PDA

View Full Version : skenario sinteron vs novel


puang Anto
06-08-2010, 09:03 AM
Berikut adegan pada salah satu dari sekian banyak sinetron favorit ibuku: Tampak karakter perempuan antagonis dengan mimik berpikir, mulut terkatup, sendirian saja didalam kamar. Tiba-tiba terdengar suara narator menggemakan isi pikiran karakter bersangkutan (sebut saja namanya Agnes) :
“ Lihatlah nanti Sumi, Aku akan membuatmu menderita seumur hidup “

Lalu bandingkan dengan adegan yang sama (misalnya) dalam bentuk novel :

Tawa Sumi masih terdengar saat tubuhnya menghilang dibalik pintu. Agnes menggigit bibir. Tanpa sadar jemari tangannya mengepal. Dia menghirup, lalu menghembuskan nafas panjang berulang kali. Butuh waktu beberapa menit sebelum degup jantungnya kembali normal. Kemudian tangannya memencet nomor di HP-nya, hingga suara bariton terdengar diujung sana.
“ Halo “
“ Halo Dok, temui aku diklinik setengah jam lagi. Aku sudah punya rencana untuk mengenyahkan si Sumi “
Senyum tipis tersungging dibibir Agnes begitu ia memutus pembicaraan. (indonovel.com (http://indonovel.com) @2010)

Lihat. Penulis novel memakai prinsip terpenting dalam fiksi; show don’t tell (http://indonovel.com/show-dont-tell), untuk menunjukkan isi hati dan perasaan Agnes. Alih-alih memberitahu pembaca dengan kalimat; “ Agnes membenci Sumi dan bertekad akan membalas perlakuan Sumi dikemudian hari, “ penulisnya memilih membawa kita masuk ke dalam situasi cerita yang hidup. Penulis mendramatisasi perasaan benci Agnes. Pada akhirnya, pembaca boleh merasa menonton sinema, bukannya sedang membaca.

Sementara pembuat sinetron itu (sebut saja pijatPLUS production), yang seharusnya sangat mudah menampilkan sifat sinematik (kan sinema elektronik), malah mengambil jalan pintas dengan memberitahu (tell) lansung isi hati & pikiran Agnes kepada penonton. Mengapa dia tidak menampilkannya (show) lewat akting Agnes? ; pipi semburat merah, pupil mata membesar, bibir bawah digigit, alis bertaut, atau membiarkan adegan-adegan selanjutnya menunjukkan Agnes mengambil rupa-rupa tindakan guna membalaskan dendamnya kepada Sumi ? Memberitahu penonton hanya dilakukan oleh sutradara amatiran yang menganggap penontonya adalah orang bodoh yang tidak mampu mencerna cerita.
(Hayooo..,yang enggan dianggap orang bodoh sebaiknya berhenti menonton sinetron sekarang juga :D)

Memang tidak semua pemakaian narator berakibat buruk. Beberapa pemakaian narator berakhir gemilang di film-film Hollywood. Biasanya kita jumpai dibagian opening atau ending. Perhatikan; pada bagian opening dan ending !

Trik narator di opening bertujuan mengantar penonton memasuki cerita. Memberikan amunisi kepada penonton untuk mengetahui latar belakang karakter utama (atau perisiwa) yang tidak bisa dijelaskan semua kedalam film, berhubung durasinya terbatas. Tapi tidak pernah mendadak disisipkan ketika cerita sudah berlansung. Kecuali film itu memang dirancang menggunakan sudut pandang narator. Pemakaian sudut pandang narator yang konsisten dari awal sampai akhir bisa diterima akal sehat. Beda kasusnya jika muncul tiba-tiba menginterupsi adegan dipertengahan cerita. Membuat penonton merasa dikhianati mentah-mentah. (kasihan ibuku) :)

Asumsi saya, kejar tayang bisa jadi penyebab mengapa sinetron Indonesia menjelma tontonan buruk. Penulis skenario yang menerima tawaran dari sebuah PH tahu bahwa saat menandatangani kontrak, idealisme menjadi taruhannya. Begitu rating naik, produser akan meminta penulis skenario mengulur-ulur jalan cerita. Kalau perlu sampai episode ke-777 (Naudzubillah !). Dibawah tekanan deadline, penulis skenario sering tak punya daya selain menempuh jalan pintas, seperti dicontohkan kasus diawal tulisan ini. Benar kata orang bijak; waktu berbanding lurus dengan kualitas.

