Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > Artikel > Belajar Menulis
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #11  
Old 02-17-2010, 09:53 PM
thequeenofwords thequeenofwords is offline
Anak Muda
Join Date: Jan 2010
Posts: 76
Post The fact about Ghostwriter :)

Hehehehe....Pemikiranku sederhana saja (kalau memang pemikiranku beda dengan GHOSTWRITER lainnya). Aku punya PEMIKIRAN-PEMIKIRAN bagus yang bisa MEMPENGARUHI orang lain. Tetapi APAKAH DENGAN MENCANTUMKAN NAMAKU DI BUKU, pembacanya akan melihat bedanya? Aku menulis BIOGRAFI seorang pastor. Namaku ada di buku itu, persis di bawah namanya, di halaman dalam bukunya. NAMAKU DIHILANGKAN di buku keduanya karena itu adalah buku kesaksian pertobatannya (bukan biografi).

Tetapi...JUSTRU karena tak ada namaku di buku itu, BUKU ITU BEST SELLER. hehehehe....PEMBACA KITA membeli buku karena beberapa alasan, antara lain:

1. Penulisnya mereka KENAL (public figure yang populer)

2. Harganya TERJANGKAU.

3. Bukunya DIREFERENSIKAN atau dipromosikan sebagai buku yang LAYAK DIBACA oleh kaum kritisi atau (sekali lagi) tokoh masyarakat.

4. Sampulnya dan JUDULNYA eyes catching atau MENARIK.

5. Sinopsis ceritanya bagus.

ISI baru diakui oleh pembacanya setelah DIBELI dan DIBACA. Kesadaran bahwa POPULARITAS menunjang PENJUALAN bukunya itulah, GHOSTWRITER merelakan namanya dibuang. Yang penting tujuan penulisan dan pesannya tersampaikan dengan baik. Kamu, aku atau dia bisa saja meminjam mimbar (alm.)GUS DUR untuk bicara tentang pluralistik, namun tetap akan terasa beda bila yang bicara adalah (alm.) GUS DUR sendiri.
Reply With Quote
  #12  
Old 02-18-2010, 08:06 AM
Shinichi's Avatar
Shinichi Shinichi is offline
Panglima
Join Date: Aug 2007
Location: London, Tokyo, Daneldram
Posts: 2,166
Send a message via Yahoo to Shinichi
Default

Ummm... Sekalinya masuk forum, ada yg ngebahas ghostrider yak? Ic... Ic...
__________________
Shinichi bersabda,
marilah kita membaca, menulis dan mengapresiasi di situs kemudian.com,
lalu
Jadilah pembaca yang budiman, penulis yang tekun dan pengkritik yang santun. Peristiwa 1:1

Reply With Quote
  #13  
Old 02-18-2010, 08:08 AM
yosi_hsn yosi_hsn is offline
Moderator
Join Date: Jan 2007
Location: Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia
Posts: 36
Default

saya pribadi lebih setuju dengan pendapat diawal yang mengatakan keberadaan ghostwriter adalah hal yang lumrah dan tidak perlu dipertentangkan. Ghoswriter, menurut saya, adalah sebuah bentuk dari simbiosis yang saling menguntungkan, seperti the queen bilang, antar a mereka yang memiliki ide dengan mereka yang mampu mengaktualisasikan ide tersebut. Terjadi sebuah kesepakatan yang (bisa dianggap) saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bila tidak ada yang merasa dirugikan dalam hal ini, maka profesi ini menjadi sesuatu yang sah-sah saja. Dan masyarakat tidak berhak memberikan penilaian benar atau salah. Lain cerita bila ghostwriter dianggap sebagai sebuah profesi yang ilegal.

Saya pribadi mungkin bisa saja menjadi salah satu pelaku hal semacam itu bila memang ada kesempatan. Bila saya memiliki ide dan ada yang ingin menuliskannya, kenapa tidak? Dan sebaliknya, bila ada yang meminta saya menuliskan sebuah ide yang terdengar menarik dengan imbalan yang sesuai, kenapa tidak? Kita tiak bisa segera menilai bahwa orang semacam itu adalah pihak yang tidak memiliki idealis dan tidak menghargai nilai sebuah karya, karena pertimbangan yang mendasari kesepakatan semacam itu sudah mencakup tidak hanya sekedar idealisme menulis dan penulis 9seperti apa yang dibilang the queen di atas).

