru off*
Reply With Quote
  #22  
Old 08-13-2009, 11:50 AM
just_hammam's Avatar
just_hammam just_hammam is offline
Kisanak
Join Date: Jul 2008
Location: sementara di Palu
Posts: 877
Send a message via Yahoo to just_hammam
Default

Pembahasan yang menarik dan mendidik miss worm.

Saya tertarik poin pertama karena saya disebut-sebut heheehehe...
pertama saya harap saya tidak salah posting hehehehe, masak capek-capek copy paste ampe harus dibagi dalam dua posting ternyata puisi, duh merananya diriku.

Kedua saya sepakat dengan alasan yang dikemukakan miss worm. Masuk akal juga. Bukan berarti aku sepakat dengan pendapatnya ya...bingung kan...


Ayo lanjut...
__________________
dadio migunani tumraping liyan
visit Penerbit Ndok Asin
Reply With Quote
  #23  
Old 08-14-2009, 11:19 AM
rinitrihadiyati rinitrihadiyati is offline
Anak Muda
Join Date: May 2008
Posts: 12
Default

Wah thread ini menarik..
saya mencuri ilmu saja dulu, belum bisa comment ^_^
Reply With Quote
  #24  
Old 08-14-2009, 01:08 PM
Shinichi's Avatar
Shinichi Shinichi is offline
Panglima
Join Date: Aug 2007
Location: London, Tokyo, Daneldram
Posts: 2,166
Send a message via Yahoo to Shinichi
Default

Quote:
Originally Posted by fairynee View Post
sebagai pemula, aku ga milih-milih bacaan koq, khan lumayan buat curi ilmu, hehe...
trus kapan nee, panah hujan mau kasih petunjuk atau cara menulis cerpen. mau dunk...

Saia mau ndaptar jadi muridna! Ada bangku kosong kan? Ahak hak hak
__________________
Shinichi bersabda,
marilah kita membaca, menulis dan mengapresiasi di situs kemudian.com,
lalu
Jadilah pembaca yang budiman, penulis yang tekun dan pengkritik yang santun. Peristiwa 1:1

Reply With Quote
  #25  
Old 08-15-2009, 12:22 AM
just_hammam's Avatar
just_hammam just_hammam is offline
Kisanak
Join Date: Jul 2008
Location: sementara di Palu
Posts: 877
Send a message via Yahoo to just_hammam
Default

Mari-mari semua ikut....hehehehe

Woi...fokus, balik ke diskusi...
ada yang punya pendapat soal judul ga???
__________________
dadio migunani tumraping liyan
visit Penerbit Ndok Asin
Reply With Quote
  #26  
Old 08-15-2009, 11:01 PM
bob1985 bob1985 is offline
Join Date: Sep 2008
Location: Medan
Posts: 0
Default

Aku agak bingung kenapa cerita ini yang masuk untuk didiskusikan. Bukan apa-apa, menurutku cerita ini sudah habis dibombardir kemudian dan di notes penulis di fesbuk lagi. Tapi biarlah, mungkin ada lagi yang bisa didapat dari hal ini.

Jadi, aku membuat pendapatku soal tulisan ini di fesbuk.
--------------------
"Boby Ginting

bagian awal tulisan ini bikin aku mual.lebih mirip pameran isi otak yang menjemukan.

bagian berikutnya bolehlah, meski aku harus setuju dengan benz, bahwa kejelasan lokalitas itu kurang, tapi tidak seperti pernyataan benz sepenuhnya.
Entahlah, mungkin karena aku sudah tahu penulisnya dari bali, maka otakku langsung paham bahwa itu berada di bali.
tapi,
berlainan dengan benz, aku merasa sepertinya penulis sengaja tak terlalu jelas soal lokasi itu, karena ada pemikiran bahwa pembaca "lingkaran dalam" yang sudah paham siapa penulis, dan paham tradisi penulis.

-------------------
Begitu saja.

Sekarang aku membaca lagi tulisan ini, dan aku terpaksa mengatakan bagian awal tetap membuatku mual karena penuh dengan hal-hal yang membuatku jemu. Ini mirip dengan pengetahuan yang bertabrakan (sekali lagi tabrakan: yang menghancurkan) di kepala penulis. Sebagai sebuah pengantar, rumit dan tidak mencerahkan.. Coba baca artikel INI

Bagian kedua: aku terantuk dengan bagian ini:
Quote:
“Kenapa?” Dia tidak menginginkan penjelasan medis.

“Kankernya.”

“Kenapa?” Dia masih bertanya.
Aku menyakini bagian ini masih bisa dipermak, untuk menunjukkan Callista menanyakan sesuatu dengan jawaban yang "bisa diterima". Aku tak peduli apakah cerita ini berdasarkan kisah nyata atau tidak, tapi kupikir bisa membuat logika cerita yang lebih pas. Menurutku deskripsi "dukacita" callista yang tak terima dengan kematian mendadak "sang ibu" (menjadi aneh ketika penyakitnya disebut kanker (bukan penyakit jantung?). Tapi ini pun bisa juga diperdebatkan dengan mengatakan Callista memang tak bisa terima "dengan kematian" bagaimana pun caranya.

Bagian Ketiga
[quote]“Callista, jangan tidur di sini. Nanti bau formalinnya merusak kerja tubuh Callista.”/QUOTE]
Kalimat ucapannya menurutku terlalu kaku.

