Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com

Forum Kners adalah forum diskusi tentang kepenulisan. Dibuat untuk media diskusi para member yang bergabung di situs kemudian.com (http://www.kners.com/index.php)
-   Cerpen (http://www.kners.com/forumdisplay.php?f=9)
-   -   CERPEN MEI 2014: Dari Afair hingga Nusantara Berbadai dalam Stilistika (http://www.kners.com/showthread.php?t=2577)

asahan 06-04-2014 08:28 PM

CERPEN MEI 2014: Dari Afair hingga Nusantara Berbadai dalam Stilistika
 
Salam kners,
Aku percaya setiap karya, dalam hal ini cerpen, punya kekhasan tersendiri. Sehingga, sebenarnya, membandingkan dua cerpen berbeda dari dua pengarang berbeda, tidak dibenarkan.

Tapi, aku di sini tidak akan mengkonfrontir. Tidak mencari mana yang lebih bagus atau lebih buruk dari dua cerpen ini. Tidak menempatkan yang satu lebih tinggi dari yang lain. Sekali-kali tidak. Titik!

Aku hanya akan membahas kedua cerpen ini dari analisis stilistika.

Apa tuh stilistika?

Sebelum kita sharing, sebaiknya kita persamakan persepsi dulu; bahwa kita akan sama2 membuka kamus dan membaca makalah sastra, setidaknya sekilas, menyangkut pembahasan kita. Ok?

Aku pernah mengangkat trit bahas puisi bulan kemaren2, dan yang dibahas juga 2 puisi tapi dari satu penulis. Sedangkan sekarang dua cerpen dari penulis berbeda. Perbedaan penulis itu, menurutku terasa mengganggu. Jadi, kita anggap saja kedua penulis ini sudah merelakan cerpennya untuk dibahas, sehingga mereka gak berhak menolak kritik. Hak jawab boleh, tapi bukan dalih untuk melindungi tulisannya.

Gimana?

Dari bahasaku tadi, kok kesannya kita bakal menhakimi, ya? Duh, maaf. Bukan itu maksudku. Sudah kubilang, pembahasannya dari stilistika aja, penyelewengan bahasa, kekhasan bahasa. Atau bisa jadi bahkan kesesuaian bahasa. Namun, dalam diskusi nanti, mungkin dan mungkin sekali, muncul kritik-oto-kritik yang asik, terlalu asik, hingga bisa melebar kemana2.

Oh, iya. Dua cerpen itu adalah "Nusantara Berbadai", karya smith61. Dan "Afair", karya shin elqi. (maaf aku tidak kasih link. Nanti pas waktu aku mulai membahasnya, baru kukasih linknya).

Sekarang aku baru woro-woro dulu, sambil nunggu respon keners lain. Jika semua sudah siap, pewe, maka aku post lagi sebagai pembahasan awal.

Akan aku post, mudah2an Tuhan mengabulkan, kamis malam minggu ini. Gak apa2 kan?

Dan keners semoga mau sharing. Yang punya ilmu justru sangat diharapkan. Yang masih belajar seperti aku, justru disarankan.

Dan aku kasih garansi, bahwa aku juga belum mengerti benar apa itu stilistika!

d.a.y.e.u.h. 06-04-2014 10:26 PM

stilistika itu kalau cek kbbi berarti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra.

bikin penasaran aja nih asahan.... ditunggu, beneran!

Rea_sekar 06-05-2014 02:05 PM

*duduk manis nunggu pembahasan* :D

2rfp 06-07-2014 01:58 PM

ngikut aja dah

asahan 06-08-2014 01:35 PM

Quote:

Originally Posted by d.a.y.e.u.h. (Post 32946)
stilistika itu kalau cek kbbi berarti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra.

bikin penasaran aja nih asahan.... ditunggu, beneran!

Yap, gaya bahasa. Hehe

asahan 06-08-2014 01:38 PM

Salam kners,
Maaf, aku postnya telat berhari2. Soalnya ternyata, rutinitas utama lumayan nyita waktu & tenaga, trus malemnya langsung pules... (hehe, alesan).

