View Single Post
  #2  
Old 08-05-2009, 11:13 PM
just_hammam's Avatar
just_hammam just_hammam is offline
Kisanak
Join Date: Jul 2008
Location: sementara di Palu
Posts: 877
Send a message via Yahoo to just_hammam
Default

Orang-orang berbisik. Semakin ribut. Bermain kartu. Mengobrol satu sama lain, sibuk menawarkan minuman dan makanan. Beberapa sibuk membungkus peti jenazah dengan kain panjang dan menempel hiasan-hiasan keemasan rata di sekitarnya.

Dia tidur di sebelah jenazah yang terbungkus kain. Bercerita di sana.

Ketika siang, dia membawa makanan dan minuman yang dulu ketika hidup menjadi kesukaan dari jenazah itu dan meletakkannya di sisinya. Kembali bercerita.

Dalam masa-masa itu, dupa panjang terus menyala. Tidak dibiarkan berhenti. Ketika mati, dupa itu diganti dengan yang lain. Terus hidup sampai saatnya jenazah dikremasi.

Sesungguhnya dia berharap jenazah itu akan hidup, lagi.

“Callista, jangan tidur di sini. Nanti bau formalinnya merusak kerja tubuh Callista.”

Sudah dua hari dia tidur di sana. Hidungnya jadi tidak peka lagi terhadap bau, matanya terkadang perih. Kepalanya makin sering pusing.

“Biarlah.”

*

Jenazah dimandikan. Tubuh yang telanjang. Dulu jenazah itu pernah bercerita pada Callista. Pernah bilang sesuatu di acara permandian jenazah orang lain, bahwa jenazah itu mungkin akan malu jika suatu saat tubuhnya dimandikan telanjang di depan umum.

Callista ikut memandikan. Ritus yang panjang. Termasuk akhirnya melapisi jenazah itu dengan kain beragam warna. Termasuk menutupi kemaluan jenazah dengan kain hitam. Termasuk menutupi rasa malu jenazah itu. Termasuk, ingin sekali memandikan jenazah itu secara personal, supaya tidak ada orang lain menonton jenazah itu telanjang, supaya hanya dia dan jenazah itu. Supaya hanya mereka. Seperti saat-saat mereka dulu mandi bersama. Berdua.

Orang-orang hanya menonton. Orang-orang hanya ingin menonton. Tidak ingin berakting bersamanya. Seolah dalam skenario kehidupannya, hanya ada sedikit tokoh. Bahwa tokoh utama hanya tinggal satu saja. Bahwa tidak ada lagi temannya untuk beradu peran.

*

Katanya, jiwa jenazah itu telah pindah pada sebuah simbol, pada wujud seorang wanita yang dipatungkan. Callista membawanya di atas kepala. Ibu-ibu lainnya membawa benda-benda lain sebagai simbolisme. Entah sebagai simbolisme pengantar yang telah meninggal, entah sebagai iring-iringan yang kelihatan indah.

Sebelum menuju tempat kremasi, ada sebuah ritual khusus yang harus dilakukan. Untuk memutus keterikatan, untuk tidak pernah memimpikan dia yang telah meninggal. Tali dan logam cina dan beras kuning dan beras putih dan mungkin kunyit dan rempah-rempah lainnya, dilempar ke langit, dibenturkan ke telapak tangan, dijatuhkan ke tanah. Ketika itu selesai, katanya, semua keterikatan pada yang telah meninggal seketika.. musnah.

Setelahnya, Callista memimpin di depan. Orang-orang berjalan di belakang. Jenazah diangkat di belakang di dalam sebuah wadah. Orang-orang lainnya memegangi kain putih panjang di atas kepala.

Beberapa kerabat memotret dengan kamera. Turis-turis berniat mengabadikan sebuah momen. Callista mengabadikannya dalam hatinya.

