View Single Post
  #1  
Old 08-05-2009, 11:10 PM
just_hammam's Avatar
just_hammam just_hammam is offline
Kisanak
Join Date: Jul 2008
Location: sementara di Palu
Posts: 877
Send a message via Yahoo to just_hammam
Thumbs up Pembahasan Cerpen Bulan Agustus

Karena Panah Hujan tidak mulai-mulai pembahasan cerpen, kita ambil salah astu cerpennya untuk dibahas bulan ini.
Pembahasana boleh dari sisi apa saja dengan memperhatikan kesantunan.
Aku ambil cerpennya : Kehilangan Kartini Padamu
link : http://www.kemudian.com/node/230876

21/04/2009 12:23:31

dunia dengan dua sisi
Kau tatap Ia dari pikir-Mu
kadang nyata kadang maya
mendua pada Satu

dan pada-Nya
Kita bergenggaman
Kita berjalan berputar
pada Ia yang menyata Satu
pada bumi yang melingkar mentari

lihat perjalanan Kita kini
adakah Kita
mengiyakan tiada
mengenggankan nyata
seperti halnya Ia meloncatkan Satu ke dua

menjadi setan dan malaikat
Ia menjadi tanah dan langit
menjadi Aku dan Kamu
nyatakah pada-Mu
senyata pada-Ku
bahwa Kita Satu

bahwa Kita adalah Ia
seperti Ia adalah Kita
seperti Aku adalah Kamu

nyatakah pada-Mu
Kita adalah Satu

bahkan pada maya
bahkan pada tiada

karena Kita

: menyatu Alam Semesta

Rohnya berjalan di kegelapan. Gelap yang menjelaskan gelombang yang dulu ketika hidup tak pernah dimengertinya. Jika dulu dia pernah mempelajari eter sebagai missing-link dari penjelasan mengenai pengantar gelombang di ruang hampa, jika dulu dia pernah diberi tahu bahwa benda padat yang berikatan kuat mampu menabrak-nabrak gas yang berpencar-pencar, kini ia baru memahami semuanya.

Dia tertabrak oleh segala benda. Oleh mobil yang melintasinya, tidak ada bunyi klakson ketika mobil itu menabrak tubuhnya. Seperti halnya tidak ada orang yang meminta maaf ketika berlari melewatinya. Dia tertabrak segala. Bahkan oleh gas yang berpencaran.

Jika dulu ketika hidup dia tak pernah tahu di mana tempat tinggal jiwanya kelak ketika mati, maka seperti halnya kini dia juga tak pernah tahu ke mana ia akan menuju. Ia pikir bahwa mungkin banyak jiwa yang sama berjalan pada gelap. Pada gelombang yang entah apa. Namun mereka tak saling melihat, tak saling menyadari.

Ketika pun mereka harus berpapasan, mungkin tidak akan ada yang saling menatap. Mereka berjalan tanpa wujud. Kalaupun keberadaan mereka mampu dijelaskan oleh teori atom di Fisika atau di Kimia, meski juga pada teori kuantum yang merajalela pada otak-otak brilian, apakah mereka sungguh perlu melihat diri masing-masing melalui mata yang berkekuatan mikroskop elektron? Sedang mereka, berjalan tanpa mata. Berjalan tanpa alat indera.

Dia tak tahu dia lepas dari tubuh siapa. Dia hanya masih mengingat bahwa dia pernah bergerak-gerak cepat pada sebuah tangan. Dia pernah berada pada ujung telunjuk seseorang. Pernah digunakan sebagai sesuatu untuk mengetik. Pernah diperintah oleh elektron-elektron pada sel saraf untuk bergerak menunjuk-nunjuk. Namun dia tak tahu ke mana bagian-bagian lain darinya. Entah bagian ibu jari, kelingking, atau jari manis. Entah bagian tangan, kaki, atau kepala.

Dia hilang dari sesuatu dan menjadi bagiannya sendiri. Dia hanya masih mengingat bahwa dia dulu pernah memiliki tempat lain untuk tinggal. Dia pernah mengisi bagian tubuh seseorang dan hidup di sana. Atau terserahnya.

Seperti halnya ekor cacing yang masih bergerak-gerak bahkan ketika kepalanya diputus. Dia menjadi bagian pada jari telunjuk yang masih hidup ketika jantung orang itu berhenti. Namun akhirnya dia lepas.