Ok gini. Sesuai judul trit ini, "bahas-cerpen-bulan-ini" bla bla bla...., sesuai tata krama dan kode etik yang ditentuin momod. Jadi, sebaiknya, dalam membahas dan mendiskusikan karya orang lain, kita mesti jadi pembahas yang baik. Dalam arti, kita bersungguh2 dalam niatan, pikiran, dan perbuatan untuk menggali, menemukan "sesuatu" dalam karya itu, dan kita sampaikan dg cara yg baik pula. Ok, cukup sekian ngelanturnya.

Sekarang aku kasih link dua cerpen yang bakal kita bahas.
1. Nusantara Berbadai, karya smith61. http://www.kemudian.com/node/275720
2. Afair, karya shin elqi. http://www.kemudian.com/node/275952

Seperti yg udah aku tegasin di awal, kalau kita tidak mencari mana yang lebih bagus dari dua cerpen itu. Soalnya, bagus tidaknya itu soal selera. Kita cukup membahas dari analisis stilistika saja.

Bagi yang pernah kuliah sastra, atau pernah baca makalah sastra, atawa yg pernah denger, atau siapapun yang merasa tahu, silakan artikan sendiri apa maksud stilistika itu. Setiap orang berhak punya pemahamannya sendiri. Tapi, di sini aku nukilkan maksud stilistika itu dari pendapat orang:

Menurut Kridalaksana dlm kamus linguistik (1982:157), stilistika adalah (1) ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdispiliner antara linguistik dan kesusastraan (2) penerapan lingustik pada penelitian gaya bahasa.

Dan menurut Tuner (1977:7),stilistika adalah bagian dari linguistik yang memusatkan perhatiannya pada variasi penggunaan bahasa, terutama dalam kesusastraan.

Intinya, keywordnya: sastra & gaya bahasa. Terserah kalian memaknainya gimana.

Ngomong2 gaya bahasa, seorang penulis, terutama penulis fiksi, memiliki cara berbahasanya sendiri2. Mereka bisa dan halal membolak balik, merusak bahasa atau tatanan bahasa, sehingga muncul dan tercipta makna baru yg otentik. Makanya penulis itu disebut punya bahasa khas. Tapi, maksud dan pengertian bahasa khas itu, sesuai dengan kaidah umum (tentang kebahasaan yg disepakati bersama).

Kaidah itu, biasanya, sama ahli bahasa, disimpulkan dalam beberapa majas. Soal majas ini, ada banyak. Aku tidak akan menyebutkan satu2 majas itu. Tapi kita bisa sama2 mencari contohnya dalam cerpen yang akan kita bahas.

Lalu pertanyaannya, setelah kita cari contoh2 majas dalam cerpen ini, lalu apa? Trus mau ngapain?

1. kita bisa tahu macam2 majas.
2. Kita akan tahu bahwa, mungkin beberapa dalam cerpen ini tidak cocok penggunaan majasnya, atau sebut saja gaya bahasanya tidak baik.
3. Kita akan sadar bahwa beberapa, mungkin bahkan bukan gaya bahasa, melainkan kesalahan bahasa. Salah menggunakan bahasa dan pemaknaannya.
4. Dengan begitu, kita jadi bisa membuat majas yg baik, yang padu dan khas, yang akan menjadikan karya kita khas.

(emang ada ya, majas yg baik & yg buruk?) ....... Mmmmhhhhhh......

Gimana ya?

Ok, untuk pertanyaan ini dan rincian pembahasan dua cerpen di atas, aku sambung tengah malem nanti. Semoga Tuhan mengizinkan.

Pendahuluannya cukup segitu dl. Bagi yg punya pendapat berbeda soal pengertian stilistika, silakan tunjuk tangan......