Di tempat kremasi, di tempat dulu dia dan jenazah itu pernah datang ke acara kremasi jenazah lain, dia sampai di sana. Wadah diletakkan. Jenazah dipindahkan, dia disibukkan dengan panggilan orang-orang. Beberapa orang menyibukkan diri dengan memanggil-manggil dirinya sendiri.

Beberapa orang datang untuk menghiburnya. Beberapa orang tersenyum padanya. Beberapa lagi ikut menemaninya terus di sisinya. Semua ritual khusus dilakukan. Jenazah diletakkan di dalam sebuah kotak yang dibentuk dari pelapah pisang. Selang gas dimasukkan dari celah-celah bawah. Orang-orang melempar bunga, daun, banten, uang, dan pakaian ke atas jenazah. Callista melempar sebuah buku gambar.

Di dalam buku gambar itu, ada gambar-gambar rumah. Di dalam buku gambar itu, ada kenangan-kenangan. Pernah ada seseorang yang memuji gambar-gambarnya, warna-warnanya, dan membantunya mewarnai. Dan orang itu telah mati. Dia berharap orang itu akan tinggal di rumah-rumah yang dia gambar di buku gambarnya. Dia berharap orang itu mendapatkan tempat yang layak untuknya di alam sana.

Meski gambar-gambarnya, tidak pernah sebagus pujian orang itu. Karena dia tahu, orangtua yang baik memang selalu memuji anak-anaknya. Orangtua yang baik, selalu ingin berkorban lebih untuk anak-anaknya. Seperti jenazah itu. Yang melakukan apapun untuk Callista, untuk dia bisa mewujudkan cita-citanya.

“Hanya itu saja yang mau diberikan?”

Dianggukkannya kepalanya. Dia tidak mungkin membakar semua baju milik jenazah itu, seperti dia tidak mungkin ikut membakar televisi, mobil, rumah, ijazah-ijazah, dan lainnya. Apa yang dimiliki ketika hidup, tidak mungkin dibawa seluruhnya ke alam kematian.

Dan api mulai dinyalakan. Api mulai membakar. Callista tidak ingin menjauh, tapi dia terus ditarik-tarik untuk menjauh.

Di kejauhan, dia berdoa, menyanyikan doa-doa sekeras-kerasnya. Orang-orang hanya menonton. Tidak ada yang merasa pandai berakting dan mendekatinya.

Dalam tiap baris doa, api semakin berkobar. Hingga yang tersisa hanya tinggal tengkorak dan tulang-tulang. Hingga akhirnya, seluruhnya menjadi abu dan tulang-tulang kecil. Selama itu, dua orang menggenggam tangannya di sisinya. Dua orang, sahabat kentalnya di bangku sekolah.

Beberapa orang pulang. Beberapa lainnya membantunya mengumpulkan abu-abu dan tulang-tulang, menyaring abu dan tulang-tulang. Memunguti tulang-tulang besar, memisahkannya dengan abu-abu, memisahkannya dengan kelam kehidupan.

“Sekarang kita ke laut,”

Sekarang ke laut. Membuang abu, membuang segala yang tersisa.

*

Di laut, semuanya hilang. Semuanya menyatu. Atom-atom pada tulang, atom-atom pada abu, menyatu dengan atom-atom pada air, atom-atom di udara.

Di laut itu, orang yang dia cintai berubah wujud untuk selamanya. Mungkin untuk berjuta atau bermiliar tahun ke depan, baru mereka akan bisa dipertemukan lagi dalam wujud manusia. Ketika atom-atom mereka mengisi lagi perut seorang ibu yang hamil. Ketika kesadaran mereka, dengan kemungkinan kombinasi penciptaan yang tak terhingga, bertemu pada satu titik waktu.

Mungkin kelak tidak sebagai ibu-dan-anak. Mungkin kelak sebagai kekasih.

Atau, mungkin saja mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

Karena pada kehidupan yang sedemikian sebentarnya, entah ada misteri besar apa yang bisa dipecahkan oleh kepala.

***

21/04/2009 15:47:02
CLX7,

: Selamat hari Kartini, Mama.
Reply With Quote