PDA

View Full Version : (bagian 2) Mungkinkah Menulis Fiksi Dalam 100 Kata ?


puang Anto
05-05-2010, 03:07 PM
(Sambungan dari bagian 1 (http://www.kners.com/showthread.php?t=528))

Bila dilihat sepintas lalu, sepertinya kedua syarat pokok diatas malah menyulitkan, alih-alih memudahkan kita menulis cerita fiksi kedalam 100 kata.
Tapi tidak juga..

Ada satu kebiasaan laten penulis fiksi; cenderung tidak sadar menganggap bodoh para pembacanya. Maka, pembaca pun dijejali informasi sebanyak-banyaknya, sejelas-jelasnya, supaya bisa mengerti apa maksud sang penulis.

Persepsi ini sungguh tidak adil buat pembaca. Sebuah tulisan semata wadah dialogis antara penulis dengan pembacanya dalam semangat kesetaraan. Saat tulisan dipublikasikan, itu tidak lagi menjadi milik penuh siapapun. Pembaca juga ingin terlibat & dilibatkan disetiap adegan. Pembaca ingin mengidentifikasi dirinya sebagai salah satu karakter didalam cerita bermodal imajinasinya sendiri. Maka, imajinasi penulis tidak boleh mendominasi cerita hingga menutup ruang keikutsertaan mereka.

Mari kita liat contoh kasusnya pada flash fiction (http://www.rdvillam.com/2008/10/teman-menulis/)Mabuk :
“ Pelayan, ambilkan saya bir satu gelas lagi! “ teriak seorang pelanggan bar dimeja sudut pada waitress sambil mengangkat gelasnya yang telah kosong

Saya menulis adegan diatas pada draft awal. Saat pengeditan akhir, saya menghapus lalu menggantinya dengan adegan :
“ Lagi ! “

Bisa dilihat, dari 21 kata susut hingga tinggal 1 kata saja. Sangat signifikan. Setelah anda membaca flash fiction (http://antojournal.com/category/flash-fiction/) Mabuk secara keseluruhan, kuharap anda bisa memaklumi penciutan itu.

Bagaimana caranya ? Berikut hal-hal yang saya lakukan pada contoh diatas :

1. Kata teriak diganti/diwakili dengan tanda seru. Menghadirkan keduanya bersamaan itu redundansi. Pembaca punya referensi bahwa tanda seru merupakan petanda karakter pemakainya bersuara keras (berteriak).

2. Kalimat yang mengandung kata keterangan dihilangkan. ‘Teriak seorang pelanggan bar dimeja sudut pada waitress sambil mengangkat gelasnya yang telah kosong ‘. Pelanggan meminta tambahan bir tentu disebabkan isi gelasnya telah habis. Tapi tak mengapa jika anda bersikeras menjelaskannya pada pembaca, karena tulisan tersebut –kemungkinan besar- pada akhirnya hanya akan dibaca oleh anda sendiri (penulisnya) :D.

3. Kalimat/adegan pertama ibarat kail. Ibarat teras rumah yang menarik tamu agar melongok kedalam. Adegan ‘Lagi !’ saya pilih karena lebih mengundang rasa penasaran. Itu berimplikasi konflik & ketegangan. Sangat potensial memicu rasa ingin tahu.

4. Adegan ‘Lagi !’ lebih melibatkan pembaca. Menyeretnya masuk kedalam situasi. Memberikan pengantar/latar belakang rasa-rasanya seperti mengkhianati pembaca. Sabar & tunggu sampai pembaca masuk ke kalimat selanjutnya; ‘ ….Waitress melangkah gontai kearahnya..’ Hap ! Pembaca lansung menangkap apa situasi yang sedang terjadi. Seseorang berteriak ‘ Lagi !’ dan seorang waitress merespon panggilan keras itu, dimana lagi isituasi semacam ini lazim terjadi kecuali di bar ? Pembaca gembira karena penulis bermurah hati menghadiahinya kemewahan, sebuah ruang berimajinasi;
Aha ! Ini pasti terjadi disebuah bar !

Penulis pun terhindar dari godaan memboroskan kata-kata di bagian pengantar cerita Latar belakang cerita tidak serta merta hilang, itu tetap ada. Alih-alih menuliskannya, kita meminjam isi kepala pembaca untuk menyimpan latar belakangnya. Biarkan pembaca hadir/ada dengan membuat mereka berpikir. Seperti kata Rene Descartes, Cogito Ergo Sum.