Semuanya dikembalikan lagi pada pihak yang terlibat, terutama pada sang penulis itu sendiri, apakah dia memang membutuhkan sebuah apresiasi dari masyarakt luas atas karyanya atau cukup dengan merasa puas terhadap hasil tulisannya sendiri. Akan berbeda bila sang ghostwriter mulai merasa galau dengan posisinya sendiri dalam sebuah karya yang dia dampingi. Maka pertanyaan yang berikutnya perlu dikeluarkan adalah, mengapa ghostwriter tersebut tidak menulis dan menerbitkan karya sendiri?
Reply With Quote
  #14  
Old 02-18-2010, 08:28 AM
Shinichi's Avatar
Shinichi Shinichi is offline
Panglima
Join Date: Aug 2007
Location: London, Tokyo, Daneldram
Posts: 2,166
Send a message via Yahoo to Shinichi
Default

Quote:
Originally Posted by yosi_hsn View Post
Maka pertanyaan yang berikutnya perlu dikeluarkan adalah, mengapa ghostwriter tersebut tidak menulis dan menerbitkan karya sendiri?

Waduuhh...
Gimana yak, mbak. Saia gak tau harus pegimana njawabna.
Malu saia.


Ahak hak hak


Kabbbuuurrrr
__________________
Shinichi bersabda,
marilah kita membaca, menulis dan mengapresiasi di situs kemudian.com,
lalu
Jadilah pembaca yang budiman, penulis yang tekun dan pengkritik yang santun. Peristiwa 1:1

Reply With Quote
  #15  
Old 02-18-2010, 09:20 AM
someonefromthesky's Avatar
someonefromthesky someonefromthesky is offline
Kisanak
Join Date: Nov 2007
Location: Bandung
Posts: 627
Smile

Quote:
Originally Posted by thequeenofwords View Post
Ya, Aku ingin DENGAR pendapat orang lain mengenai hal itu. DENGAR berarti aku TIDAK MENGELUARKAN SUARA, tetapi MEMBUKA TELINGAKU LEBAR-LEBAR kepada opini orang lain. Tetapi karena kamu MEMAKSAKU BICARA. Aku akan bicara. hehehehe....

Aku adalah PENULIS BAYANGAN (ghostwriter). Aku menulis untuk orang lain. Aku dibayar untuk itu. Yang DIPERMASALAHKAN di sini INTEGRITAS PENULIS BAYANGAN atau PENULIS UTAMANYA (yang menanggung 100% biaya penulisan dan cetaknya) ya?

Mari kita bicara tentang PROFESIKU ini:
1. Aku dan penulis utamanya (public figure, of course) duduk satu meja dan bicara tentang JUDUL BUKU, TOPIK, TEMA, HALAMAN BUKU, PROLOG/PENDAHULUAN, KATA PENGANTAR, dll.

2. Penulis utamanya (public figure tersebut) memberi GARIS BESAR BUKUNYA, IDE-IDE, MENENTUKAN SIAPA YANG HARUS DITEMUI UNTUK WAWANCARA, MENENTUKAN TANGGAL LAUNCHING BUKUNYA, COVERNYA, dll.

3. Penulis bayangan (ghostwriter) hanya MENGEMBANGKAN IDE-IDE SI PENULIS UTAMA, MEMBANTUNYA MENULIS hal-hal penting yang perlu ditambahkan di bukunya, membuat outline supaya prinsip-prinsip yang digunakan menyatu dengan ilustrasi yang dipakai di bukunya itu dan TIDAK BERKEMBANG KE MANA-MANA.