Lagi. Sinetron lagi-lagi berkhianat tepat didepan mata pemirsa setia seperti ibuku. Maka, tanpa pikir panjang kusambut ajakan bergabung di Group Gerakan 1.000.000 Facebooker Boikot Sinetron dari seorang temanku se-fesbuk. Seisi rumah kuperingatkan pula sesegera mungkin menjauhi tontonan bernama sinetron itu. Kecuali,
“ Jangan coba-coba pindahkan chanel ! “ kata wanita itu..
“ Tapi.., sinetron membuat orang bodoh “ kataku.
“ Siapa bilang ? Ibu Habibie saja menggemari Cinta Fitri kata infotainment. Jangan sok pintar kamu“ katanya.
Aku berhenti mendebatnya. Takut kualat. Sebab perlu kawan semua ketahui, surga yang kuidamkan berada dibawah telapak kaki wanita pecandu sinetron itu..

heinz
06-08-2010, 10:07 AM
Bravo!

Aku juga benci total ama sinetron terutama yang baru saja berumur 777 itu. Sama sekali tidak mendidik dan tanpa idealis. Tapi ya ratingnya bagus terus dan penonton setianya ada terus, jadi ga pernah berenti. Toh kalo berenti dengan segera akan muncul penggantinya.

Bahkan gaya eneg begini sering kali ikut tertular ke layar lebarnya yang kehoror-hororan dan keporno-pornoan itu.

Chie_chan
06-08-2010, 10:38 AM
Bravo!

Aku juga benci total ama sinetron terutama yang baru saja berumur 777 itu. Sama sekali tidak mendidik dan tanpa idealis. Tapi ya ratingnya bagus terus dan penonton setianya ada terus, jadi ga pernah berenti. Toh kalo berenti dengan segera akan muncul penggantinya.

Bahkan gaya eneg begini sering kali ikut tertular ke layar lebarnya yang kehoror-hororan dan keporno-pornoan itu.

Cinta Fitri.... kekeke. almarhumah istrinya habibie suka loh! :p
.
saia sih gak suka sinetron apapun. tapi ssw sebetulnya lumayan oke.

Penguin
06-08-2010, 05:56 PM
Saya suka post mas puang ini :) saya tahu tuh sinetron yang puang sebut. hehehe.... itu ceritanya heran saya, licik kok dilawan licik. Si antagonis licik, si protagonis juga licik. hadeh.... mending tekniknya keren, atau minimal tekniknya gak usah dijelasin sampe berhasil dulu (jadi kayak sodara saya si Holmes sama adeh saya Detektip Conan :D )

Saya setuju sama puang tuh. Untungnya di rumah saya gak ada yang suka nonton sinetron gaje kayak gitu. Kecuali kalau memang aneh atau mau dijadiin bahan tertawaan (kayak sinetron yang disebut puang diawal).

Masalah rating, padahal lebih bagus kalau sinetron itu justru segera ditamatkan. Jadi penonton masih punya kesan baik terhadap sinetron itu, daripada jumlah episodenya dipanjang-panjangkan sampe akhirnya tamat saat dah gak ada penonton lagi. Kalau segera ditamatkan, kalaupun mau ditayangkan ulang, penonton gak kecewa.

btw kita ngomong gini padahal kita belum bikin sinetron... bikin yuk!

Shinichi
06-09-2010, 08:52 AM
Yang paling konyol saia rasa dari sinetron, yang itu-itu aja adalah, orang baik, baiknya kek malaikat banget. Pun yg jahat, jahatna gak ketulungan.

Nggak ada sisi lain, bahwa setiap orang punya sifat buruk, sifat baik, yang menurut saia bakal mengaduk emosi pemirsa.

BDW, saia benci sinetron. Tapi, mama saia sukak. Ahak hak hak. Tapi, menilik kalimat akhir di thread ini, saia pikir, bukan karena surga di telapak kakinya makanya dia gak bisa dilawan. Debat itu positif kan? Bisa2, surgana yg kebawak ke neraka sekalian.

Ahak hak hak


Tapi, saia tau itu selera humor yang menarik, Mas Anto

Salam


Ahak hak hak

smith61
06-09-2010, 11:40 AM
Ahh seandainya surga ada di ketiak saya

Penguin
06-09-2010, 03:13 PM
Ahh seandainya surga ada di ketiak saya
kasian sama yang mau masuk surga. di telapak kaki aja udah nahan-nahan iman :)

Shinichi
06-09-2010, 05:32 PM
Ahh seandainya surga ada di ketiak saya
beneran mau, Semit? denger2 beberapa ibu malah gak sanggup menerima kenyataan bahwa surga di telapak kakinya lho? mereka malah (tuttt) dan (tuttt). Problema kehidupan mungkin menjadi masalah (tuuutt).


yahh... kek gitu deh

smith61
06-10-2010, 08:43 AM
beneran mau, Semit? denger2 beberapa ibu malah gak sanggup menerima kenyataan bahwa surga di telapak kakinya lho? mereka malah (tuttt) dan (tuttt). Problema kehidupan mungkin menjadi masalah (tuuutt).


