Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > Artikel > Tentang Penulis
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 08-22-2009, 01:57 PM
jayhawkerz's Avatar
jayhawkerz jayhawkerz is offline
Kisanak
Join Date: Nov 2008
Location: jekardda
Posts: 569
Send a message via Yahoo to jayhawkerz
Default Biografi W.S. Rendra

Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir Solo, 7 November 1935) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah. Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu. Ia memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, St. Yosef di kota Solo. Setamat SMA Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup. Lalu ia pergi ke Yogyakarta dan masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya , tidak berarti ia berhenti untuk belajar. Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat. Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an. “Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India. Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995). Untuk kegiatan seninya Rendra telah menerima banyak penghargaan, antara lain Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954) Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956); Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970); Hadiah Akademi Jakarta (1975); Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976) ; Penghargaan Adam Malik (1989); The S.E.A. Write Award (1996) dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.

Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati. Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti tak lama kemudian.

Karya Sajak/Puisi W.S. Rendra
Jangan Takut Ibu
Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
Empat Kumpulan Sajak
Rick dari Corona
Potret Pembangunan Dalam Puisi
Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!
Nyanyian Angsa
Pesan Pencopet kepada Pacarnya
Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
Perjuangan Suku Naga
Blues untuk Bonnie
Pamphleten van een Dichter
State of Emergency
Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
Mencari Bapak
Rumpun Alang-alang
Surat Cinta
Sajak Rajawali
Sajak Seonggok Jagung
__________________
"Berbagi waktu dengan alam, kau akan tau siapa dirimu yang sebenarnya. Hakikat Manusia."


About Me ~ Aksara Maya ~ Kemudian ~ Deviantart ~ Twitter ~ Goodreads ~ Rumah Sketsa
Reply With Quote
  #2  
Old 09-26-2009, 10:39 PM
samalona's Avatar
samalona samalona is offline
Anak Muda
Join Date: Jan 1970
Location: Makassar, Bogor, Surabaya, Nusa Dua
Posts: 167
Default

Saya mempelajari "Balada Atmo Karpo" di SMA. Sampai sekarang seperti masih terdengar derap kuku-kuku kuda yang diceritakan dalam sajak itu.
__________________
We always did feel the same
We just saw it from a different point of view
-- Bob Dylan, Tangled Up in Blue
Reply With Quote
  #3  
Old 09-27-2009, 12:18 AM
someonefromthesky's Avatar
someonefromthesky someonefromthesky is offline
Kisanak
Join Date: Nov 2007
Location: Bandung
Posts: 627
Default

Quote:
Originally Posted by Samalona View Post
Saya mempelajari "Balada Atmo Karpo" di SMA. Sampai sekarang seperti masih terdengar derap kuku-kuku kuda yang diceritakan dalam sajak itu.
wah iya, saya juga. Jadi terkenang. Disuruh baca itu di depan kelas, susah amat. Jangan-jangan buku bahasanya sama?
__________________
"Tinta itu hitam, Jenderal."
Reply With Quote
  #4  
Old 03-11-2010, 05:37 PM
jayhawkerz's Avatar
jayhawkerz jayhawkerz is offline
Kisanak
Join Date: Nov 2008
Location: jekardda
Posts: 569
Send a message via Yahoo to jayhawkerz
Default

Loh? Pada nostalgia nih. Silakan dilanjut deh!
__________________
"Berbagi waktu dengan alam, kau akan tau siapa dirimu yang sebenarnya. Hakikat Manusia."


About Me ~ Aksara Maya ~ Kemudian ~ Deviantart ~ Twitter ~ Goodreads ~ Rumah Sketsa
Reply With Quote
  #5  
Old 07-28-2010, 11:30 AM
Ari KPIN's Avatar
Ari KPIN Ari KPIN is offline
Anak Muda
Join Date: Apr 2010
Location: Paris van Java
Posts: 85
Default

trims infonya, kawan... senang juga ada yang naruhin profil mas Willy.
__________________
Sedikit Corat-Coret
Reply With Quote
  #6  
Old 11-10-2010, 11:01 PM
Canon Bender's Avatar
Canon Bender Canon Bender is offline
Anak Muda
Join Date: Oct 2010
Posts: 412
Default

jadi inget pengalaman pertama dan terakhir ketemu WS Rendra ..
dia dikenalin sama seorang om2. tapi gua ga tau sp itu WS Rendra, jadi cuma lempar senyum dan ngangguk doang....

ga taunya ... aaaaa nyesel, harusnya gua sodorin tangan buat salaman waktu itu wkwkwk
__________________

this eye has emotion which talks deeper than words

I saw heaven, but I skipped it
I tried hell, but I didn't like it there

Reply With Quote
  #7  
Old 11-22-2015, 09:35 AM
kapalpesiarspeedboat's Avatar
kapalpesiarspeedboat kapalpesiarspeedboat is offline
Anak Muda
Join Date: Nov 2015
Location: united states
Posts: 9
Default

Saya salut Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya.
__________________
www.kapalspeedboat.com
Reply With Quote
  #8  
Old 07-18-2016, 11:50 AM
Monox D. I-Fly Monox D. I-Fly is offline
Anak Muda
Join Date: Jan 2011
Posts: 244
Default

Quote:
Originally Posted by jayhawkerz View Post
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.
Saya jadi penasaran akan karya-karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang... Mau buat belajar sekalian...

Quote:
Originally Posted by jayhawkerz View Post
Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!
Saya juga penasaran sama karyanya yang ini...
Reply With Quote
Reply

Tags
biografi-kecil, jayhawkerz, w.s. rendra

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 08:05 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.