4. Penulis bayangan TIDAK BERHAK ATAS ROYALTY buku karena memang namanya tidak dicantumkan di buku, tetapi ia menerima UPAH KERJA (paling sedikit Rp. 10.000.000). Ini sih bergantung kesepakatan. Tetapi jika kurang dari Rp. 10.000.000...RUGI di waktu dan transport karena kita harus menemui penulis utamanya atau mengikuti kegiatannya sesuai JADUALNYA.

5. Penulis bayangan TIDAK MENJUAL IDE atau MEMBELI IDE. Karena IDE dikeluarkan (MURNI) oleh Penulis Utamanya.

PROSES EDITING DAN FINAL EDITING: kita mengerjakannya bersama-sama karena jika ada KESALAHAN TEORI, KATA ATAU SALAH CETAK...kesalahan itu 100% ditanggungkan ke Penulis Utamanya. Karena PEMBACA hanya mengenal satu nama di buku itu, yaitu nama penulis utamanya.

MENGENAI IDE YANG DIPERJUAL-BELIKAN....Itu 'kan hanya IDE. Itu pun dibeli berdasarkan kesepakatan bersama. Dalam artian, Si EMPUNYA IDE memang sengaja MENJUALNYA sehingga tak ada yang dirugikan dalam kesepakatan itu. MENGENAI KUALITAS BUKUNYA itu 'mah bergantung CARA BERPIKIRMU SAJA. Aku tak pernah mau beli BUKU JIPLAKAN karya plagiator atau baca buku yang MENIRU KARYA orang lain.

Sekali lagi...ITU PRINSIP PRIBADIKU. Kalau ada orang yang mau beli dan baca buku-buku itu...SILAKAN. Itu hak pribadi mereka.

Sip! Berarti disini ada narasumbernya langsung, bisa lebih sehat diskusinya. Sepertinya Mbak Queen ini adalah tipe ghostwriter yang menulis berdasarkan diskusi dari si "penulis" utamanya, saya rasa itu baik sekali. Mungkinkah profesi ini bisa dibilang seperti "juru tulis"? Saya rasa tidak ada masalah ketika seseorang--katakanlah selebritis--ingin menceritakan sesuatu kepada publik, namun ia tidak sanggup atau tidak sempat menulis, maka dia menyewa seorang juru tulis untuk menuliskan ide dan cerita-ceritanya itu. Bagi saya, permasalahannya bukan dalam hal menyewa juru tulis/asisten itu, tapi justru dengan tidak menampilkan nama si juru tulis di dalam buku, bukankah itu seperti membohongi pembaca demi keuntungan komersil? Darimana pembaca bisa tahu bahwa buku yang ia baca menggunakan jasa ghostwriter atau murni tulisan si selebriti? Apakah ada semacam pemberitahuan kecil seperti "buku ini menggunakan jasa penulis bayangan tanpa mengurangi esensi buku"? Saya rasa kalau ada pemberitahuan sederhana seperti itu, rasanya akan lebih jujur dan tidak terkesan membohongi. Memang, itu adalah simbiosis mutualisme antara si public figure dan ghostwriter, tidak ada masalah antara kedua pihak itu..., yang saya pertanyakan hanyalah masalah keterbukaan dan kejujuran kepada pembaca (masyarakat).

Oh ya, diskusi ini bukan bertujuan untuk menyerang atau menghakimi profesi ghostwriter dan jual-beli ide ya, harap jangan disalahpahami. Saya membuat thread ini agar kita bisa lebih mengenal dan memahami kedua fenomena itu (apalagi ada narasumbernya langsung), karena saya tahu kedua hal itu memang kontroversial bagi beberapa orang. BTW, selamat datang buat Mbak Queen, semoga betah!

