View Single Post
  #28  
Old 08-17-2009, 02:33 PM
someonefromthesky's Avatar
someonefromthesky someonefromthesky is offline
Kisanak
Join Date: Nov 2007
Location: Bandung
Posts: 627
Default

Wah, saya terkesan dengan cerita pembukanya (bukan yang bagian puisi, tapi yang paragraf tentang roh itu). Bagian itu bertautan dengan ide yang juga disinggung pada bagian akhir, mengenai konsep reinkarnasi, dan mungkin juga bayangan penulis mengenai proses reinkarnasi itu sendiri (yang ia coba jelaskan dengan istilah-istilah fisika, alih-alih menggunakan istilah keagamaan). Namun kebiasaan si penulis untuk menggunakan gaya puitis terus terasa dan muncul pada paragraf-paragraf berikutnya, kadang membuat indah, kadang membuat aneh. Keanehan itu seperti yang sudah dibahas oleh Miss Worm mengenai kata sambung dan pemenggalan kalimat yang menurutnya kurang normal.

Tapi kalau dalam kalimat
Sedang mereka, berjalan tanpa mata.
menurut saya meskipun penggunaan koma dalam kalimat itu bukan seperti dalam kalimat majemuk, hal itu bukan suatu masalah. Penempatan koma di situ membuat pembaca berhenti sejenak, yang mengakibatkan adanya penekanan pada kata mereka. Penulis mungkin ingin agar pembacanya membaca dengan nada dan intonasi seperti itu. Walaupun memang hal semacam ini biasanya lebih umum digunakan di dalam dialog, bukan dalam narasi. Tapi ya, kalau buat saya sih peraturan semacam itu boleh dilanggar asalkan masih enak dibaca.

Just my opinion.
__________________
"Tinta itu hitam, Jenderal."
Reply With Quote