|
#1
|
|
|
Junior Member
Join Date: Jan 2008
Posts: 3
|
MAKLUMAT: Bila bisnis Anda adalah memproduksi fiksi, Anda dan Stephen King tetap bisa menjadi penulis maha laris walau melewatkan corat-coret berikut. Bila Anda ambil posisi sebagai pembaca, yuk, lanjut.
Menyambung usulan ini di thread ini, gue nekad mengunggah terjemahan esai Roland Barthes, ‘The Death of the Author’/‘La mort de l’auteur’/‘Matinya Si Pengarang’ di sini, dari antologi esainya, Image – Music – Text. Esai ini pendek. Esai ini gue terjemahin karena, tentu saja, pendek; dan karena esai ini, AFAIK, gara-gara judulnya, sering disalah-pahami, sebagaimana ‘No Woman No Cry’-nya Bob Marley sering kepelintir jadi lagu kebangsaan misogini cengeng para lelaki, CMIIW. Isi esai ini terkait ke sejarah sastra, membahas bagaimana di masyarakat kapitalis—apa hubungannya, gue juga bingung—fiksi lebih dikaitkan ke posisi pengarang yang begitu mengemuka. Padahal, kata Barthes, fiksi hanya dikendalikan semata-mata oleh bahasa; bukan faktor lain seperti riwayat si penulis, anak-cucu-cicitnya, kawin-cerainya, dan segala hal mengenai ‘orang’-nya; ya, Barthes adalah pendekar anti-infotenmen. Di sisi lain, di mata Barthes, pupus pula peran elit yang mengisolasi pembaca awam dan menyerahkan urusan kritik-mengkritik ke segerombol cerdik cendekia. Barthes menganggap bahwa urusan tulis-temulis, seperti halnya ketika kita lagi belajar bahasa asing, tak lain hanya secara sadar bongkar pasang entri kamus. Tidak ada pengarang yang bisa menelurkan ‘kejeniusan’ (hal.142 teks asli) karena emang gak ada yang baru (hal.146 teks asli); tulisan cuma hasil berburu dan meramu materi yang udah ada. Selanjutnya Barthes menaruh (atau mengembalikan) fiksi ke haribaan pembaca—yang seperti pengarang—juga gak ada sangkut-pautnya sama si ‘orang’. Dan karena tulisan sudah dikembalikan ke tempat semestinya, Barthes mengakhiri esai dengan kalimat sangar: “… demi memberi masa depan ke tulisan, adalah keniscayaan untuk menggulingkan mitos: ‘kelahiran pembaca haruslah ditebus dengan kematian Pengarang.’” Silakan baca dulu selengkapnya. ![]() Oke. Lanjutkan! Jauh berbeda dengan, misal, ‘Introduction to the Structural Analysis of Narratives’ (dimuat di antologi yang sama, hal.79–124), IMO, esai ini kadang beraroma propaganda, udah kayak selebaran gelap. Esai ini juga sangat ‘mrancis’ (hanya pengarang fiksi Prancis yang disebut) dan sangat asumtif terhadap pembacanya. Konsekuensinya, gue harus google sana google sini sebelum ngêh bahwa yang dimaksud Barthes dengan Proust adalah Marcel Proust yang memunculkan tokoh Baron de Charlus di Sodom and Gomorrah; realisme atau Romantisisme atau New Criticism adalah sebahagian dari segepok aliran sastra dan aliran kritik sastra; dan seterusnya. Yang mrancis-mrancis tadi sebenarnya bukan barang baru, kebanyakan terbitan abad XIX. Esainya sendiri pertama terbit dalam Basa Prancis pada 1968. Banyak yang terjadi sejak saat itu. Bobot aktual bukan daya tariknya. Kabar baiknya, kalau Anda ingin mengecek Honoré de Balzac, Marcel Proust, Gustave Flaubert, dkk. yang di esai ini disebut-sebut, kunjungi aja PGutenberg. Hampir semua ada. Buat gue pribadi, setelah pengarang ‘dibunuh’, Barthes nolong gue milih tempat nongkrong. Ada kubu yang menekankan ketak-stabilan bahasa/makna/tanda—hari gini siapa sih yang gak kenal Jacques Derrida¿ Kubu yang lain tetap fokus ke kemampuan pembaca dalam mengolah bahasa lewat istilah payung ‘Teori Respon Pembaca’. Yang terakhir ini berkomplot minimal dalam dua geng: yang satu mengadopsi program-program hermeneutis—miss worm udah membahasnya di sini—dan satunya lagi merapat ke pendekatan formal/natural—dari Vlad Propp sampai Janyce Wiebe. [Kita boleh bahas serbaneka ini lain waktu.] Akhir kata, hanya baca Barthes for Beginners gak bakalan bikin gue jadi pakar Barthes. Gue tau di sini ada anak bahasa dan sastra, anak English/French lit, aktivis dan pemerhati milis sastra/budaya, sarjana dan kritikus profesional; diam-diaman ato terang-terangan gentayangan di kners. Oleh karenanya, kalo ada kesalahan penerjemahan, literal ato konseptual, jangan sungkan mengoreksi. Pengarang telah mati! Hidup pengar… pembaca! P.S.: Esai ini diterjemahkan dengan dalih fair use. Kalo di belakang hari ada keluhan kredibel terkait pelanggaran hak cipta, tanpa ragu gue akan mendeletnya. Versi Inggris fair use bisa Anda temukan di sini.
__________________
¬¤⌐ |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|