Quote:
Originally Posted by amweird View Post
maksud saya kenapa orang itu (yg menyewa ghostwriter) g sekalian aja nyantumin nama penulis yang aslinya (dalam kasus biografi) kan tetap saja mereka pun akan mendapat royalti karena nama mereka di cantumkan dibuku itu. lebih baik seperti itu kan? semua nya disebutkan, gak ada yg dihilang andilkan. sebagai cara me-respect kerja si penulis aslinya. saya tahu ghostwriter juga di beri upah tapi tetap saja, seperti comment saya sebelumnya, sebuah karya tulis seharusnya hak milik paling besar berada di tangan si penulis asli nya.
dalam hal "jual-beli ide" menurut saya lebih baik dijadikan buku kolaborasi (contohnya: ada si A punya ide tp g bisa ngembaingin maka dia nyuruh si B untuk ngembangin, nah kenapa dalam bukunya gak diberi judul "JUDUL BUKU oleh A dan B" gitu kan lebih bagus tinggal dalam masalah pembagian royaltinya saja di rundingkan lagi)...
Saya agak setuju dengan pendapat ini. Namun bagi saya, tidak perlu harus ditulis nama atau identitas si ghostwriter, cukup pemberitahuan saja bahwa buku tersebut "telah menggunakan jasa penulis bayangan tanpa mengurangi esensi buku". Dengan begitu, pembaca jadi tidak dibohongi.
__________________
"Tinta itu hitam, Jenderal."
Reply With Quote
  #16  
Old 02-18-2010, 11:22 AM
thequeenofwords thequeenofwords is offline
Anak Muda
Join Date: Jan 2010
Posts: 76
Post Ghostwriter itu JUAL JASA PENULISAN, bukan jual ide :)

Hehehehe...Aku memulai karirku sebagai PENULIS cerpen dan artikel di majalah dinding kampus dan sekolah atau majalah dan tabloid Kristen sekitar tahun 1991. Aku dapat uang sebagai HONOR MENULIS (waktu itu) sekitar Rp. 200.000 hingga Rp. 500.000. Itu honor menulis tahun itu. Tetapi, jangan salah! Jumlah itu aku dapatkan setelah aku menulis 2 naskah (1 cerpen dan 1 artikel, sisanya adalah honor mengedit naskah-naskah penulis lain).

Kemudian aku menjabat menjadi KOORDINATOR Penulis Renungan Harian Kristen untuk remaja di tahun 1999 hingga tahun 2000. Satu hari aku harus menulis devosi 30 baris kalimat sebanyak 5 devosi, dengan perincian harga bayar: 1 devosi dengan Grade A honornya Rp. 25.000 dan Grade B honornya Rp. 10.000 (karena masih perlu diedit lagi oleh editor dan jasa editor perlu dibayar juga).

Bisa Anda bayangkan BETAPA MURAHNYA harga SEBUAH TULISAN di mata orang lain. Yang lebih mengerikan lagi adalah jika TULISAN kita dijadikan BUNGKUS terasi, cabai, kacang atau sayuran di pasar. Aku pernah mengalaminya! Aku membawa pulang sayur mayur plus TULISANKU sebagai pembungkusnya. hehehehe....Itu terjadi sewaktu aku menjadi penulis lepas di majalah salah satu persekutuan gereja di sini.

Mari kita hitung BERAPA JUMLAH PENULIS LEPAS DAN PENULIS BARU yang bermunculan hari ini. Aku menyadari hal itu. Aku tak mau bukuku berada di antara LAUTAN BUKU YANG DIGUDANGKAN karena purna jual. Aku juga ENGGAN datang dengan KTP di tangan ke kantor penerbitan untuk mengambil HONOR MENULISKU yang cuma Rp. 500.000.

Aku pernah TAK DIBAYAR selama 5 bulan oleh REDPEL-nya karena ia lupa! hehehe...Aku pernah dibayar SEPARUH DARI HARGA PERJANJIAN karena bukunya BELUM TERJUAL HABIS. Padahal aku harus membayar biaya hidup juga dan tak bisa ditunda. Pokoknya ada saja ALASANNYA untuk MENUNDA HONOR yang seharusnya kuterima PENUH.

BERDEBAT DENGAN MEREKA itu melelahkan! Karena mereka juga PENULIS hanya beda POSISI saja. Setelah kupikirkan baik-baik, aku menerima tawaran menjadi GHOSTWRITER pada 19 Januari 2004. Aku menulis untuk seseorang dan dibayar LUMAYAN BESAR. Minimal aku bisa MENATA HIDUPKU jauh lebih baik daripada ketika aku menjadi PENULIS BIASA.