yahh... kek gitu deh

waaah ternyata efek punya surga di telapak kaki adalah KENTUT KENTUT

Shinichi
06-10-2010, 09:07 AM
waaah ternyata efek punya surga di telapak kaki adalah KENTUT KENTUT
Itu disensor maksudna? Ahak hak hak

:D

Penguin
06-10-2010, 04:53 PM
diskusi yang makin lama makin mendidik :D

Gladiss Gazelle
06-11-2010, 12:26 PM
Untung ibu saya lebih memilih menonton Naruto dibanding sinetron wakakaka walauapun kata ibu saya naruto kaya sinetron panjang banget hingga akhirnya ibu saya mematikan TV nya :p dan beralih ke laptop untuk menonton MARIMAR MOMOYPALABOY ^^V

beruntunglah orang orang sperti saya.... :D
*piisssss

Penguin
06-11-2010, 10:53 PM
yah, beruntung sekali dirimu, nak. Saya malah disuruh cuci piring. beuh...

someonefromthesky
06-12-2010, 03:02 PM
Sementara pembuat sinetron itu (sebut saja pijatPLUS production), yang seharusnya sangat mudah menampilkan sifat sinematik (kan sinema elektronik), malah mengambil jalan pintas dengan memberitahu (tell) lansung isi hati & pikiran Agnes kepada penonton. Mengapa dia tidak menampilkannya (show) lewat akting Agnes? ; pipi semburat merah, pupil mata membesar, bibir bawah digigit, alis bertaut, atau membiarkan adegan-adegan selanjutnya menunjukkan Agnes mengambil rupa-rupa tindakan guna membalaskan dendamnya kepada Sumi ? Memberitahu penonton hanya dilakukan oleh sutradara amatiran yang menganggap penontonya adalah orang bodoh yang tidak mampu mencerna cerita.


Saya rasa salah satu masalahnya adalah kemampuan akting si pemeran. Apakah aktor dan aktris sinetron "mampu" untuk menunjukkan ekspresi yg sesuai? Atau mereka memang tidak pandai akting, jadi jalan pintasnya adalah membuat "suara hati telepatik" itu tadi.

Gladiss Gazelle
06-12-2010, 08:57 PM
yah, beruntung sekali dirimu, nak. Saya malah disuruh cuci piring. beuh...

ada apa dengan dunia LAKI LAKI nyuci piring???? :eek: BAGUS :D (tipe suami impian :p wanita malas)
Betapa beruntungnya saya cuma disuruh sikat wc ......

dirgita
07-02-2010, 05:47 PM
Yap, satu hal yang nggak enak (untukku) dari sebuah sinetron. Kalo karakternya udah sendirian, suka ngomong sendiri.

Contoh, dong, sinetron Satria. Pendek banget ceritanya. Meski pun aksinya rada keteteran^^

Penguin
07-03-2010, 11:53 AM
ah, itu, baru inget. Ada yang saya sering heran sama film-film laga kita, mau yang cersil atau yang kayak sinetron Satria itu, kenapa saat tokohnya lagi berkelahi, malah lebih sibuk si kameramen gerakin kamera ya?? Mukulnya gak seberapa kameranya udah bolak-balik -_-

dirgita
07-03-2010, 12:54 PM
Jika dibandingkan dengan novel, menurutku skenario sinetron lebih banyak mendapat tekanan. Mulai dari selera pasar, jadwal syuting, tuntutan produser, tuntutan sutradara, lokasi syuting yang tiba-tiba berubah, dan lain-lain.

Aku pernah baca blognya Kinoysan, beliau sempat "gontok-gontokan" sama sutradara karena lokasi syuting ternyata pindah. Aku yakin, penulis-penulis skenario itu ingin menghadirkan cerita yang bagus, tetapi karena budaya sinetron kita kini sudah menjamah budaya "kejar tayang", mereka akhirnya terpaksa membuat "apa adanya".

