|
#441
|
||
|
Anak Muda
|
Quote:
"Aneh," gumamnya sambil kemudian menyeruput cappuccino. "Baru saja aku melihat rekormu di papan itu," kata Wilder sambil menunjuk papan pengumuman tak jauh dari tempat mereka berdua duduk. "Rekor yang luar biasa..." "Hmm... terima kasih..." kata Allan sambil tersenyum. Namun, wajahnya tetap menyiratkan kegalauan. Wilder membetulkan kacamata bertambalnya. "Tapi, kenapa dengan wajahmu?" Allan menoleh menatap Wilder, "kenapa?" Wilder mengangkat tangan kirinya dan menyentuh kepala Allan. "Eh? A-ap--" belum sempat Allan menyelesaikan kata-katanya, Wilder segera menghantamkan kepala Allan ke atas meja bar dengan sangat keras, "AAAAAAAAAARGH!!" Wilder menyeruput lagi cappuccinonya. "Si-sial... apa yang kau pikirkan!!!" bentak Allan. "Kau tadi meminta maaf kan? Dengan itu semua impas," jawab Wilder datar sambil beranjak dari kursinya. "Kau dan aku akan berlanjut kan? Aku tak sabar menunggumu..." Wilder melirik ke arah Allan yang sedang mengusap-usap bagian keningnya yang sakit. "All man need guts, kalau kau merasa kesal, balaslah aku di turnamen nanti. Aku tunggu." Wilder berjalan dengan langkah sedikit terpincang meninggalkan Allan ke dalam kamarnya. Sementara itu, Allan menatap kaki kiri Wilder yang berbeda dari sebelumnya hingga akhirnya Wilder menghilang dari jangkauan pandangnya. "Guts, huh?" Allan tersenyum, "terima kasih, Wilder, aku terlalu banyak berpikir... Mungkin memang sudah saatnya aku lebih serius dalam menjalani semua ini, begitu maksudmu kan... Wilder..." Last edited by field.cat; 09-30-2012 at 02:46 PM. |
|
|
#442
|
|
|
Anak Muda
Join Date: Mar 2010
Location: somewhere in the dark
Posts: 72
|
Allan memutar matanya. Hidungnya sampai berdarah, tentu saja mencium meja kayu yang keras bukan hal menyenangkan. Seorang maid kafe menyodorkan kain putih dan langsung digunakan untuk membersihkan darah di wajahnya.
"Aku tidak perlu membalasmu Jeremy Wilder," bisik Allan seraya menyeringai melihat pincangnya Wilder. Diambilnya biola serta busur dan mulai memainkannya, kemudian berjalan mengikuti Wilder, diikuti tiga gagak pengawalnya. Beberapa saat setelah ia pergi, terdengar bunyi kayu yang berderak-derak sampai akhirnya suara pecahan kayu. Allan menemukan Wilder di lorong motel yang remang-remang, mungkin pria itu hendak kembali ke kamarnya, atau ke kamar Keilantra, atau entah apa bukan saya yang memegang kendali Wilder #plak. Lengkingan biola Allan yang menjadi nada terakhirnya, membuat Wilder menoleh ke belakang dan menemukan pria yang tersenyum ke arahnya. "Aku tak ada urusan lagi denganmu," ujar Wilder ketus. "Aku hanya ingin bertanya," kata Allan, "Merasa lebih baik dengan kaki barumu?" Wilder mengernyitkan keningnya, "Huh? Apa-apaan itu? Kau mau sok peduli, hah?" Loncat.. Loncat.. Loncat.. Loncat.. Sesuatu meloncat-loncat mengikuti Allan dengan gerakan dan bunyi gemeretak yang tidak wajar. Mata Wilder membelalak melihatnya. "Merasa familiar?" Allan memainkan