Apakah aku menulis untuk UANG, bukan untuk SENI? hehehehe...BERGANTUNG CARA BERPIKIRMU tentang hal itu. hehehehe....Di mataku, GHOSTWRITER itu menjual JASA PENULISAN, bukan MENJUAL IDE. Itu sebabnya HONOR PENULISANNYA JAUH LEBIH BESAR karena TINGKAT KESULITANNYA TINGGI.

Kamu menyebutnya "JURU KETIK" atau "JURU TULIS". Jujur, aku TIDAK HANYA MENGETIK saja. hehehe....Aku MENGEMBANGKAN IDE-IDE penulis utamanya. Mencari ilustrasi yang tepat, merapikan tata bahasanya dan merangkai kalimat supaya enak dibaca. Karena KELEMAHAN PEMBICARA di mana-mana sama, MEREKA JAGO BICARA di depan publik tetapi TULISAN MEREKA BURUK. Tak bisa dibaca blas! hehehehe....

Maaf, aku terpaksa bicara JUJUR di sini. Aku yang menata tiap topik supaya berurutan. Aku yang memilih kata-kata supaya kesannya KUAT dan menjamin KEBENARANNYA. Penulis utamanya hanya duduk membaca TULISANKU dan memperbaiki KALIMAT-KALIMAT yang ia pikir tak sesuai dengan pemikirannya. Ia mengoreksi dan mengubah beberapa kalimat dan mengurangi atau menambah sesuatu di bukunya itu.

Setelah semuanya selesai, ia yang mengirim ke LAY OUTER, membayar biaya CETAK dan promosi. Otomatis, jika ADA KERUGIAN setelah bukunya naik cetak, itu di luar tanggung jawab GHOSTWRITER. Karena nama penulis utamanya ada di sampul depan bukunya. Ia yang menanggung KERUGIANNYA sekaligus berhak atas royalti bukunya. Ia yang membayar pajak bukunya juga.

Proses cetak selesai, Gostwriter mendapatkan honor sesuai perjanjian yang disepakati bersama. Jadi, ini adalah pekerjaan juga. Ghostwriter adalah Penulis bayangan yang menjual jasa penulisan kepada orang lain atau public figure yang berminat.

Mengenai hak atas buku...hehehehe...YANG KITA TULIS 'kan Hidup orang itu. Yang KITA JUAL juga kehidupan orang itu. Apakah kita BERHAK atas buku orang itu hanya karena kita MEMBANTU DIA MENULIS KISAH HIDUPNYA? Belum tentu 'kan?! hehehehe....Yang penting adalah BUKUNYA TERBIT, bukan SIAPA YANG MENULIS bukunya. Itu pendapatku pribadi, aku tak tahu pendapat Ghostwriter yang lain.

Mengenai pertanyaan, "Mengapa tidak mencantumkan nama GHOSTWRITERnya?" hehehehe....Apakah ada bedanya jika kita mencantumkan nama kita di sana atau tidak? Setahuku, pembacanya TETAP MENGEJAR PENULIS UTAMANYA yang notabene public figure! hehehehe....Buku pertamaku adalah BIOGRAFI. Penulis utamanya MEMINTA penerbit dan lay outer untuk menulis namaku di sampul depan BUKU ITU.

TETAPI...lucunya dan anehnya!....KETIKA ACARA BEDAH BUKU di GUNUNG AGUNG, yang DIUNDANG untuk datang oleh TB tersebut bukan aku sebagai GHOSTWRITERNYA, tetapi penulis utamanya karena BISA MENDATANGKAN MASSA JAUH LEBIH BANYAK! hehehehe....Buku itu terjual 256 buku dalam satu jam karena histeria pembacanya kepada penulis utamanya. Sementara aku hanya bisa TERSENYUM melihat kenyataan tersebut.

