Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com  

Go Back   Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com > Artikel > Belajar Menulis
Register Forgot Password

Reply
 
Thread Tools Display Modes
  #1  
Old 09-26-2009, 03:06 PM
Shinichi's Avatar
Shinichi Shinichi is offline
Panglima
Join Date: Aug 2007
Location: London, Tokyo, Daneldram
Posts: 2,166
Send a message via Yahoo to Shinichi
Default Puisi: Gelap, Terang, Remang

Mohon izin dari penulisnya ^^

Oleh Benz


Memperhatikan bentuk-bentuk sajak yang ada, sekiranya ada 3 (tiga) daerah ‘bermain’ penyair, yaitu daerah terang, gelap, dan remang. Contoh penyair yang bermain di daerah terang adalah WS Rendra. Dapat dilihat pada sajak-sajaknya yang bisa dikatakan sebagai ‘sajak pamflet’, atau ‘sajak orasi’, yang isinya dapat dengan mudah dipahami orang banyak, bahkan oleh orang yang sangat awam sekalipun terhadap ilmu puisi. Daerah gelap dan daerah remang, adalah jenis puisi yang ‘dipermasalahkan’ dalam pembahasan ini. Gelap, dari namanya saja sudah dapat dibayangkan, sajak-sajak yang termasuk daerah ini adalah sajak-sajak yang ‘terkunci’ ataupun ‘mengunci’ pembacanya, menyesatkan pembaca. Sajak ini sering penuh dengan metafora dan diksi yang rumit yang asing, yang repot yang pusing. Penyair yang menulis sajak-sajak gelap bisa dibilang sangat egois. Ia tidak peduli apakah sajaknya bisa dimengerti pembaca atau tidak, yang penting ia sudah membuat sajak yang ‘canggih’ dan ‘keren’ dengan menggunakan berbagai kosakata yang ‘tinggi’, kata-kata yang ‘high-level’.

Remang, adalah sajak yang ‘fifty-fifty’ (meski bukan berarti secara harfiah 50:50), ia bermain di wilayah antara gelap dan terang. Tidak menggunakan banyak kata-kata yang ‘aneh’, dan masih terdapat nuansa ‘kesederhanaan’ di dalam ia, namun tanpa melepaskan fungsi multitafsir yang dimiliki. Artinya, meskipun kadang terkesan cenderung sederhana, ia tetap dapat memunculkan penafsiran yang begitu beragam oleh para pembaca. Dapat membuat pembaca ‘penasaran’, yang kadang juga membuat mereka bingung, namun tetap merasa ingin ‘membongkar’ atau ‘mengulik’ isi dari sajak tersebut, tetap membuat mereka ingin memperoleh ‘wahyu’ yang terdapat di dalam sajak tersebut, membuat mereka yang ketika sudah malas menafsirkan puisi dan meninggalkan puisi, seketika itu pula mereka ingin kembali membaca dan mencoba mengerti. Menulis sajak yang remang, agar bisa ditafsir oleh berbagai elemen pembaca, dapat diambil ‘wahyu’nya oleh siapapun, kritikus sastra, anak sekolah, mahasiswa, tukang bangunan, bibi penjual jamu, menteri kebudayaan, presiden, di mana pun, saat kapanpun. Menulis sajak yang remang, yang bisa berlaku pada kaum apapun, pada zaman manapun.

Bandingkan ‘rasanya’ membaca tiga sajak dari tiga penyair kenamaan berikut:
/1/

AKU ingin belajar pada malam

bagaimana membisikkan suara

yang lebih lirih daripada sepi

: malam mengajariku mengucapkan cinta

lewat mimpi-mimpimu.

/2/

AKU ingin berguru pada malam

bagaimana menahan gigil

yang lebih dingin daripada angin

: malam menceritakan tentang pelukanmu

yang menjanjikan hangat ke tubuhku.

/3/

AKU ingin bertanya pada malam

bagaimana menertibkan rasa yang tiba-tiba

menjelma menjadi ilalang, luas dan liar

: malam membimbingku menjabat tanganmu.