5. Satu kata, yaitu Waitress, mewakili hadirnya karakter sekaligus setting. Teknik okulasi ini sangat bermanfaat buat para penulis flash fiction. Contoh lain yang bisa dipakai adalah : Room Boy (hotel), Guru (ruang kelas), Koki (dapur) dan sebagainya. Kalau Moderator (forum online) bisa gak yah ? ;).

6. Dua kata pertama saja, ‘ Lagi ! ’ & Waitress, sudah bisa memenuhi syarat wajib hadirnya Konflik, Karakter & Setting. (Resolusi tentu saja kita simpan diakhir cerita :rolleyes:. Pada contoh diatas, kata ‘ Lagi !’ juga menyuratkan keberadaan satu sosok karakter meski tidak tersebut gamblang.

Penulis fiksi yang baik senantiasa menempatkan pembaca lebih sebagai teman dialog ketimbang objek belaka. Seni menulis flash fiction (link kategori flash fiction) banyak mengajarkan kita tentang nilai kejujuran dan kesederhanaan, sebagaimana makna sejati cerita fiksi itu sendiri, “Cerita fiksi itu cuma 6 kata, selebihnya hanya imajinasi (Ernest Hemingway (http://indonovel.com/resensi-novel-ernest-hemingway))’. Hemingway –interpretasi saya – tidak memaksudkan imajinasi itu hak penulis seorang, itu milik bersama penulis dan pembacanya.

Inti cerita fiksi terletak pada 6 kata saja – kapan waktu saya akan posting artikel mengenai ini-, hanya sebuah aliran cerita sederhana, jelas, padat, to the point, tanpa kehadiran kata-kata imajinatif yang tidak berkontribusi mendorong majunya cerita.

“ Kalimat harus tidak mengandung kata-kata yang tidak perlu, paragraf tanpa kalimat yang tidak perlu, karena alasan yang sama bahwa sebuah gambar seharusnya tidak perlu garis dan mesin tidak ada bagian yang tidak perlu. (William Strunk, Jr, The Elements of Style) “

“ Tapi ini sastra bung ! Nilai seninya terlihat pada banyaknya untaian kata-kata indah; Ombak menari tingkahi kicau camar melayang disela desau angin menyanyi bersama arakan awan bermotif seulas wajah gadis yang kerap membuat setiap malam(ku)terjaga….bla..bla..bla.. “ protes puang Anto (http://twitter.com/antoRusdianto/)

Halah, puang Anto kelaut aja ! :D

Penguin
05-05-2010, 09:06 PM
emm... saya suka dengan penjelasannya. Intinya adalah kalimat efektif, kan? tapi ada juga yang saya bantah. Penulis fiksi menjelaskan suatu situasi sejelas-jelasnya bukan bermaksud menganggap pembaca adalah orang bodoh. Itu tidak adil bagi penulis :).

Munurut saya, menjelaskan situasi secara detil bisa membuat pembaca semakin masuk kedalam cerita. Contohnya, menyebut si pelayan sebagai "waitress" memang secara singkat menyebutkan adanya pelayan (tokoh lain, jadinya), bar, dan keadaan sekeliling. Tapi saya sendiri (pembaca) merasa belum berada di dalam bar tersebut. Kalau kita tulis keadaan sekitar, misalnya (sesuai contoh diatas), "teriak seorang pelanggan bar dimeja sudut pada waitress sambil mengangkat gelasnya yang telah kosong," saya jadi merasa seakan-akan berada di dalam bar tersebut, dan melihat kejadiannya secara langsung.

Btw, bukan berarti saya suka mendetilkan sedetil-detilnya sebuah detil (hadeh...). Ada beberapa hal yang tidak perlu dijelaskan. Kalimat "Pelayan, ambilkan saya bir satu gelas lagi!" dirubah jadi "Lagi!" itu contohnya.

neko-man
05-06-2010, 06:48 AM
kalau menurutku itu masalah pentingnya atau menariknya bagi pembaca. misal, kalau baju pelayan bar itu unik dan berpengaruh pada tokoh utama dan kelanjutan cerita, perlu ditulis. Atau pakaian itu sangat konyol. Sebaliknya kalau hal itu tidak penting dan tidak menarik. Tidak perlu ditulis. Paling bagus adalah banyak kata dan tidak membuat pembaca merasa bosan dan buang-buang waktu. Jadi harus ada harmoni antara penceritaan. Peace.