biolanya, "Aku tanya sekali lagi, apa kau merasa nyaman dengan kaki barumu?" "Ka-Kauu.." Wilder benar-benar geram. "Setelah mengalahkanku," Allan menatap Wilder sinis, "Kau boleh mengambilnya, tentu saja kalau kau mau. Aku tidak akan minta maaf dua kali padamu. Oh, kita tidak impas, tentu kita tidak pernah impas. Namun jika kau mati sebelum mengalahkanku," Allan tersenyum, "Izinkan aku mengurus pemakamanmu." Setelah berkata begitu, Allan membalikkan badan dan kembali memainkan biolanya, kemudian kembali ke kafe. Diikuti sesuatu--kalian pasti tahu apa--yang meloncat-loncat dengan gerakan tak wajar. Seakan mengejek Wilder. Last edited by Ann Raruine; 09-30-2012 at 04:24 PM. |
|
#443
|
||
|
Anak Muda
|
Quote:
Wilder memastikan Allan telah menghilang dari pandangannya, tentu saja dia memilih untuk tak mencari masalah di sini. Dilepaskannya kacamata hitam bertambalnya. "Makhluk munafik macam apa kau Allan?" gumam Wilder. "Perubahan rencana, kurasa dia memang tak bisa diajak berbaikan..." Wilder segera menutup pintu kamarnya. "akan kupastikan kematianmu, Allan..." Wilder tersenyum. Bukan kakinya yang dia pedulikan, yang terpenting adalah sikap Allan yang telah membuatnya habis kesabaran. Lagipula Wilder tampak sangat yakin. Kebodohan Allan yang memperlihatkan kemampuannya di depan Wilder tentu akan memperbesar kemungkinan dirinya mengalahkan Allan. |
|
|
#444
|
|
|
Anak Muda
Join Date: Jul 2012
Posts: 8
|
Shina menghembuskan nafas. ia menatap Yuu yang sama-sama dalam proses depresi sepertinya. ia menatap Lara yang membuatnya jijik karena ia melayang-layang tak jelas. ia menatap Makoto yang tampak sedang membersihkan pedangnya.
Shina menghembuskan nafas. dan kemudian ia teringat kakaknya. Shina menghembuskan nafaslagi dan kemudian meletakkan kepalanya di meja. ia malas, ia tidak ingin melakukan apa-apa. |
|
#445
|
|
|
Anak Muda
Join Date: Apr 2012
Posts: 74
|
Mliit memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kafe sambil mengingat-ingat sesuatu... Sensasi kematian... Aneh, dan membingungkan...
Sampai seseorang memanggilnya. "Oi bantet, sedang galau ya?" Tentu saja dia adalah Ezequiel... |
|
#446
|
|
|
Anak Muda
Join Date: Oct 2011
Location: Behind you
Posts: 161
|
Ezequiel berlari-lari kecil menghampiri Mliit, tangannya diangkat tinggi-tinggi. Mliit dengan malas mengangkat tangannya juga. High Five pikirnya.
Itu... itu bukan High Five. Mliit menyadarinya saat tangan kanan Ezequiel bergerak mengayun kedepan. "PLAAK!!" Tamparan telak menyentuh pipi kiri Mliit. "Hahah! Bagaimana kabarmu, bantet. Kulihat kau sedang bermelow ria sekarang," ujar Ezequiel setelah menampar. Mliit menggelepar di lantai kafe.
__________________
"Like I Care" |
|
#447
|
|
|
Anak Muda
Join Date: Sep 2011
Posts: 65
|
Sebuah portal hitam di langit-langit Kafe Antar Realm membuat beberapa orang menoleh. Dari dalam portal tersebut, seorang gadis berambut pendek dan seorang bocah dekil yang berlumuran darah jatuh ke bawah.