Note:
Ntar malem, kita sama cari contoh majas dalam dua cerpen ini.

asahan 06-09-2014 03:48 AM

kita lanjut...

sekarang kita coba menggali "sesuatu" dari dua cerpen itu, dengan analisis stilistika.

yang pertama kita gali dari Nusantara Berbadai. sebetulnya aku salah bila mengatakan fiksi ini cerpen. karena jelas-jelas ini cerber. dan salah besar bila aku masukkan cerber ini dalam "bahas cerpen mei 2014" bla..bla..bla... Tapi karena fiksi ini sangat dominan di bulan mei, makanya ketika beberapa kali membuka kekom, mataku langsung tertumbuk padanya. yang kumaksud dominan di sini adalah: 1). cerber ini ada beberapa seri yang bahkan belum abis sampe tulisan ini aku post. 2). dan tiap serinya panjang-panjang, relatif panjang dibanding cerpen yang ada di kekom. dan alasan yang utama is 3). bahasa khasnya mencolok, hingga mataku jadi pedih kalau cuma menatapnya tanpa mencoba membahasnya.

Nah, yang aku coba bahas terkhusus pada seri satunya. tapi bila keners lain ingin membahas seri-seri lainnya juga gak apa2.

Tadi aku bilang bahasa khas dari fiksi ini mencolok. itu emang benar (menurutku lho)... baru baca saja aku langsung disuguhin personifikasi.

"Ketika siang telah meredup lelah, ia menyerahkan kuasa pada senja."

tidak perlu kukatakan kalau penggunaan majas ini membuat kalimatnya lebih hidup. dan penempatan kalimat itu pada awal paragraf pertama membantu aku untuk menghidupkan imajinasiku untuk bersiap-siap menyongsong petualangan kalimat-perkalimat berikutnya, (halahhhh).

Lalu "Meski sudah cukup jauh, tapi tetap saja ratapan anak itu berhasil menyakiti para penduduk." kalimat terakhir paragraf dua ini hiperbolis banget. jelas ini membantu untuk menguatkan suasana imaji yang terbentuk di awal. disambung lagi dengan kalimat di awal paragraf selanjutnya, "Malam menjadi gonjang-ganjing dengan gunjing." di sini terlihat bahwa pengarangnya sengaja menyandingkan kata gonjang-ganjing dan gunjing. Mungkin untuk mempertahankan rima agar pengucapannya enak di lidah.

itu belum cukup. ditimpa lagi dengan simile di kalimat selanjutnya, "Sayup-sayup ratapan dan bisik benci berpadu mendayu-dayu; umpama mantra yang memanggil bulan untuk naik tahta, ...." (tanda titik koma di kalimat itu dari sononya lho).

lagi, metafora di kalimat akhir paragraf empat. "Karena ia tahu kegelapan-kegelapan yang kelak akan diternakkan oleh anak bernama Ibarin tersebut." penulis mungkin ingin mengatakan bahwa bocah Ibarin kelak akan mendatangkan atau menyebabkan petaka. Tapi penulis memilih menggunakan gaya bahasa yang lebih menggelitik.

masih banyak lagi sebenarnya, contoh2 kalimat yang menggunakan majas dalam fiksi ini. mungkin di setiap paragrafnya. gaya bahasanya, dan bahasa kiasannya bertaburan dimana-mana. coba keners perhatikan, dan mungkin akan sependapat dengan aku.

semua itu membangun sebuah tulisan yang membius kita untuk terus mengawang-awang, terus menekuni tiap kalimatnya. khas sekali. dan cara bertuturnya, sepertinya mirip sekali dengan aliran takdir (ali syahbana).

nah, ada yang beda pendapat gak?


NB: pembahasan lebih lanjut dan cerpen satunya di sambung besok, ya.
maaf bila ngepostnya sepotong2. soalnya konsentrasinya dibagi sama yang lain2, sehingga mikir dan ngetiknya gak bisa lama2.

d.a.y.e.u.h. 06-09-2014 01:00 PM

penjelasan yang sangat membantu pembaca awam supaya peka terhadap bahasa...

sebagian pembaca (seperti saya, misalnya) mungkin lebih mencari-cari apa yang mau diceritakan, ketimbang menikmati bagaimana cara menceritakannya (gaya bahasa) seperti yang hendak dipaparkan oleh asahan. justru dari gaya bahasa itulah kita merasakan keindahan bahasa.