Mau mengalami seperti yang kualami itu? hehehehe....SADAR lha, Mas! DUNIA kita memang SEPI PUJIAN. Tak banyak dihargai juga. Aku mau menulis NOVEL, tetapi setelah aku mendapatkan PEMBACAKU sendiri....suatu hari nanti.
Reply With Quote
  #17  
Old 02-18-2010, 11:24 AM
dik_electric@yahoo.co.id's Avatar
dik_electric@yahoo.co.id dik_electric@yahoo.co.id is offline
Anak Muda
Join Date: Sep 2008
Location: Pokoknya Jawa Tengah (Solo,Semarang,Jogja,Pati)
Posts: 72
Cool

maaf....sebaiknya kita formulasi dulu konteks jual beli disini.

Apa memang jual beli yg berhubungan dg uang, yg berhubungan dg makna, yg berhubungan dg identitas, yg berhubungan dg eksistensi atau memang benar-benar berhubungan nilai?
Jual beli secara ekonomi atau sekedar saling percaya saja?
Apakah pantas menyandingkan ide dg nominal uang?
Ini benar-benar pyur pertanyaan....
Reply With Quote
  #18  
Old 02-18-2010, 11:59 AM
amweird amweird is offline
Anak Muda
Join Date: Feb 2010
Posts: 6
Default

Quote:
Originally Posted by yosi_hsn View Post
Semuanya dikembalikan lagi pada pihak yang terlibat, terutama pada sang penulis itu sendiri, apakah dia memang membutuhkan sebuah apresiasi dari masyarakt luas atas karyanya atau cukup dengan merasa puas terhadap hasil tulisannya sendiri. Akan berbeda bila sang ghostwriter mulai merasa galau dengan posisinya sendiri dalam sebuah karya yang dia dampingi. Maka pertanyaan yang berikutnya perlu dikeluarkan adalah, mengapa ghostwriter tersebut tidak menulis dan menerbitkan karya sendiri?
maksudnya bisa lah begitu, kenapa ghostwriter tidak menerbitkan karyanya sendiri? tapi bagi saya, kenapa orang2 yang menyewa ghostwriter tidak menuliskan ide - ide mereka sendiri? apa karena masalah waktu dan kesempatan? kalau alasannya hanya karena tak ada kesempatan menulis, tak apa kan progress menulisnya agak lambat, kan bila merupakan ide sendiri dan bukan permintaan dari penerbit, kita tidak di kejar deadline kan?

sekali lagi saya katakan
"Buat para PENYEWA ghostwriter: kembangkan saja ide kalian sendiri, percayalah pada kemampuan menulis anda sendiri"
"Buat para ghostwriter: terbitkan lah karya kalian atas nama kalian sendiri, karya kalian adalah hak kalian"

saya gak bermaksud untuk menyalahkan mbak thequeenofwords atas pilihannya, saya hanya beropini atas topik yg sedang dibahas ini
Reply With Quote
  #19  
Old 02-18-2010, 12:16 PM
amweird amweird is offline
Anak Muda
Join Date: Feb 2010
Posts: 6
Default

Quote:
Originally Posted by thequeenofwords View Post
Mau mengalami seperti yang kualami itu? hehehehe....SADAR lha, Mas! DUNIA kita memang SEPI PUJIAN. Tak banyak dihargai juga. Aku mau menulis NOVEL, tetapi setelah aku mendapatkan PEMBACAKU sendiri....suatu hari nanti.
saya menyarankan untuk menuliskan nama sang ghostwriter itu tujuannya BUKAN untuk mendapat pujian atau apresiasi, usaha memperlaris buku, dll... saya menyarankan itu hanya karena saya merasa apapun yang kita tulis adalah hak dan kewajiban kita, jadi apa salahnya bila kita mengakui tulisan kita sebagai tulisan kita?

para penulis biografi pun menyantumkan nama mereka meskipun yang mereka ceritakan adalah kehidupan orang lain.
Reply With Quote
  #20  
Old 02-18-2010, 02:05 PM
johanes.koen's Avatar
johanes.koen johanes.koen is offline
Anak Muda
Join Date: Oct 2007
Location: Bandung, Indonesia
Posts: 28
Default

halo semuanya;
pendapat saya begini..