Bagian keempat dan sterusnya, aku bisa nikmati meski aku juga tidak begitu paham dengan pemakaian kalimat-kalimat berikut :
Quote:
Di laut, semuanya hilang. Semuanya menyatu. Atom-atom pada tulang, atom-atom pada abu, menyatu dengan atom-atom pada air, atom-atom di udara.
Pada akhirnya, aku berandai-andai mengapa penulis mesti melukiskan kematian ibu Callista dengan cara demikian. Aku berasumsi si penulis sedang membuat kalimat perbandingan untuk melukiskan betapa spektakulernya kehancuran hati itu saat kehilangan 'seseorang yang dicintai" seperti ibu. Terlalu spektakuler mungkin, hingga aku merasa bahwa ini seperti diary yang diubah jadi sudut pandang orang ketiga.

NB: Soal judul? Aku enggak terlalu peduli dengan judul sih, meski banyak suara cerewet soal ini. Tapi memang, aku merasa judulnya aneh. Apakah penulis yang salah kaprah atau memang kebanyakan kita yang latah, menautkan Kartini sebagai simbol apa pun dalam perjuangan perempuan Indonesia. Ya, Kartini memamg harus diakui sebagai perintis pendidikan buat perempuan di Indonesia. Tapi, agak heran ketika Kartini dipakai dalam penyebutan "kehilangan ibu" menjadi kehilangan kartini. Kartini tidak pernah merasakan jadi ibu. Mungkin dia nyaris menjadi ibu, tapi tak pernah merasakan jadi ibu, karena meninggal saat melahirkan anak pertamanya. Jadi simpulkan saja sendiri
__________________
Tanda tangan sekaligus Tanda kaki?
Reply With Quote
  #27  
Old 08-16-2009, 07:45 AM
just_hammam's Avatar
just_hammam just_hammam is offline
Kisanak
Join Date: Jul 2008
Location: sementara di Palu
Posts: 877
Send a message via Yahoo to just_hammam
Default

hehehehe..maafkan ketidaktahuanku kalo ini sudah dibombardir di pesbuk Bob, tapi tidak apa-apalah, yang punya kagak keberatan, yang baru juga banyak disini...(iya ga sih??) hehehe
__________________
dadio migunani tumraping liyan
visit Penerbit Ndok Asin
Reply With Quote
  #28  
Old 08-17-2009, 02:33 PM
someonefromthesky's Avatar
someonefromthesky someonefromthesky is offline
Kisanak
Join Date: Nov 2007
Location: Bandung
Posts: 627
Default

Wah, saya terkesan dengan cerita pembukanya (bukan yang bagian puisi, tapi yang paragraf tentang roh itu). Bagian itu bertautan dengan ide yang juga disinggung pada bagian akhir, mengenai konsep reinkarnasi, dan mungkin juga bayangan penulis mengenai proses reinkarnasi itu sendiri (yang ia coba jelaskan dengan istilah-istilah fisika, alih-alih menggunakan istilah keagamaan). Namun kebiasaan si penulis untuk menggunakan gaya puitis terus terasa dan muncul pada paragraf-paragraf berikutnya, kadang membuat indah, kadang membuat aneh. Keanehan itu seperti yang sudah dibahas oleh Miss Worm mengenai kata sambung dan pemenggalan kalimat yang menurutnya kurang normal.

Tapi kalau dalam kalimat
Sedang mereka, berjalan tanpa mata.
menurut saya meskipun penggunaan koma dalam kalimat itu bukan seperti dalam kalimat majemuk, hal itu bukan suatu masalah. Penempatan koma di situ membuat pembaca berhenti sejenak, yang mengakibatkan adanya penekanan pada kata mereka. Penulis mungkin ingin agar pembacanya membaca dengan nada dan intonasi seperti itu. Walaupun memang hal semacam ini biasanya lebih umum digunakan di dalam dialog, bukan dalam narasi. Tapi ya, kalau buat saya sih peraturan semacam itu boleh dilanggar asalkan masih enak dibaca.

Just my opinion.
__________________
"Tinta itu hitam, Jenderal."
Reply With Quote
  #29  
Old 08-17-2009, 09:10 PM
just_hammam's Avatar
just_hammam just_hammam is offline
Kisanak
Join Date: Jul 2008
Location: sementara di Palu
Posts: 877
Send a message via Yahoo to just_hammam
Default

opini yang menarik, melihat sisi lain kesalahan koma...hehehehe

Tapi gini om dari angkasa, kan bicara soal peraturan yang dilanggar, kalo boleh tahu bunyi peraturan tersebut resminya bagaimana? jadi kita bisa belajar bareng.
Oke om dari angkasa?
__________________
dadio migunani tumraping liyan
visit Penerbit Ndok Asin
Reply With Quote
  #30  
Old 08-18-2009, 02:47 AM
someonefromthesky's Avatar
someonefromthesky someonefromthesky is offline
Kisanak
Join Date: Nov 2007
Location: Bandung
Posts: 627
Default

Quote:
Originally Posted by just_hammam View Post
opini yang menarik, melihat sisi lain kesalahan koma...hehehehe Tapi gini om dari angkasa, kan bicara soal peraturan yang dilanggar, kalo boleh tahu bunyi peraturan tersebut resminya bagaimana? jadi kita bisa belajar bareng. Oke om dari angkasa?
Nah, kalo soal peraturannya mending tanya Miss Worm aja yg lebih ahli... hehe.
__________________
"Tinta itu hitam, Jenderal."
Reply With Quote
Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 04:29 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2018, Jelsoft Enterprises Ltd.