lanjutkaaan :D

asahan 06-11-2014 12:52 PM

Quote:

Originally Posted by d.a.y.e.u.h. (Post 32965)
penjelasan yang sangat membantu pembaca awam supaya peka terhadap bahasa...

sebagian pembaca (seperti saya, misalnya) mungkin lebih mencari-cari apa yang mau diceritakan, ketimbang menikmati bagaimana cara menceritakannya (gaya bahasa) seperti yang hendak dipaparkan oleh asahan. justru dari gaya bahasa itulah kita merasakan keindahan bahasa.

lanjutkaaan :D


makasih, day

kalau cuma mencari-cari apa yang mau diceritakan saja (seperti kamu dan saya juga, misalnya), alih-alih menikmati bahasanya, kita cukup baca sinopsisnya aja. heheheh.

mungkin memang ada karya fiksi yang ringan-ringan saja, baik dalam tema maupun bahasanya, dan bisa dengan mudah dinikmati semua kalangan dan bisa dibaca cepat, dipahami cepat. sekali habis. atau tema yang populer dengan bahasa yang lebih populer, yang mudah diterima semua orang. Tapi ada beberapa penulis yang, mungkin menganggap dirinya sendiri, lebih sesuai menulis roman. bahkan ketika dia menulis genre fantasi pun, sangat kental nuansa roman. dan, biasanya roman itu terbiasa disandingkan dengan bahasa indah.

menurutku (berdasarkan ilmu-sok-tahu), penulis fiksi yang dibahas di atas ini tipe semacam itu. dia menulis bukan fantasi saja, tapi fantasi-roman.

gimana menurutmu, day?

asahan 06-11-2014 12:56 PM

ok, aku lanjutkan.

ralat: yang aku maksud "takdir (ali syahbana)" itu, maksudku Sutan Takdir (Alisjahbana).

di trit sebelumnya, aku pernah nanya, emang ada ya majas yg baik & yg buruk?...

mmhh gini, majas itu biasanya berfungsi untuk membahasakan apa yang ingin dimaksud penulis dengan cara tidak biasa. bukan dengan jelas dan lugas. tapi dengan mengganti, mengubah tatanan bahasa baku untuk menciptakan makna. (duh, jadi bingung sendiri).

dengan begitu, sebenarnya terserah penulis mau membahasakan bagaimana majas itu. Toh, seorang penulis fiksi tidak mutlak harus berpatok pada aturan-aturan baku. karena hal itu akan membunuh kreatifitas. justru diharapkan mampu menciptakan sesuatu yang baru yang akan memperkaya khasanah bahasa. bener gak sih?

tapi setidaknya, pemakaian gaya bahasa itu minimal dimengerti khalayak pembaca. dalam arti sesuai kaidah umum. kan sayang, kita menulis tapi pembaca tidak mengerti apa yang kita tulis.

aku contohin ya (maaf kalau sotoy).
"wajahnya cantik bagaikan lebah yang menghisap madu."

itu contoh majas simile. tapi bagaimana bentuknya, baik atau buruk? orang takkan mengerti wajah cantik yang seperti lebah menghisap madu itu, cantiknya bagaimana?


maksud dan pengertiannya, terserah anda.....



Tapi ada contoh lain. Yang mungkin kita akan sangat berbeda pendapat.


"Kamar yang kusewa, beraroma parfum perempuan dan gadis yang telah kehilangan mucous membrane-nya, serta dipadu dengan aroma idiosinkratis tubuhku. Namun sekarang, kedua Hawa itu telah pergi, hanya ada diriku beserta konfigurasi dari inkorporasi ganda esensial dan sintetis yang memenuhi setiap inci udara."

note: itu paragraf pertama dari cerpen Afair karya shin elqi. tulisan "mucous membrane-nya" dan "Hawa" dari sononya lho.

nah keners, kalau yang ini gimana pendapat kalian?


All times are GMT +7. The time now is 07:12 PM.

Powered by vBulletin® Version 3.8.1
Copyright ©2000 - 2019, Jelsoft Enterprises Ltd.