aku coba ambil perspektif semacam ini. aku pembaca setia Catatan Pinggir (Caping) Goenawan Mohammad (GM) di majalah TEMPO. sudah cukup lama, dan berakhir ketika GM dengan terang-terangan mendukung Budiono maju capres. aku juga pembaca setia kolom asal-usul Kompas, sewaktu dulu ditulis oleh Harry Roesli (HR) sampai sebelum beliau almarhum.

membaca Caping nya GM dan Asal-usul-nya HR, yang keduanya terbit rutin 1 minggu sekali, tak pelak menyisakan banyak pertanyaan. salah satunya, bagaimana ide menulis itu bisa konstan? apalagi GM yang kian banyak dilanda huru-hara. apalagi Caping dan Asal-usul adalah tulisan yang perlu perspektif luas, kreatifitas, dan butuh referensi tinggi. lalu aku mencoba menempatkan diri dengan berpikir seperti ini: apakah jika aku kolumnis, mungkinkah aku tidak pernah menemui kebuntuan? dan jika buntu, mungkinkah akupun membayar penulis bayangan?

dari refleksi semacam itu aku mencoba menjawab setuju tidaknya penulis bayangan. jika sebuah kolom harus ditulis penulis asli ( kata lainnya publik sudah terstigma bahwa yang menulis adalah penulis asli) lalu tiba-tiba ditulis penulis lain, nah mau dibawa kemana nama media massa, mau dibawa kemana citra kolom, dan tentunya nama besar penulis sesungguhnya.

selanjutnya di kasus lain, pun jika seorang selebritis, yang bahasa indonesia-nya saja versi gaul atau versi bule gagal, memaksa menulis. kemungkinannya : tulisannya jelek, dan sama saja dengan buku tersebut akan tidak laris, atau kebingungan menulis sehingga malah buku tidak selesai.

cara yang paling bijak, dalam penilaianku, adalah bagaimana yang terjadi dalam buku biografi Presiden Sukarno, Penjambung Lidah Rakjat. Disana, sebelumnya ada pengantar tentang penulisan yang dilakukan oleh Cindy Adams. ini menurutku titik paling elegan, dimana akan jelas siapa yang menulis, tetapi juga masih terjamin keontetikan dan kebenaran tulisan. bahwa Cindy menulis sejauh apa yang Sukarno paparkan.

Salah siapa?
Bukan orang Indonesia kalau ngga hobi menyalahkan. Ya tho? Bagiku, jika harus menimbang, kesalahan tetap pada penulis asli, dan mungkin malah penerbit. Alasannya banyak. Pertama, jikalau sudah deal menjadi kolumnis, seharusnya sudah bisa mengukur kemampuan dan tanggung jawab.

Kedua, jika tidak bisa menulis biografi atau buku putih lalu menyewa penulis, itu masih sah. Tetapi tidak benar jika menjadikan sang penulis sebagai ghostwriter alias tidak disebut. Nah mungkin karena gengsi. Tapi jika kemudian buku itu dianalisis, ini gengsi akan menyesatkan. Maksud saya, sejauh mana keotentikan cerita bisa dipertanggungjawabkan? Dan sejauh mana ghostwriter melibatkan emosi dan keberpihakan saat ia menulis, dan sejauh mana penulis asli berkemampuan untuk mengedit saat pembacaan bersama.

Ketiga, membuat sosok ghostwriter (dengan tidak mencantumkan namanya) itu kebohongan publik yang pertama-tama mencerminkan mentalitas penulis asli, dan mentalitas penerbit. Tujuan menghalalkan cara. Entah demi 'nama baik' atau 'buku laris'. Dan sekaligus menafikan si ghostwriter. Memojokkan motif penulis bayangan sebatas menjadi hal-hal yang finansial.

/soal penjualan ide, nantilah kutanggapi
__________________
Masih merdeka kah kita?
--------------------------
Buku Dalih Pembunuhan Massal dilarang oleh pemerintah.
Sudah membacakah Anda? Unduh buku tersebut DISINI
Reply With Quote
Reply

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 06:12 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.