(Malam Membimbingku Menjabat Tanganmu : Hasan Aspahani)

Malam menarik kafan untuk mayatnya sendiri, setelah betapa renta ia berupaya menerangi sebatang jarum dalam mimpimu. Berapa lama sudah kau terbangun? Seraya mencari sisa putih mori ke arah rumpun kana, kau berkata kepada sebutir batu gamping di jalan setapak itu, “Mereka mencintaimu, sebab kau tak menderita insomnia.” Dengarlah, namaku matahari, aku perawat kuburan di tepi Mississippi, maka aku tak akan terkelabui oleh kata-katamu.

(Fajar di Galena : Nirwan Dewanto, 2007)

kami kenakan cincin di jari sebagai angka nol mencacah deret bilangan di dahi. lingkaran sederhana, tanpa ulir tanpa pangkal-ujung berputus. lingkar doa nafas yang terus kami hirup dan hembus. cincin di jemari kami tak bermata sebab kami tak ingin silau rupa dunia, sebab kami menduga cinta berdiam di dalam pejam dan degup di dalam dada. cincin kami polos tak berukir. biarlah nanti terarsir oleh waktu, grafir nama kami yang menyatu dengan gurat luka oleh bebatuan sepanjang arus tawa dan mantra dan tangis dan zikir. sepanjang sungai penuh riam dan jeram, seribu tualang seribu ancam.

sedangkan rakit kami hanya seutas janji. melingkar di jemari kami.

(Cincin : TS Pinang, 2008)

Maka adalah benar merupakan hak penuh setiap penyair, untuk menulis sajak jenis apapun yang diinginkan. Namun begitu, saya percaya bahwa penyair adalah ‘profesi’ yang membawa ‘misi kenabian’. Ia sedikit banyak berkewajiban menyampaikan ‘wahyu’ yang ia miliki, kepada masyarakat di sekitar, dalam hal ini adalah pembaca. Oleh karena konsep berpikir dan kondisi batin masing-masing pembaca berbeda antara satu dengan yang lain, maka penyair juga tidak bisa menyampaikan kepada mereka dengan begitu ‘terang’, sebab bisa jadi ‘wahyu’ tersebut hanya bisa diterima dan digunakan oleh segelintir pembaca saja, dan tidak bisa diterima oleh sebagian yang lain. Sebaliknya, penyair juga tidak bisa menyampaikannya dengan begitu ‘gelap’, jelas akibatnya, pembaca akan tersesat dan menciptakan tafsir yang ‘gelap’ pula, atau malah lebih parah lagi, mereka tidak bisa membuat tafsir dan menarik makna sedikitpun dari sajak tersebut. Sehingga pendek kata, penyair telah gagal, dalam tugasnya.
__________________
Shinichi bersabda,
marilah kita membaca, menulis dan mengapresiasi di situs kemudian.com,
lalu
Jadilah pembaca yang budiman, penulis yang tekun dan pengkritik yang santun. Peristiwa 1:1

Reply With Quote
  #2  
Old 06-28-2016, 03:10 PM
venus88 venus88 is offline
Anak Muda
Join Date: Sep 2015
Posts: 46
Default comment & replay

Postingannya menambah wawasan gue tentang penulisan puisi yang benar








__________________________________
Mesin Pipa PE | Cetak Kartu ID Card
Reply With Quote
  #3  
Old 08-09-2016, 05:23 PM
merkuri merkuri is offline
Anak Muda
Join Date: Nov 2015
Posts: 35
Default comment & replay

Menurutku puisinya jadul atau cocoknya untuk penduduk yang tingal di daerah pelosok. Soalnya jaman sekarang di kota meskipun di malah hari tetep rame









__________________________________
Jual Mesin Pipa | Cara Menenangkan Hati
Reply With Quote
Reply

Tags
puisi

Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


All times are GMT +7. The time now is 04:27 PM.


Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.