Bayangin aja kalau novel juga harus "kejar tayang"^^

herjuno
07-04-2010, 08:37 AM
Bayangin aja kalau novel juga harus "kejar tayang"^^

Lha, deadline novel tu bukannya kejar tayang?

dirgita
07-04-2010, 08:58 AM
Deadline-nya novel yang saat ini berlaku ibaratnya deadline skenario sebuah film. Bayangin aja kalau harus berubah jadi seperti deadline sinetron kejar tayang. Setelah kelar, seminggu lagi harus jadi yang lain^^

Penguin
07-05-2010, 08:19 PM
mending kalau seminggu lagi, itu kan periodenya kayak komik (naruto terbit tiap chapternya seminggu sekali, kan?). Sinetron sekarang kan sehari mesti beres skenario baru. Malah belakangan saya jadi mikir, sebenernya ada gak sih skenarionya?? *kebingungan*

Shinichi
07-10-2010, 11:33 AM
mending kalau seminggu lagi, itu kan periodenya kayak komik (naruto terbit tiap chapternya seminggu sekali, kan?). Sinetron sekarang kan sehari mesti beres skenario baru. Malah belakangan saya jadi mikir, sebenernya ada gak sih skenarionya?? *kebingungan*
Kekna kagak deh, Peng. Soalna skenario mereka terpengaruh, misal sama kontrak. Jadi, klo ada yg putus kontrak, cerita jd berubah. Misal tokoh utama yg putus kontrak dibikin luka bakar sampek operasi plastik. Ahak hak hak.

Yah, skenariona mungkin ada atuk yg pertama kali dikasiin ama para pemain, tp kata kerenna DINAMIS gitu. Nah, di belakang naskah itu ada kalimat "Skenario bisa berubah-ubah sesuai dengan permintaan pasar dan kondisi internal yang tak bisa dijelaskan secara rinci.

Jadi, ceritana lebih fleksibel. Ahak hak hak.

tapi, saia jd penasaran, apa para pemeran sinetron itu gak menonton sendiri aksi mereka di layar kaca ; melihat kekonyolan mereka, atau hasil "jerih payah" mereka itu.

Ahak hak hak


Hidup sinetrooonnn!!!!

Ahak hak hak

Penguin
07-10-2010, 07:58 PM
aha. sudah terkonfirmasi bahwa 'skrip' yang sering disebut para artis sinetron beda dengan skrip skenario. 'skrip' buat mereka lebih ke catatan urutan kejadian, diberikan 10 menit sebelum shooting mulai. Pantesan para artis sinetron kok kayaknya gak pernah ngafal skenario di rumah -__-

Shinichi
07-10-2010, 09:05 PM
aha. sudah terkonfirmasi bahwa 'skrip' yang sering disebut para artis sinetron beda dengan skrip skenario. 'skrip' buat mereka lebih ke catatan urutan kejadian, diberikan 10 menit sebelum shooting mulai. Pantesan para artis sinetron kok kayaknya gak pernah ngafal skenario di rumah -__-
makana artis "sinetron" mah gak cukup mutu. saia aja klo ada sutradara yg mo nampung bisa kok meranin apa yg mereka mintak. wong tinggal membelalakkan mata doang, atau nangis, mewek2 kek bebek. ahak hak hak.


turunkan harga!

ahak hak hak

Penguin
07-11-2010, 02:49 PM
ckckckck.... mau sampai kapan sinetron kita seperti ini??


stop monopoli harga ayam!!

:D

Shinichi
07-12-2010, 11:53 AM
ckckckck.... mau sampai kapan sinetron kita seperti ini??


stop monopoli harga ayam!!

:D
kekna dunia sinetron menunggu kamu dan saia, Peng.

ahak hak hak

kasian mereka, yg ditunggu (saia) gak punya cukup kemampuan dan kemauan buat dateng.

ahak hak hak

Penguin
07-12-2010, 03:55 PM
kalau begitu... harapan mereka... ada di pundak saya!!
*lagi demam superhero*

Shinichi
07-12-2010, 07:40 PM
kalau begitu... harapan mereka... ada di pundak saya!!
*lagi demam superhero*
Ahak hak hak. Asyik yak jd superhero. Diandalin bawak beban di pundakna. Ahak hak hak.

Bdw, soal Superhero, saia demen ama Hancock lho... Haiyah. OOT lagi.

Ahak hak hak

Penguin
07-13-2010, 09:40 PM
Ahak hak hak. Asyik yak jd superhero. Diandalin bawak beban di pundakna. Ahak hak hak.

Bdw, soal Superhero, saia demen ama Hancock lho... Haiyah. OOT lagi.

Ahak hak hak

aaa saya juga suka hankok. trus juga batman, spiderman, superman, suparman (lho??)

*OOT Continues....*

Shinichi
07-13-2010, 11:56 PM
aaa saya juga suka hankok. trus juga batman, spiderman, superman, suparman (lho??)

*OOT Continues....*
batman sama superman gak seru. tipikal superhero yg ada karena bisa.

ahak hak hak

hidup sepiderman sama suparman <<< ini tukang bakso bukan?

ahak hak hak

Penguin
07-15-2010, 09:16 PM
hidup sepiderman sama suparman <<< ini tukang bakso bukan?

ahak hak hak

bukan, mereka tukang ledeng di sebelah rumah :D