Pada kesadarannya, dia bertanya-tanya, di manakah sebenarnya letak jiwa? Diakah jiwa?

*

“Mama nggak mungkin mati!” seorang gadis berteriak-teriak di depan sebuah kamar, “Apa yang bisa Callista lakuin tanpa Mama? Mama jangan mati. Karena cuma Mama satu-satunya yang Callista punya!”

Orang-orang di rumah sakit itu mengelilinginya. Setiap orang yang ada di setiap kamar di sekitarnya keluar untuk menonton gadis itu menangis, berteriak.

Di depan gadis itu, sebuah kamar telah kosong. Sebuah ranjang bersprei putih tanpa penghuni. Tidak ada tiang infus di sana. Kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang.

“Mama...” dia terus menangis, menelungkupkan kepalanya di lututnya. Tidak ada yang peduli. Mereka hanya menonton, iba.

“Mama janji untuk terus hidup. Mama janji untuk selamanya hidup. Kenapa Mama pergi?”

“Kakak kenapa nangis?” Bocah yang biasa diajaknya bermain mendekatinya.

“Mamanya Kakak ini baru saja meninggal. Ayo, Dito, jangan ganggu..” orangtuanya menarik bocah itu. Seolah pada diri seseorang yang baru saja ditinggal mati kerabatnya, masih tersisa bekas-bekas sentuhan malaikat kematian.

“Mama..” isak tangis terakhir darinya.

Awalnya dia tak percaya. Namun ketika orang-orang di sekelilingnya meyakinkan bahwa memang ada yang meninggal, bahwa orang yang meninggal itu adalah orang terpenting dalam hidupnya, dia hanya mampu terdiam. Tidak mengucap sepatah kata. Tidak menangis, tidak berteriak. Seolah ada bagian jiwanya yang lepas yang mencari jiwa dia yang telah meninggal.

Tanpa kesadaran penuh, dia berjalan. Seolah ada yang ingin mengantarnya pada suatu tempat, dia menerobos kerumunan yang sebelumnya menontoninya. Tanpa ditemani siapapun, dia menerobos kegelapan lorong, berpapasan dengan orang-orang yang berjalan. Tanpa seorangpun yang berpapasan dengannya menyadari bahwa dia adalah seorang gadis yang baru saja kehilangan seseorang. Kehilangan sesuatu dari dirinya.

Setelah melewati lorong yang panjang, dia sampai ke sebuah tempat. Ada orang-orang yang dia kenal. Ada yang ribut dan menangis. Ada yang menenangkan yang menangis. Ketika melihat dia hadir di sana, orang-orang itu hanya bisa menatap. Seolah masih ada bekas-bekas nafas malaikat kematian di sekitar orang-orang terpenting yang pernah hadir dalam hidup seseorang yang baru saja meninggal, mereka tak mendekat selangkah pun. Mereka hanya menonton.

Dia menghampiri kerumunan, semakin dekat. Untuk dipeluk, untuk ditenangkan, untuk disadarkan. Untuk dipanggil jiwanya agar berhenti mencari-cari jiwa seseorang yang baru saja mati. Agar jiwa itu kembali lagi ke tubuhnya, agar ia tak ikut mati.

“Memang sudah jalannya.” Dia dipeluk, tapi dia tak merasakan sebuah pelukan.

“Ke mana perginya Mama?” bukan pikirannya yang bertanya, tapi bagian terdalam dari dirinya, bagian yang tak digerakkan oleh kesadaran kepala.

“Beliau meninggal sejam yang lalu.”

Sejam yang lalu. Tanpa menunggu dia hadir untuk mendengar kata-kata terakhir.

Hatinya terlalu sakit untuk harus menangis. Saraf-saraf di kepalanya bekerja semakin rumit. Membantunya agar tidak menangis, untuk menghentikan kerja saraf-saraf perasa di bagian dadanya, karena seolah ada banyak hal mendesak-desak di dalamnya.

“Kenapa?” Dia tidak menginginkan penjelasan medis.

“Kankernya.”

“Kenapa?” Dia masih bertanya.

Orang di depannya memeluknya semakin erat, meraih kepala gadis itu dan meletakkannya di bahunya, “Callista masih punya tante di sini.”

*
Reply With Quote