Debruk! Beberapa maid yang berdomisili di dekat si gadis dan bocah dekil dengan sigap langsung menghampiri mereka, dan lalu menggotong keduanya ke dalam Ruang Pengobatan. |
|
#448
|
|
|
Anak Muda
Join Date: Mar 2010
Location: somewhere in the dark
Posts: 72
|
Setelah menguburkan potongan tubuh Wilder di suatu tempat tergelap kafe, Allan berdiri di depan papan pengumuman. Ternyata Lena tidak mengikuti ronde dua dan tiga, gadis pembenci gagak itu juga menghilang. Beberapa orang menarik yang belum sempat ia temui juga menghilang, sepertinya sesuatu yang mengerikan terjadi di ronde dua. Ah, mungkin dia akan bertemu dengan Rune di ronde turnamen.
Allan tersenyum tipis, matanya menangkap GALON yang berdiri di tengah-tengah kafe dan nampak kebingungan. "Hei, ada apa? Kau tampak kacau begitu?" Allan menunduk sampai sejajar dengan tabung air itu. "Ti-tidak apa-apa, Ndreee.." sahut GALON setengah takut setengah bingung. "Hm, benarkah?" Allan mengernyitkan keningnya, "Ruang pengobatan di sebelah sana kalau kau butuh, ndre," kemudian pria itu menepuk pundak (?) si tabung air, "Ronde turnamen sudah dekat, sungguh menyenangkan makhluk sepertimu juga akan maju, ndre. Kalau kau masih terlihat lemah begitu, kau akan gampang tertindas." Tanpa memberi kesempatan GALON untuk membalas, Allan kembali ke bar tempat ia duduk semula. "Singkirkan cappuccino itu, aku sudah tak memerlukannya," katanya pada pelayan kafe, lalu ia memesan sebotol anggur lagi dan langsung dihabiskan. "Tuan, Anda tidak mengikuti Bonus Level I?" tanya seorang pelayan sembari menunjuk sebuah portal yang masih menyala. “Bonus Level I?” Allan mengernyitkan keningnya. “Benar Tuan, beberapa peserta sudah masuk ke lubang itu untuk menambah poin. Saya dengar mereka melalui balapan lewat empat menara,” jawab seorang pelayan ragu-ragu. “Menara? Sepertinya menarik,” sahut Allan, senyumnya mengembang. “Tidakkah Tuan ingin mencobanya? Tuan Link sudah lama kembali dari lubang itu, poin Anda bisa saja terkejar bila tidak melewati Bonus Level,” lanjut si Pelayan, matanya yang bulat berkilat-kilat. Allan tertawa, “Apa itu berarti kau mendukungku?” Tanpa memperhatikan si pelayan yang mendengus kesal, Allan masuk ke portal yang ditunjuk pelayan itu. Kemudian ketiga gagaknya menyusul. |
|
#449
|
|
|
Anak Muda
Join Date: Aug 2011
Location: Croix
Posts: 58
|
[kejadian yang tertulis di sini harusnya terjadi 4-5 halaman yang lalu]
Aku mendarat di kafe, Rafolt entah mengapa belum sampai, untuk mengisi waktu, aku berjalan ke papan pengumuman yang mulai berubah, betapa kagetnya diriku melihat hasil posisiku di dalam grup, Peringkat 3. Sampai di ronde kedua, entah siapa yang menilai pertarunganku rendah, padahal aku selalu menang! “Kak Link kenapa?” Alice menyapaku dari bahu Kaito. “A—aku, aku, kemungkinan harus mengulang kelas di sekolahku tahun ini!” [gw lupa copas] |
|
#450
|
|
|
Anak Muda
Join Date: Apr 2012
Posts: 74
|
Mliit menatap kemeriahan kafe antar realms untuk yang terakhir kali. Ada berjuta rasa yang tak tergambarkan dalam hatinya ketika Sakaki menciptakan 32 portal dimensi untuk 32 peserta kembali ke dunianya masing-masing. Mliit pun menarik napas dalam-dalam.
Mliit pun melangkahkan kakinya perlahan memasuki portal miliknya. "Selamat tinggal... semuanya..." END OF SEASON 2 Last edited by Grande_Samael; 04-04-2013 at 05:30 AM. |
![]() |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|